Bersama Kami di Auliya Travel

Abuya Muhibbuddin Waly: Menyelamatkan Nilai-Nilai Syariat Islamiyah & Aqidah Ushuluddin (Ahlussunah Waljamaah)

Mudhiatulfata.com - Tulisan ini adalah salinan daripada ceramah Almarhum Abuya Profesor DR. Tgk. H. Muhibbuddin Muhammad Waly, Ph.D, semasa hidupnya ketika memberi kuliah atau mengajar di Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Dengan judul "menyelamatkan nilai-nilai syari'at Islamiyah dan akidah Ushuluddin dalam Ahlussunnah Waljamaah."

Sebuah sumber pertanyaan :
Abuya yang mulia, kami mohon penjelasan Abuya mengenai nilai-nilai syari’at Islam dan akidah Islam yang lurus bersama dengan tuntunan sejarah Aceh?
Terima kasih atas tuntunan Abuya.

Jawaban dari Abuya :
Berkenan dengan judul yang tercantum di atas dalam surat Yaasiin telah diungkapkan Allah SWT untuk dapat dipelajari oleh umat manusia agar menjadi pedoman padanya. Maka karenanya, marilah kita melihat tentang apa yang terkandung dalam surat Yaasiin tersebut, sehingga kita dapat mengambil beberapa hikmah darinya.

Muqaddimah Surah Yaa-Siin :

1   1. Surat Yaa-sin adalah surat ke -36 dalam kitab suci Al- Qur’an, mengandung 83 ayat.

2   2. Surat Yaa-siin diturunkan Allah SWT di Mekkah. Isinya mengandung tiga pokok utama,   yaitu:
   - Iman dengan kebangkitan pada hari kiamat
   - Kisah tentang penduduk kampung Intakiyah
   - Dalil-dalil yang menunjukan atas kemahaesaan Allah SWT.

3   3. Surat Yaa-siin dimulai dengan ungkapan sumpah dengan kitab suci Al-Qur’an atas kebenaran wahyu Ilahi, kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW. Surat ini juga mengungkapkan mengenai orang-orang kafir dari suku Quraisy yang keras berpegang dalam kesesatan dan mereka membohongi dan tidak menerima nabi Muhammad bin Abdullah selaku pemimping segala rasul. Karena itu mereka berhak mendapat azab Allah dan kebenaran-Nya.

4   4. Surat Yaa-siin juga membeberkan kejadian sejarah pada penduduk daerah yang bernama Intakiyah, dimana mereka membohongi segala Rasul Allah. Ayat itu mengancam akibat mereka terhadap wahyu dan kerasulan Nabi Muhammad, karena mereka tidak dapat menerima sejarah tersebut melalui kitab suci Al-Qur’an selaku pelajaran dan perhatian yang harus diterima.

5   5. Surat Yaa-siin juga mengungkapkan pendirian seorang pemimpin yang beriman kepada Allah yang bernama Hubib Najjar, dimana dia telah menyampaikan nasehatnya kepada kaumnya. Dimana akhirnya kaum dari Hubib Najjar membunuhnya. Dan Allah mengungkapkan imbalan kepada pemimpin kaum tersebut Syurga jannatun na’in. Dan Allah dengan segala pula menghacurkan kaum itu melalui pekikan yang mematikan dan membinasakan.

5   Surat Yaa-siin, juga mengungkapkan dalil-dalil kekuasaan Allah dan kemahaesaan-Nya dalam menciptakan makluk dengan keseluruhan dalil- dalil yang luar biasa mencengangkan manusia-manusia zaman itu. Kekuasaan Allah yang di mulai dari bukti-bukti ciptaan Allah pada bumi kosong kemudian hidup subur dengan berbagai ciptaan Allah.
     Kemudian Allah Ta’ala juga mencinptakan gelap pada siang hari yang terang benderang tapi tiba- tiba datang kegelapan yang luar biasa dimana Allah ta’ala serta merta menciptakan matahari yang menerangi bumi, yang beredar dari timur kebarat dengan kudrah Allah pada angkasa yang tidak terbayangkan pada akal manusia.
     Kemudian Allah menghadirkan ciptaan pada bulan yang senantiasa naik-naik hingga pada titik bulan penuh dan kemudian turun-turun hingga pada tenggelam bulan dalam falaknya. Demikian juga kekuasaan Allah dalam menghadirkan manusia dan keterunannya sejak zaman dahulu kala, yaitu mulai dari penciptaan terhadap asal- usulnya, dimana semuanya ini merupakan bukti-bukti yang begitu gamblang dan jelas selaku dalil atas kekuasaan Allah SWT.

