Bersama Kami di Auliya Travel

Syeikh Utsaimin : Tahlilan Bukan Bid'ah Tapi Tradisi

Sebuah kisah pengalaman yang dialami seorang sumber ini menjelaskan bahwa suatu pertemuan alumni di salah satu SMP Negeri di Jakarta, bertemu dengan salah seorang alumni yang pernah kuliah dan bekerja di Damman, Saudi Arabia.
Kurang lebih selama 18 tahun ia tinggal di Saudi, dan yang menariknya alumni itu tinggal dan belajar agama kepada murid Syaikh Muhammad bin Utsaimin, bernama Syaikh Mahmud Hamdan al-Mubarak. Kesempatan yang baik itu, dimanfaatkan untuk bertanya banyak hal, terutama tentang Wahabi dan mindset para alumni Saudi, khususnya alumni Madinah al-Munawwarah.

Ketertarikan sumber ini bertanya, kepada yang bersangkutan didasarkan kepada keheranan kepada yang bersangkutan mau memimpin tahlilan dan doa arwah di pertemuan alumni itu. Ketika sumber menanyakan kenapa beliau mau memimpin tahlilan dan arwahan, tapi malah beliau mengatakan bahwa gurunya yang merupakan murid Syaikh Ibnu Utsaimin (ulama Wahabi) berpendapat bahwa kebiasaan itu bukan perbuatan bid'ah.

Wow pikir sang sumber, ini luar bias !!!
Karena umumnya, di Indonesia para simpatisan Wahabi menganggap bid'ah dan haram tradisi tahlilan. Lalu, saya tanyakan lagi kepada orang itu, "antum gak pura-pura khan?"
Dia mengatakan bahwa dulu dia juga bertanya seperti yang saya tanyakan kepada Syaikhnya dan sang guru menjawab, "bukan perbuatan bid'ah"!
Bahkan dia mengatakan bahwa selama tinggal di Dammam dulu, dia selalu menemui kebiasaan masyarakat menghidangkan makanan pada hari ketujuh kematian. Tapi, tegasnya, penyajian makanan itu bukan karena tuntutan atau tidak diwajibkan.

Perbincangan itu semakin menarik, ketika sang sumber menanyakan mengapa ada perbedaan mindset para alumni Saudi, khususnya Madinah, saat ini dengan alumni Madinah pada era 90-an. Dia pun menjawab bahwa alumni Madinah saat ini lebih kuat nuansa Wahabinya dibandingkan alumni 1990-an.
Alumni Madinah era 1990-an diajar oleh para dosen dari berbagai negara seperti Mesir, Sudan dan Suriah. Sedangkan alumni Madinah saat ini diajar oleh orang-orang Saudi yang dulunya adalah para mahasiswa yang fanatisme Wahabinya sangat kuat. Ditambah lagi, pemerintah Saudi sendiri mempunyai kebijakan untuk memperkuat pengaruhnya di masyarakat melalui penguatan ideologi negara. Sehingga, menurutnya, kuatnya pengaruh Wahabi terhadap para lulusan Madinah itu tidak bisa dilepaskan dari kebijakan politik tadi.

(Cinere, 14 Februari 2016)
Sumber : KH. Abdi Kurnia Djohan

No comments

Powered by Blogger.