Shalahuddin Al-Ayyubi : Semangat Maulid Nabi Muhammad Wujudkan Ukhuwah & Kemenangan Islam

Siapa yang tidak kenal dengan Shalahuddin Al-Ayyubi? Hanya orang-orang yang tidak kenal agama saja yang tidak mengenalinya. Dialah sang pemberani "Singa Padang Pasir" yang ditakuti musuh-musuh Islam. 
Sosok Shalahuddin Al-Ayubi jauh luar biasa dan banyak teladan yang bisa diambil dari sosoknya. Shalahuddin yang lahir dengan nama lengkap Yusuf bin Ayub bin Syadzi, panggilannya adalah Abu Al-Muzhffar, pada tahun 532 H di Tikrit, salah satu perkampungan suku Kurdi yang terletak di Irak bagian utara. Sedangkan Ayahnya bernama Najmuddin diangkat sebagai gubernur di daerah Ba’labak. Shalahuddin terkenal juga sebagai seorang hafidz atau orang yang hafal Al-Qur’an, pandai baca-tulis, hafal Hadits, pandai Fiqh, Bahasa Arab, ilmu Kedokteran, dan nasab orang-orang Arab.

Berbagai keharuman yang patut digelari kepada sang pahlawan agama ini yang telah berhasil membawa Islam menang dan besar serta tersebar ke seluruh dunia. Lalu apa sebab sehingga Islam yang dimenangkan oleh pasukannya dalam Perang Salib tersebut tetap kuat dalam persatuan umatnya?

Selain pinter dan berani ia ternyata menjadikan Maulid Nabi sebagai sebagai semangat dan motto dalam menggerakan umat Islam ini bersatu dalam ukhuwah, hingga mencapai kemenangan umat Islam yang cukup besar yaitu pada Perang Salib. Persatuan umat yang dibawakannya mengikis segala perbedaan yang ada dalam mottonya, hingga Islam kini telah dapat tumbuh kembang tersebar ke seluruh dunia.

Pertumbuhan agama Islam yang kian pesat namun seperti perkataan baginda Nabi Saw, umat Islam akhir zaman bagaikan buih di lautan, begitu banyak akan tetapi iman dan keteguhan serta semangat keislamannya tidak ada.
Ditambah lagi dengan semangat kemajuan pada zaman yang super modern dan serba canggih telah menjadikan umat manusia umat Islam larut dalam kilauan dunia. Lihat saja dampak buruk perkembangan dunia dan modernisasi yang tidak dibarengi dengan nilai keimanan dan keislaman tidak lagi menjadikan agama sebagai pegangan dan pedoman. 

Dahulu di masa sebelum Perang Salib di mana umat banyak menderita kekalahan perang adalah masa bagi umat Islam yang telah lalai dengan keduniawiannya. Sehingga oleh Sulthan Salahuddin Al-Ayyubi telah mencari cara bagaimana solusi akar permasalahan agar umat Islam bisa  bangkit kembali dan tumbuh semangat dalam iman dan rasa keislamannya.

Saat itu setelah ia mencari pemecahan permasalahan tersebut melalui berbagai pendekatan dan konsultasi dengan para ahli alim ulama maka timbullah suatu keputusan berani dan mulia. Itulah salah satunya solusi agar Islam bisa bangkit yakni dengan semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi Muhammad Saw. 
Sulthan Shalahuddin Al-Ayyubi kemudian mengimbau umat islam di seluruh dunia agar pada hari lahir Nabi Muhammad Saw 12 Rabi'ul Awwal H jangan berlalu begitu saja tanpa dipedulikan, maka mulai saat itu tiap masuk di bulan kelahiran Nabi Saw harus diperhatikan dan hari lahir Nabi mesti dirayakan secara massal.

Kegiatan pokok yang dilakukan Sultan Shalahuddin yaitu memperingati Maulid Nabi, dalam sejarah Islam inilah awal pertama kali di tahun 1184 (580 H). Di antara hal-hal yang dilakukan sebelumnya adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa indah dan menarik sesuai sastra dan bahasa Arab. 
Maka seluruh ulama dan sastrawan pun diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Akhirnya pemenang yang menjadi juara kala itu adalah Syaikh Ja'far Al-Barzanji. Karyanya itu adalah sebuah karya besar bagi umat Islam yang dikenal sebagai kitab "Barzanji". Kitab tersebut hingga sampai sekarang pun sering dibaca oleh muslimin di seluruh dunia pada saat peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Namun saat itu juga ada hal yang diperhatikan oleh Shalahuddin agar umat tidak salah dalam persepsi memandang pergelaran peringatan hari lahir Nabi. Beliau menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi adalah kegiatan yang menyemarakkan Syi'ar agama serta membangkit semangat umat Islam ini agar lebih mencintai agamanya, bukan perayaan yang bersifat ritual dan bukan juga perkara-perkara yang menghalangi pahala kita dalam beribadah atau bid'ah. Sehingga dengan berkat pencerahan-pencerahan yang dilakukan oleh para alim ulama saat itu maka sosialisasi penyelenggaraan dan perhelatan akbar saat itu pun berhasil dengan sukses.

Dengan kesuksesan pergelaran hari lahir Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam saat itu, umat Islam dari berbagai kubu pun telah bersatu. Manfaat dari perhelatan tersebut pun tumbuhnya akan silaturrahmi sehingga muncul rasa persaudaraan antar sesama muslimin menjadi kuat.
Oleh karenanya di saat rasa silaturrahim kuat dan persaudaraan sesama Islam pun muncul maka persatuan umat Islam kian ditakutkan Yahudi dan Nashara. Kala itu umat Kristiani yang tidak pernah menduga bagaimana kekuatan umat Islam, ternyata sungguh tercengang melihat persatuan umat Islam yang luar biasa hingga berhasil memenangkan Perang Salib.

Tapi apa yang terjadi pada sebagian umat Islam sendiri di akhir-akhir zaman ini?
Mereka yang muncul sekarang dengan konsep pemahaman hanya mengambil dalil-dallil secara zahir ternyata keliru dalam memandang makna peringatan Maulid Nabi dengan mengkategorikan sebagai hal-hal yang dilarang alias bid'ah. Lalu, apa yang terjadi pun kita semua bisa melihat persatuan umat Islam yang dahulunya dipenuhi dengan kecintaan kepada Nabi nya tapi kini telah sirna bagi mereka-mereka yang beranggapan demikian.

Semoga kita senantiasa menyemangati Islam dengan selalu menyemarakkan hari lahirnya Nabi janjungan alam Muhammad Saw, dan menyemangati tali persaudaraan ukhuwah Islam hingga sepanjang masa, 'bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh", Allahu Akbar..!


No comments

Powered by Blogger.