Bersama Kami di Auliya Travel

Video, Tokoh PDIP Aceh, Karimun Usman Larang Teken Bendera dan Lambang Aceh Ke Pusat

Mudhiatulfata.net - IRONIS memang, di saat sebagian besar rakyat Aceh menuntut lahir dan sahnya Bendera dan Lambang Aceh, ternyata seorang Politisi PDIP Aceh telah menentang lahir dan tegaknya bendera dan lambang tersebut. Bahkan beliau dengan dengan lantang dan tegas menjelaskan kepada wartawan baru-baru ini. Ketika ditanya tentang permasalahan bendera dan lambang Aceh, lalu Beliau lari ke masalah politik pasca kemenangan Zikir masa Pilkada yang lalu.

Alangkah eloknya bila penetapan bendera dan lambang yang dikatakannya tidak cucok dan mendukung saparatisme maka dicari solusi agar disesuaikan. Makanya di sini perlu musyawarah mufakat saling kebersamaan dan bukan dengan ego masing-masing pihak, kalau begini selamanya akhirya masalah tidakkan pernah selesai.


Bapak Karimun Usman, menjelaskan ketidaksesuaian bendera dan lambang dengan Pancasila bahkan bendera dan lambang tersebut menjurus pada pada saparatisme. Sementara untuk masalah bendera dan lambang Karimun Usman lebih tegas dan lantang menjelaskan:

"Saya sudah bilang ke presiden jangan teken Qanun Bendera dan Lambang Aceh'.
Kemudian juga menambahkan mengatakan telah membawa mereka (tim pemenangan Zikir) dulu  ke rumah ibu Megawati untuk pemenangan Cagub-Cawagub tapi mana balasan mereka kepada saya?

Ternyata bapak Karimun Usman memang seorang nasionalisme dalam NKRI, tapi sayangnya Beliau tidak bijaksana dan salah alamat dalam menetapkan permasalahan tersebut yang akan berimbas kepada rakyat Aceh keseluruhan (yang notebennya bagian dari NKRI). Rakyat Aceh yang telah menaruh harapan besar akan 'bendera dan lambang" tersebut. Tapi hanya oleh kekecewaan terhadap tim Zikir, lalu Beliau menolak harapan rakyat. Padahal harapan rakyat Aceh tersebut merupakan sesuai hasil perjanjian dengan pemerintah RI - GAM dulu, dan masalah tersebut telah final dan disetujui. Lalu mengapa kni Beliau menolaknya? Ada apa ini?

Bila hal ini suatu kekecewaan Beliau terhadap tim Zikir, sepatutnya tidak mengorbankan cita-cita rakyat Aceh yang sedang menanti bendera dan lambang negerinya. Selaku putra asli Aceh harusnya membela keinginan rakyat Aceh dan bukan justru meolaknya. Mengenai permasalahan bendera dan lambang itu tidak sesuai dengan Pancasila atau menimbulkan semangat saparatisme maka alangkah bijaknya hal tersebut dapat dicari jalan keluar bersama agar dapat sesuai dengan harapan kedua belah pihak (Aceh dan Indonesia).

Seperti pada video ini :

Jika memang berbicara soal bendera jangan di benturkan dengan ekonomi karena masalah bendera murni masalah semangat ideologi masyarakat secara lokal (keacehan), namun secara nasional Aceh juga punya ideologi Pancasila, dan ini tidak ada kaitannya dengan kesejahteraan. Jangan hanya gara-gara tidak adanya balas jasa tim Zikir maka harapan rakyat banyak malah dinafikan. (yma)
Powered by Blogger.