     6. Surat Yaa-siin mengungkapkan tentang hari kiamat degan segala kejadian-kejadian yang menakutkan seluruh alam. Bahkan juga Allah ta’ala menggambarkan tentang kebangkitan makhluk bernyawa (khususnya manusia) dari kubur mereka. Allah menggambarkan tentang ahli syurga, ahli neraka, dan perbedaan nasib antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang berdosa., dimana gambaran yang demikian digambarkan pada hari kiamat yang mengerikan hingga berakhir kebahagiaan orang-orang yang bahagia dalam taman-taman syurga yang penuh nikmat, dan orang-orang yang celaka yang berada dalam berbagai lapisan neraka jahannam.
  
     7. Surat Yaa-siin menutup ayat-ayatnya dengan mengungkapkan pokok utama tentang kebangkitan dan balasan terhadap yang baik atau tidak baik, sekalian dengan dalil-dalil dan bukti-bukti kejadiannya.
     
      Penamaan Surat Yaa-Siin
     
     Surat ini dinamakan surat Yaa-siin karena Allah SWT telah memulai surat ini dengan kalimat yaa-siin. Ini menunjukkan kemukjizatan kitab suci Al-Qur’an yang tak dapat dijangkau oleh akal manusia.

     Kelebihan Surat Yaa-Siin
    
     Tentang kelebihan surat yaa-siin dapat kita pahami berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang artinya : 
      “ Sesungguhnya bagi setiap sesuatu ada hati (jantung), sedangkan hati atau jantung kitab suci Al-Qur’an adalah surat yaa-siin itu (nilai-nilainya) berada dalam hati (jantung) setiap manusia dari umatku."
  
     Tafsir Surat Yaa-Siin :

“Yaa Siin” (QS. Yaa-siin, Ayat 1).

These letters are one of the miracles of the Qur’an, and none but Allah (alone) knows their meanings.

Kalimah ini terdiri dari huruf-huruf potongan sebagaimana terlihat juga dalam pangkal suratsurat yang lain. Hikmah dari kalimat seperti ini adalah untuk membangun hati manusia, bahwasanya surat Yaa-siin pada khususnya dengan ayat pertamanya menggambarkan bahwa kitab suci Al-Qur’an mengandung mukzijat dan mukzijat itulah yang terkandung dalam sebagian huruf-huruf hijaiyah yang dikenal oleh bangsa arab dan mereka berbicara melalui huruf-huruf haijaiyah itu. Akan tetapi susunan sebagian huruf dengan huruf yang lain menggandung mukjizat yang tertutup bagi manusia pada khususnya terkecuali di ungkapkan oleh Allah SWT .

Ibnu Abas berkata: makna kalimah Yaa-siin adalah ‘hai manusia”. Demikaian dalam kalaimah bahasa arab dari suku Thai-un. Namun ada juga yang menggungkapkan bahwa kalimah yaa-siin adalah salah satu nama dari nama-nama Nabi Muhammad SAW. Hal ini di ungkapkan berdasarkan makna dari ayat ketiga, yaitu “ Sesungguhnya engkau adalah sebagian dari rasul-rasul Allah SWT ”.

Pendapat lain mengungkapkan bahwa makna kalimah Yaa-siin ialah “wahai pemimpin umat manusia (Ya Saidal Basyar ), demikian tersebut dalam tafsir Qurthubi.

“Wal-Qur’aanil-hakiim” (QS. Yaa-siin ayat 2).
Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah
By the Al-Qur’an, full of Wisdom ( i.e.full of laws, evidences, and proofs).

