Ketika Ulama Dan Umara Bersatu Membangun Kejayaan Aceh

ACEH sejak dari masa kesultanan dulu telah menjadikan posisi ulama lebih tinggi kedudukan dalam hal akherat dan sebanding dalam roda kepemimpinan dengan umara. Bila di zaman ini dan ke depan Aceh nantinya ada pemimpin-pemimpin negeri (umara) bahkan calon-calon umara yang tidak memberikan posisi strategis tersebut kepada ulama maka niscaya ketahuilah Aceh kelak bakal hancur lebur berantakan karena sebagai bentuk yang telah mendurhaka agamanya.
Agama Islam mengajarkan orang-orang bila telah durhaka dan enggan taat selalu tertimpa rasa takut, khawatir dan rizki yang sulit. Beda halnya dengan orang yang beriman dan bertakwa. Maka lihatlah bagaimana suatu negeri ditimpa berbagai krisis, bencana dan musibah, sebab utama adalah karena mereka durhaka pada Allah.

Bentuk kedurhakaan terbesar adalah mulai dari perbuatan syirik., begitu juga termasuk di dalamnya adalah mudahnya meninggalkan shalat. Itulah yang terjadi pada suatu negeri jika mereka semakin jauh dari Allah, musibah demi musibah akan menerpa mereka.

Allah Ta’ala berfirman,
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS. An Nahl: 112).

Dalam ayat lain Allah mengatakan :

Dan hal tersebut sudah dibuktikan sejak beberapa dekade negeri sejak masa kesultanan Aceh, rakyatnya patuh kepada aturan agama dan pemerintah maka Aceh dikenal sebagai negeri Serambi Mekah yang sejahtera. Tetapi Aceh yang kini sejak tidak lagi menjadikannya ulama sebagai hal dimaksud dalam menjalankan roda kepemimipinan di negeri Seuramoe Meukah ini.

Semoga Aceh kelak dapat mewujudkannya kembali seperti masa sultan Iskandar Muda yang memberikan posisi ulama besar dalam kepemerintahan agar terciptanya kestabilan kehidupannnya di dunia wal-alherat, menjadi negeri yang "baldatun thayyibatun warabbul ghafur".

Amin ya Rabbal alamin. (yma)


No comments

Powered by Blogger.