Manfaat Bersiwak Gigi dan Hukumnya

Siwak dalam bahasa Arab berarti menggosok, sedangkan menurut arti syar’i adalah menggosok gigi dan sekitarnya dengan suatu benda yang kasar (yang bisa menghilangkan kotoran gigi dan sisa makanan).

Adapun keutamaan memakai siwak banyak sekali diutarakan oleh Nabi SAW, diantaranya hadits-hadits Nabi SAW berikut ini:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ

“Jika aku tidak takut memberatkan umatku niscaya aku perintahkan mereka memakai siwak setiap kali akan melaksanakan sholat. (Hadits Riwayat Imam Bukhori dan muslim)

السِّوَاكُ مُطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ وَمَجْلاَةٌ لِلْبَصَرِ

“Memakai siwak itu mengharumkan mulut, membuat rela Allah kepada kita dan membuat terang mata. (Hadits Riwayat Imam Ahmad dan An Nasai)

Hukum bersiwak pada asalnya adalah sunnah akan tetapi terkadang bisa menjadi wajib, makruh bahkan haram dan lain-sebagainya. Sebagai mana hal itu dijelaskan dibawah ini:

1. Wajib,
Terkadang bersiwak itu hukumnya wajib dalam tiga masalah dibawah ini :

i).  Jika tergantung kepada penggunaan siwak hilangnya suatu najis, misalnya jika dia makan sesuatu yang najis lalu sebagian makanan tersebut terselip diantara giginya dan tidak dapat hilang kecuali dengan menggunakan siwak maka hukumnya bersiwak saat itu adalah wajib.

ii). Jika dia seorang laki-laki yang berkewajiban melaksanakan sholat Jum’at, lalu dia sengaja memakan sesuatu yang menyebabkan mulutnya berbau, misalnya karena makan bawang mentah dan lain-lain, maka bau mulutnya tersebut harus dihilangkan sebelum berangkat untuk sholat Jum’at karena hal itu dapat menganggu orang yang duduk di sekitarnya. Dan jika tidak dapat hilang kecuali dengan menggunakan siwak maka hukumnya bersiwak saat itu hukumnya wajib, dan jika setelah bersiwak pun belum hilang juga maka hukumnya dapat diperinci sebagai berikut, jika dia memakannya dengan sengaja maka tetap dia wajib melaksanakan sholat Jum’at akan tetapi dia duduk paling belakang tidak berkumpul dengan orang, supaya tidak mengganggu orang-orang yang duduk disekitarnya. Adapun jika memakannya tidak disengaja misalnya karena dijamu oleh seseorang, maka tidak wajib atasnya sholat Jum’at akan tetapi tetap dirumahnya dan sebagai gantinya dia laksanakan sholat dzuhur di rumahnya.

iii). Jika dia bernadzar untuk bersiwak ketika sholat, wudlu’ dan lain-lain, maka dia wajib laksanakan nadzarnya tersebut, maka dalam tiga hal tersebut hukumnya wajib bersiwak.

2. Sunnah,
Sebagaimana diketahui bahwa asal hukum dari bersiwak adalah sunnah. Jadi bersiwak dalam segala keadaan kapanpun hukumnya sunnah. Cuma dalam beberapa keadaan menjadi lebih kuat kesunnahannya diantaranya pada keadaan keadaan berikut ini :

Ketika berwudlu’
Ketika akan sholat
Ketika sekarat
Ketika akan membaca Al Quran
Ketika akan membaca hadits Nabi SAW
Ketika akan membaca kitab kitab ilmu agama
Ketika bau mulut berubah
Ketika akan memasuki rumah
Ketika akan tidur
Ketika bangun dari tidur.

3. Makruh,
Bersiwak setelah masuknya waktu sholat Dzuhur pada saat kita sedang berpuasa baik puasa wajib atau sunnah, karena hal itu akan menghilangkan bau mulut orang yang sedang berpuasa, yang mana dalam agama dianjurkan untuk tidak dihilangkan.

4. Khilaful aula,
Hukum khilaful aula sama dengan hukum makruh akan tetapi lebih rendah dari makruh, yaitu jika bersiwak menggunakan siwak orang lain dengan izinnya. Itupun jika tanpa niat tabarruk, adapun jika dengan niat tabarruk maka hukumnya sunnah.

5. Haram,
Jika bersiwak menggunakan siwak orang lain tanpa seizin darinya dan tidak yakin dia akan rela meminjamkannya jika dia mengetahuinya.

Derajat Alat yang Digunakan untuk Bersiwak

Menggunakan alat apapun untuk bersiwak hukumnya sunnah baik dengan menggunakan kayu arok (yang biasa dibawa oleh para haji dari tanah suci), sikat gigi, dan lain-lain yang penting alat itu kasar dapat menghilangkan kotoran-kotoran gigi dan kuning-kuningnya. Dan Asalkan dengan niat mengikuti sunnah Rosul maka kita akan mendapatkan pahala dari bersiwak itu. akan tetapi jika kita menggunakan kayu arok lebih sunnah dari segi karena Nabi صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ menggunakannya ketika beliau bersiwak. Maka Lebih jelasnya lihatlah derajat alat untuk digunakan sebagai siwak dari segi afdloliah (yang lebih utama) yaitu sebagai berikut:

1. Dengan kayu arok (yang terdapat di negara arab yang biasa dijadikan hadiah oleh para haji dari tanah suci),

2. Dengan kayu yang diambil dari pelepah kurma yang tidak tumbuh daun sekitarnya. Dan diriwayatkan bahwa Nabi صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ bersiwak terakhir kali sebelum beliau wafat menggunakan kayu dari pelepah pohon kurma,

3. Dengan kayu pohon zaitun. Sebagimana sabda Nabi صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ I “نِعْمَ السِّوَاكُ الزَّيْتُوْن مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ تُطَيِّبُ الْفَمَ وَتُذْهِبُ بِالْحُفر وَهُوَ سِوَاكِي وَسِوَاكُ الأَنْبِيَاء مِنْ قَبْلِي (رواه الدارقطني

“Sebaik-baik siwak adalah dari pohon zaitun dimana pohonnya membawa barokah dapat mengharumkan bau mulut dan menghilangkan lubang gigi dan itu adalah siwakku dan para siwak para Nabi sebelumku”. (Hadits Riwayat Imam Ad Daruqutni)

4. Menggunakan siwak yang masih basah,

5. Menggunakan siwak yang kering.

Dan setiap alat siwak tersebut diatas itu mempunyai 5 derajat lainnya dari segi basah tidaknya siwak yang kita gunakan, yaitu sebagai berikut:

Siwak yang dibasahi sebelumnya dengan menggunakan air.
Siwak yang dibasahi sebelumnya dengan menggunakan air mawar.
Siwak yang dibasahi sebelumnya dengan menggunakan air ludah.
Siwak yang masih basah.
Siwak yang kering tidak basah.

Maka macam-macam siwak tersebut diatas yang paling afdlol digunakan dari segi alat siwaknya mempunyai lima martabat lainnya dari segi basah dan keringnya, misalnya kayu arok yang dibasahi dengan air lebih afdlol dari kayu arok yang dibasahi dengan air mawar, dan kayu arok yang dibasahi dengan air mawar lebih afdlol dari kayu arok yang dibasahi dengan air ludah, dan kayu arok yang dibasahi dengan air ludah lebih baik dari kayu arok yang masih basah, dan kayu arok yang masih basah lebih baik dari kayu arok yang sudah kering, begitu pula siwak yang terbuat dari pelepah kurma, atau kayu zaitun dan lain-lain mempunyai lima martabat dari segi basah atau keringnya kayu kayu itu jadi jumlah keseluruhannya adalah dua puluh lima martabat dalam menggunakan alat alat siwak tersebut.

Sedangkan cara yang sunnah dalam memegang siwak adalah dengan cara menjadikan jari kelingking dari tangan kanan di bawah ujung paling bawah dari siwak tersebut, dan jari manis, jari tengah dan jari telunjuk diletakkan di atasnya sedangkan ibu jarinya diletakkan di bawah ujung paling atas dari siwak itu.

Dengan bersiwak maka di antara faedah-faedahnya adalah :

• Di ridhai oleh Allah Ta’aala
• Memutihkan gigi
• Menyegarkan bau mulut
• Meratakan punggung
• Menguatkan gusi
• Memperlambat ketuaan
• Membersihkan perangai
• Menambah kecerdasan
• Melipatgandakan pahala ibadah
• Mempermudah sakarat maut.

Dan menjalaninya secara rutin berfaedah :

• Mengingatkan akan syahadat saat ajal tiba
• Mendatangkan kelapangan dan kekayaan
• Memperlancar rizki
• Membuat nyaman mulut
• Meminimalisir sakit kepala
• Menghilangkan segala kotoran dan lendir yang ada dikepala
• Menguatkan gigi
• Mempertajam penglihatan
• Menambah pahala kebaikan
• Menggembirakan malaikat, ia sambut orang yang menjalani shalat dengan bersiwak dengan cahaya pada mukanya dan ia sertai saat keluar dari shalatnya
• Membuat menerima buku catatan amal saat di akherat dengan tangan kanan
• Menghilangkan penyakit kusta
• Membuat harta berkembang
• Membuat banyak keturunan
• Menjadi penghibur saat dalam kuburnya kelak
• Membuat rupa malaikat maut saat ajalnya tiba dengan rupa yang baik.

Demikian semoga bermanfaat dan diamalkan.

Referensi ; beberapa sumber di antaramya :
I'anatutthalibin Hal 44 Juz 1 Cet Haramain.
وله فوائد كثيرة، أوصلها بعضهم إلى نيف وسبعين.
منها: أنه يطهر الفم، ويرضي الرب، ويبيض الأسنان، ويطيب النكهة، ويسوي الظهر، ويشد اللثة، ويبطئ الشيب، ويصفي الخلقة، ويزكي الفطنة، ويضاعف الأجر، ويسهل النزع، ويذكر الشهادة عند الموت.
وإدامته تورث السعة والغنى وتيسر الرزق، وتطيب الفم، وتسكن الصداع، وتذهب جميع ما في الرأس من الأذى والبلغم، وتقوي الأسنان، وتجلي البصر، وتزيد في الحسنات، وتفرح الملائكة وتصافحه لنور وجهه وتشيعه إذا خرج للصلاة، ويعطى الكتاب باليمين، وتذهب الجذام، وتنمي المال والأولاد، وتؤانس الإنسان في قبره، ويأتيه ملك الموت عليه السلام عند قبض روحه في صورة حسنة.

Silakan share semoga bermanfaat!

No comments

Powered by Blogger.