Kalimah ini adalah sumpah Allah dengan kitab suci Al-Qur’an Yang penuh dengan hikmah- hikmah. yang bermakna bahwa Allah menciptakan yang sesuatu pada tempatnya yang sesuai, cocok dan tepat. Maka adalah perintah dan larang Allah terletak pada sesuatu yang sejalan dengannya. Allah ta’ala memberikan ganjaran pada kejahatan. Kesemuanya ini adalah tepat, sesuai dan mengandung hikmah-hikmah.
Maka adalah hukum-hukum baik pada nilai-nilai syariat dan juga pada nilai-nilai pada pembalasan sama sekali mengandung hikmah yang luar biasa. Setengah dari hikmah itu.Allah ciptakan kitab suci Al-Qur’an yang didalam mengandung hukum-hukum atau nilai-nilai atas kebaikan dan pelanggaran. Karena itu maka akal manusia dapat menerima kesesuaian-kesesuaian pada hukum dan juga pada hikmahnya.
Demikian juga pada nilai-nilai yang teratur hukum atas nilai-nilai ciptaanNya. Maka wajarlah apabila Allah Ta’ala bersumpah dengan kitab suci Al-Qur’an.

“Innaka la-minal-mursalin”(QS. Yaa-Siin, Ayat 3)
Sesunnguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul (Allah).
Truly, you (O Muhammad) are one of the Messengers.

Inilah sumpah Allah itu. Bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar di angkat Allah sebagai Rasul-Nya. Dan sesungguhnya Nabi Muhammad itu bukan satu-satunya Rasul Allah adalah salah satu dari sejumlah para nabi yang diangkat Allah selaku rasul.Maka wajarlah nabi Muhammad adalah sebagian dari para rasul. Dan hal keadaan ini merupakan ketetapan Allah.

Karena itu pula, maka kepada Nabi Muhammad Allah ta’ala berikan apa yang telah di berikan kepada rasul-rasul sebelumnya, seperti mengenai pokok-pokok agama, baik dalam bidang syari’at maupun dalam bidang aqidah, dan lain-lain.maka ummat Muhammad mengembangkan pokok-pokok agama itu dalam bidang masing-masing, yakni bidang syari’at dan bidang aqidah. kedua bidang tersebut secara global sudah ada dalam kitab suci Al-Qur’an.
Dan kedatang para rasul seperti Nabi Muhammad SAW adalah menafsirkan pokok-pokok syari’at dan ‘aqidah itu kedalam bahasa yang bersifat pokok-pokok keagamaan baik melalui jibril atau melalui ijtihad Rasulullah SAW. Kemudian berlanjut pada pemahaman para sahabat Nabi baik berdasarkan pada kenyataan yang mereka lihat (terima) pada diri nabi (perbuatan-perbuatan atau ucapan) amupun berdasarkan ijtihad mereka apabila mereka tidak langsung menerima dari pada Nabi dalam bentuk ucapan-ucapan atau perbuatan-perbuatan Nabi.

Begitulah seterusnya pada setiap zaman yang di mulai dari zaman tabi’in dimana umat lslam yang tidak bertemu dengan rasul dan tidak mendengar amanah, ucapan atau perbuatan Rasul, maka mereka berijtihad melalui kaedah-kaedah hukum selaku hasil yang telah dipikirkan oleh para mujtahid sebelumnya.
Juga berdasarkan kaidah-kaidah pengalian hukum syari’at dan kaidah-kaidah pengalain nilai-nilai aqidah itu sendiri. 
Dan nilai-nilai inilah yang kita terima dari lapisan-lapisan para ulama yang ahli dalam bidangnya. Maka karenanya, kemudian timbullah kaidah-kaidah dalam fiqh Islam dan kaidah-kaidah dalam aqidah islam, sehingga ini menjadi nilai-nilai yang baku dari zaman ke zaman hingga pada zaman sekarang ini dan akan berkelanjutan sesudahnya.
Maka adalah kaidah-kaidah hukum yang di kenal dari mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi’I dan mazhab Hanbali telah di sepakati oleh ulama islam sebagai kaidah hukum yang diakui sekarang ini.
Demikian pula kaidah-kaidah hukum dalam bidang Aqidah, tauhid, dan ushuluddin tidak boleh dipertengkarkan lagi, karena hal keadaan ini para ilmuan dunia Islam sejak ratusan tahun yang lalu telah mensahkan dan menetapkan kaidah-kaidah itu. Maka adalah sangat berbahaya apabila sebagian kita yang kebanyakan para juhalak (orang jahil) yang tidak memahami kaidah-kaidah istinbat mereka.

