Bersama Kami di Auliya Travel

Masya Allah.. Wahabi Dengan Fatwa Paling Asusila, Halal Onani Dan Masturbasi

Nafsu ingin melakukan atau mengeluarkan sperma bagi laki-laki dan ovum bagi perempuan dengan sendirinya tanpa proses persetubuhan (jimak) yang wajar disebut dengan Onani atau Masturbasi. Keinginan tersebut terjadi tatkala syahwat telah memuncak akan tetapi tidak ada tempat penyalurannya sehingga otomatis menggunakan media /alat bantunya untuk melampiaskan maksudnya.

Dasar hukum syariat menurut mazhab Syafi'i melakukan onani / masturbasi adalah haram, walaupun ada pendapat yang membolehkannya namun hanya pada kondisi mencegah dari terjerumus kedalam mudharat yang lebih besar, yaitu zina.

Lalu adakah kategori seseorang yang melakukan onani / masturbasi itu hanya ingin menyelamatkan imannya agar terhindar dari perbuatan zina? Jika memang pada kondisi terjepit atau darurat dan tidak ada jalan lain agar terhindar dari perbuatan keji (zina) maka onani / masturbasi dibolehkan karena bila tidak dilakukannya dikhawatirkan akan terjerumus kedalam perbuatan yang lebih keji.

Jangan mentang-mentang sudah dibolehkan lalu seseorang pun datang mengakal-akali alasannya yang ingin melakukan onani / masturbasi karena mencegah diri dari perbuatan keji (zina). Padahal seseorang itu tidak sedang dihadapkan pada darurat bahkan mempunyai kesempatan luas untuk mengindarinya.

Ada keanehan bagi orang-orang yang mengaku diri beriman tapi membolehkan onani /masturbasi bahkan menyuruh memakai media yang lembut agar mudah terangsang dan tidak merusaki kemaluannya.
Kini, kehebatan fatwa porno yang dibalut dengan kalimat syar'i datang dari para masyâikh Salafi / Wahabi dipersembahkan buat akhawat Wahâbiyat-Salafiyat yang kesepian atau kurang mendapatkan kepuasan seks. Mungkin suami atau istri nya terlalu sibuk di luar baik urusan dunia maupun akherat, bagi mereka para imam Salafi telah meramu fatwanya untuk menghalalkan onani / masturbasi menjadi 'halalan thoyyiban".

Syeikh Nashiruddin Albani salah seorang ulama Salafi / Wahabi yang mengangkat permasalahan ini hingga menjadi jelas bahwa Wahabi membolehkan onani / masturbasi tersebut menjadi halal.
Sesuai dengan kitab rujukan meraka, perhatikan fatwa di bawah ini yang disajikan oleh salah seorang ulama kultusan Wahhabi yakni Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Badai’ul Fawaid :

Pasal tentang Onani dari Wahabi yaitu jika seorang wanita tidak bersuami yang syahwatnya memuncak, maka sebagian ulama kami berkata :
“Boleh baginya mengambil kulit lunak yang berbentuk batang dzakar atau mengambil ketimun atau terong berukuran mini lalu ia masukkan ke dalam (ma’af) kemaluannya".

Masya Allah, sungguh umat Islam ini telah dibawa oleh mereka-mereka yang jahil dalam berilmu hingga merusak tatanan Islam kepada kehancuran secara perlahan-lahan.

Ketahuilah wahai umat Islam, onani / masturbasi itu dasar hukumnya adalah haram, setiap perbuatan haram itu tentu memiliki mudharat. Semua hal yang telah diharamkan oleh Allah SWT pasti mengandung unsur negatif didalamnya. Agar pribadi muslim dapat lebih yakin dan mantap menjauhi hal-hal terlarang seperti onani /masturbasi ini maka tak ada salahnya juga diketahui apa-apa saja efek resiko bahaya-bahaya dari onani tersebut.