Maka mereka merdeka semaunya dalam menetapkan suatu hukum apalagi menciptakan suatu kaidahnya, padahal kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang dikaitkan dengan Qur’an, Hadits, Ijma’, dan Qiyas serta kedalaman dalam memahami bahasa Arab dalam berbagai fak, mereka jahil dan berpura-pura mengerti, yang akhirnya membuat kacau dunia ini, sehingga timbullah kelompok-kelompok yang 72 yang dikatakan sesat dan menyesatkan oleh Rasulullah SAW.

Mereka itu telah menyimpang dari dari pada sunnah Nabi, sunnah para sahabat pada nilai-nilai kaidah yang telah disusun sedemikian rupa oleh para ilmuwan dalam berbagai ilmu pengetahuan.
Maka kalau hal keadaan ini tidak dicegah, akan jadilah negeri kita ini sebuah negeri Islam yang baku nilai-nilai hukumnya, namun kebakuan itu hanya terlihat pada lahiriah belaka, tetapi jahil dalam kandungan isi pemahamannya. 

Sebagaian dari pada kaidah-kaidah yang dipegang oleh umat Islam negeri kita sekarang ini tergambar dalam kalimat, “adat bak po teumeuruhom, hukom bak syiah kuala.”

Kaidah baku inilah yang telah mulai diobrak-abrik oleh para ilmuwan yang tidak tahu diri. Ilmuwan yang pengetahuannya bersifat jahil murakkab, dimana pemikiran mereka dapat memancing kemarahan Allah SWT. Apabila hal keadaan mereka ini masih membandel juga dan tidak mau menerima secara akal yang waras, berbuatlah apa yang disukai hatinya, namun perlu dicatat, bahwa perbuatan yang beranjak dari hawa nafsu dan kebodohan akan beresiko pada diri kita, negeri kita, bangsa kita, bahkan sampai kepada anak cucu kita selanjutnya. Nau’dzubillah!

Pada saat penulisan kuliah ini, telah terjadi lagi gempa bumi yang menggoncang negeri kita ini. Maka dari itu, tidakkah kita sadar terhadap tanda-tanda alam yang seperti ini? 
Boleh jadi hal keadaan ini terjadi karena (sebelumnya-pada paginya-terdapat suatu forum agama yang membahas masalah-masalah ushuludin) ada sebagian orang mengungkapkan secara tak tahu diri tentang nilai-nilai agama hanya untuk kemajuan dunia yang serba tidak menentu ini.
Maka marilah kita berlindung kepada Allah, semoga Allah ta’ala menyelamatkan negeri Aceh dan bangsanya dari bahaya luar maupun dari bahaya perpecahan aqidah dan syari’at yang telah menjadi pegangan bagi rakyatnya sejak zaman dahulu kala.

Sebagai penutup dari pada pembahasan ini saya nukilkan beberapa firman Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan sebuah hadits Rasulullah SAW, sebagai berikut:

Surat 4, An-Nisa : 59

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.S. 4 An-Nisaa : 59).

Oleh Imam Bukhari dalam kitab Al-I’tisham. “Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata, bersabda Rasulullah SAW : Barangsiapa taat kepadaku, maka sungguh ia telah taat kepada Allah SWT. Barangsiapa yang durhaka kepada Amirku, maka ia telah durhaka kepadaku.”

Setelah mempelajari ayat dan hadits Rasulullah SAW di atas, saya menganalisa dengan pemahaman saya yang sangat sederhana sebagai berikut:

v  Kita rakyat Aceh bersyukur kepada Allah SWT, bahwa para ulama Aceh pada kompak merebut kemerdekaan dari pada kaum penjajah, sejak zaman dahulu sehingga daerah Aceh, Allah ta’ala berikan kemerdekaan seperti yang Allah ta’ala berikan kepada negeri-negeri yang berada dalam kepulauan nusantara ini. Dimana bangsa Indonesia telah memperjuangkan pulau-pulau besar di nusantara ini yang dinamakan dengan Indonesia. Sehingga kita bersatu dalam kemerdekaan dan terlepeas dari segala penjajah.