Maka jangan cepat terpengaruh dan percaya terhadap yang mengatakan onani / masturbasi tidak berbahaya, karena hal tersebut menyalahi dan menyimpang, di antaranya :

-1) Menyalahi hukum Tuhan.
-2) Bertentangan dengan hasil kajian ilmiyah dan ilmu kesehatan.
-3) Propaganda orang-orang Non Islam yang ingin menjerumuskan generasi islam dalam perbuatan yang menjijikkan dan diharamkan.

Bahaya onani / masturbasi bagi kesehatan bagi orang yang terlalu sering melakukannya, bisa memicu aktivitas berlebih pada saraf para simpatik. Hingga dampaknya adalah produksi hormon-hormon dan senyawa kimia seks meningkat teramasuk asetilkolin, dopamin dan serotonin.
Ketidak seimbangan kimiawi yang terjadi akibat berhobbi onani/ masturbasi yang terlalu sering bisa memicu berbagai macam gangguan kesehatan antara lain : rambut rontok dan kebotakan, menyebabkan tubuh menjadi lemah dan loyo sehingga aktifitas kerja terganggu, tiap kali tubuhnya mengejang karena memaksa orgasme, pria /wanita akan kehilangan cukup banyak energi karena hampir semua otot akan mengalami kontraksi.
Akibatnya jika terlalu sering, akan kehilangan gairah untuk beraktivitas dan cenderung akan merasa ngantuk sepanjang hari. Selain itu kontraksi otot saat mengalami orgasme bisa memicu nyeri otot, terutama di daerah punggung dan selangkangan.

Pandangan ulama

Mengenai nafsu, menurut ulama Ahlussunnah Waljamaah Imam Al-Ghazâlî, hendaknya selalu berhati-hati terhadap nafsu yang senantiasa mengajak berbuat jelek itu. Karena, nafsu adalah musuh paling suka membuat madlarat, paling berat balaknya, paling sulit merawatnya, paling pelik penyakitnya dan paling sulit pengobatannya.

Keharusan berhati-hati terhadap nafsu itu disebabkan oleh dua hal :

1). Nafsu adalah musuh yang datang dari dalam diri sendiri. Pencuri, apabila dari dalam rumah, tentu sangat sulit disiasati dan amat menyusahkan.

2). Nafsu itu musuh yang disukai/dicintai. Manusia biasanya buta terhadap cela kekasihnya, hampir-hampir tidak dapat melihat cela kekasihnya itu.

Manusia menurut Al-Ghazâlî akan menganggap baik setiap kejelekan yang datang dari diri (nafsu)-nya  dan hampir-hampir tidak dapat melihat celanya, padahal nafsu tetap memusuhi dan membuat madlarat. Tidak memakan waktu lama, nafsu itu tentu akan menjerumuskannya ke dalam keterbukaan aib dan kerusakan, sedangkan ia tidak merasa, kecuali jika Allah menjaganya dan menolongnya mengalahkan nafsu, dengan anugerah dan rahmatNya.

Menurutnya yang bisa menundukkan nafsu dan melunakkan kesenangan nafsu itu hanya tiga, yaitu :

1. Mencegah kesenangan nafsu. Karena, hewan tunggangan (kuda) yang nakal itu dapat melunak bila dikurangi makanannya.
2. Membebani nafsu dengan ibadah yang berat-berat. Karena, khimar itu bila ditambah muatannya dan dikurangi makanannya maka menjadi tunduk dan menurut.
3. Memohon pertolongan Allah Azza wa Jalla.

Begitu juga mengenai nafsu syahwat /birahi, sesuai dengan jumhur ulama Ahlussunnah Waljamaah umumnya menyepakati bahwa seorang muslim / muslimah yang belum menikah wajib menjaga "kemaluannya" daripada syahwat dikala datang menggodanya.
Ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah dari dulu hingga sekarang tidak ada yang membolehkan masturbasi atau onani (inzal /mengeluarkan sperma dengan sendirinya), tapi mengapa ulama-ulama Wahabi membolehkannya?


Referensi : Ihya Ulumiddin dan Badai’ul Fawaid

No comments

Powered by Blogger.