v   Khususnya bagi daerah Aceh dan bangsa Aceh, salah satu dari pemimpin Aceh yang kita kenal, seorang alim yang berpendidikan dayah menjadi salah seorang gubernur di Aceh ini yakni, Alm. Tgk. H. Muhammad Daud Beureu’eh, dimana seluruh ulama menyokong beliau. Karena nikmat demikian termasuk guru beliau, Tgk. H. Hasan Krueng Kalee dan termasuk ulama yang termuda di Aceh, yang mansyur di nusantara ini, Tgk. Syekh H. Muda Waly Al-Khalidy, saya pribadi turut menyaksikan kenyataan yang demikian. Akan tetapi setelah lingkungan Tgk. H. Muhammad Daud Beureu’eh sudah banyak diliputi oleh para pemimpin yang non-ulama atau terdapat juga pemimpin agama, tetapi dalam praktek ilmu keagamaan sudah bercampur baur antara keluaran dayah dengan ulama yang bukan berbasis pendidikan dayah, sejak itulah mulai terjadi penjauhan-penjauhan antara Tgk. H. Muhammad Daud Beureu’eh dengan para ulama kharismatik yang mayoritas di Aceh ini.

v  Setelah Tgk. H. Muhammad Daud Beureu’eh menjadi Gubernur Aceh sehingga sangat lengkaplah predikat beliau. Bukan hanya dalam lingkungan daerah Aceh saja, tetapi termasuk dalam daerah Sumatera Utara, dan beliau selaku pemimpin sipil yang begitu tinggi di dua daerah ini. Bahkan pernah berpredikat dengan Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo.

v  Setelah beliau kehilangan predikat yang sangat terhormat tadi dan itu sebenarnya adalah ujian Allah ta’ala yang harus beliau terima dengan sabar dan harus lebih dekat lagi kepada ulama Aceh. Tetapi beliau tidak sabar, bahkan menjauh dengan para ulama Aceh, sedangkan para ulama Aceh boleh dikatakan pemimpin segala-galanya bagi rakyat Aceh. Maka jadi rengganglah hubungan beliah dengan pemimpin pusat Negara ini, sehingga beliau mendekat kepada Karto Suwiryo dalam sentuhan memproklamirkan Negara Islam dan bersentuhan dengan para pemimpin Masyumi yang pada masa itu antara Masyumi dengan pemerintah kurang baik. Maka terjadilah pemberontakan di Aceh, yang menumpahkan darah rakyat Aceh sedemikian rupa, sehingga beliau tidak memegang kekuasaan lagi di Aceh. Maka terombang-ambinglah Aceh akhirnya masuklah kekuatan militer baik dari dalam maupun dari luar.

v  Akan tetapi apabila Tgk. H. Muhammad Daud Beureu’eh menyampaikan permasalahan yang beliau hadapi kepada guru beliau Tgk. Syekh Hasan Krueng Kalee, saya yakin para ulama aceh yang sudah berumur akan mendengar nasehat-nasehat atau petunjuk Abu Hasan Krueng Kalee. Dan di Aceh pula, di Aceh Selatan terdapat pula ulama yang masih muda, mempunyai ilmu agama yang mendalam, yakni Tgk. Syekh H. Muhammad Waly Al-Khalidy (Tgk. H. Muda Waly), diajak sama oleh Tgk. H. Muhammad Daud Beureu’eh antara ulama yang sudah lanjut usianya dengan para ulama yang masih muda tetapi mempunyai ilmu pengetahuan yang dapat dibanggakan.

Apabila mereka berkumpul dan mencari jalan keluar, bagaimana mengatasi masalah Aceh yang kebetulan di bawah pimpinan Tgk. H. Muhammad Daud Beureu’eh. Maka kami yakin akan mendapatkan jalan keluar yang baik, karena ulama sudah berusaha untuk memperbaikinya, dan kebetulan pula Gubernur Aceh dan Tanah Karo juga ulama, maka tidak mustahil masalah-masalah pelik dapat teratasi.

v  Oleh kandungan ayat di atas tidak dijadikan dasar bagi mengatasi permasalahan, padahal sudah jelas dalam hadits di atas, bahwasanya pemimpin itu, apabila sadar dan kembali kepada jalan yang diridhai Allah ta’ala, kita wajib taat dan patuh, meskipun ada cacat dan kesalahan yang terjadi. Hal keadaan ini adalah biasa, karena pemimpin umat pada abad yang sudah jauh daripada kurun Rasulullah SAW, lumrah tidak sunyi dari pada kesalahan dan kesilapan.
Tetapi apa yang telah terjadi bagi kita sekarang ini melihatnya adalah sekedar sejarah yang terjadi dalam daerah kita, dan tidak boleh terulang lagi untuk masa-masa yang akan dating.

v  Inilah yang kita warisi sejak zaman kerajaan dulu, bahwa negeri ini dipimpin oleh dua gambaran pribadi, yaitu:
Pertama, yang memimpin masyarakat dan adat, dan tidak harus dari keturunan raja karena Islam selaku agama kita mengisyaratkan bahwa pemimpin umat yang dipilih dari masyarakat dan diangkat oleh masyarakat dan tidak ada sistem kerajaan dalam Islam.
Pemimpin umat kemasyarakatan itu hendaklah didampingi oleh ulama. Karena ulama merupakan afrad yang masuk dalam kalimah ulil amri minkum. Maka adalah nilai-nilai baku yang kita warisi dari zaman dahulu kita kembangkan lagi dan disesuaikan seiring dengan modernisasi zaman, tetapi awas, bahwa agama tidak ada modernitas padanya. Tetapi yang modern tersebut adalah kulit-kulitnya saja.

Dan apabila modern kita artikan dalam kaidah-kaidah agama sehingga kaidah-kaidah tersebut sudah tidak benar lagi menurut pemahamannya, hal keadaan ini dalam aqidah tidak boleh keluar dari pada aqidah Ahlussunnah wal jama’ah, dan dalam syari’at islam terdapat kaidah-kaidahnya pula yang harus kita patuhi. Inilah warna Aceh sejak zaman dulu dan itulah yang kita gembar-gemborkan sampai sekarang.

Perhatikanlah nilai-nilai ini dan pelajarilah dengan sedalam-dalamnya, Insya Allah, Aceh ini akan dijadikan oleh Allah ta’ala selaku negeri yang baldatun thaybatun wa rabbun ghafur.

Hal keadaan ini berdasarkan firman Allah SWT dalam surat 24 Sabaa’ ayat 15:

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun disebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah tuhan yang maha pengampun.”

“The was for Sheba a sing in their dwelling pleace, two gardens, one on the right and one on the left: “Eat of the provisions og your Lord, and be thankful to Him, a land of goodness, and a Lord All Forgiving.” (engglish)

“Bak kawom Saba na saboh tanda keubit bahgia Neubri le Allah,
bak tempat jih nyan dua boh keubon, roet wie roet uneun keubon yang luah
Pajoh raseuki nibak Po gata, tasyukor teuma kepada Allah, nanggroe nyan got that ngon sidro Tuhan maha peungampon peu-peu yang salah.” (aceh)

 
Saya meminta maaf pada hadirin dan hadirat pembaca sekalian apabila saya ungkapkan sekelumit sejarah kejadian Aceh ini. Hal keadaan ini tidak lain hanyalah sekedar ingatan penting bagi kita, sehingga tidak lagi mengurangi nilai-nilai pada masyarakat Aceh yang sudah diberkahi oleh Allah ta’ala dan telah direstui oleh para syuhada Aceh dan para ulama Aceh dengan perjuangan mereka yang tidak kenal lelah.

“Ya Tuhan kami tunjuklah kami jalan yang lurus,
(yaitu) jalan-jalan orang yang telah engkau beri nikamat kepada mereka
bukan (jalan) mereka yang di murkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

“Guide us to the Righteous way, the way of those on whon You have endowed Your Grace,
not the way og those who earn Your wrath, nor of those who go astray.” (engglish).

“Neutunyok kamoe wahe Hadharat bak jalan teupat beu roh meulangkah
bak jalan ureung nyang neubri nikmat jalan seulamat bek jalan salah,
bek roh bak jalan ureueng nyang sisat ureueng nyang batat muruka Allah.” (aceh.)

No comments

Powered by Blogger.