Melanggari Fatwa Dan Qanun Aceh, Wahabi, Syi'ah dan Ajaran Sesat Lainnya Dilarang Berada Di Aceh

Mudhiatulfata.com - Aturan yang tersebut dalam Qanun pemerintah Aceh bernomor 11 tahun 2002 telah lama ditetapkan oleh pemerintah Aceh yaitu tentang Ibadah, Akidah dan Syiar lslam, kemudian juga ditetapkan Fatwa MPU Aceh Nomor 09 Tahun 2014 tentang Pemahaman, Pemikiran, Pengalaman, dan Penyiaran Agama Islam di Aceh. 

Atas dasar fatwa ulama dan qanun tersebut kiranya penduduk Aceh yang tidak mematuhi umara (pemerintah) dan ulama maka tidak layak pula tinggal di negeri Aceh suatu provinsi yang sedang menjalankan proses aturan Syari'at Islam. 

Pemerintah Aceh yang telah mengatur semua aturan di negerinya dan ulama mengatur tatacara ibadah dan konsep akidah yang sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah Waljamaah, yakni konsep berdasarkan Alquran dan Sunnah yang merujuk kepada jalan para ulama-ulama besar terdahulu, maka singkronisasi aturan tersebut patut dihargai dan diapresiasikan,

Akan tetapi bila ada kelompok baik Wahabi, Syi'ah atau lainnya yang berani melanggar dari ketentuan tersebut (berlaku kurang ajar) kepada umat Islam Aceh yang kental keislamannya terhadap Ahlussunnahw Waljamaah bermazhab As-Syafi'yah dan berimam tauhid Al-Asy'ari Walmaturiddi sejak ratusan tahun yang lalu. Maka patutlah pelanggar-pelanggar itu diderai sangsi adat yang berlaku.

Kemudian yang dijabarkan dimaksud dengan pahaman Ahlussunnah Waljamaah secara konsep tauhid juga harus mengikuti pahaman Asy'ari dan Maturiddi. Berkonsep fikih harus sesuai dengan salah satu daripada imam mazhab baik Maliki, Hanafi, Hambali dan Syafii serta juga harus berkonsep dengan konsep tasawuf dengan salah satu imamnya. 

Mengenai aturan pengamalan di Aceh yaitu hanyalah mengikuti mazhab Imam Syafii, hal tersebut oleh para alim ulama di Aceh dalam fatwanya telah menyatakan bahwa tiap-tiap pelaksanaan peribadatan di mesjid-mesjid, meunasah-meunasah, musholla, dan tempat keagamaan umumnya di Aceh haruslah dilaksanakan dan berlandaskan konsep daripada Assyafiiyah.

Apabila ada dari saudara-saudara seakidah namun berbeda mazhab dengan yang ma'ruf di Aceh seperti mazhab Maliki, Hanafi dan Hambali maka dapat melaksanakannya secara pribadi dan di tempatnya serta tidak dilaksanakan pada tempat-tempat umum.

Dalam fatwa MPU Aceh tersebut di atas telah dijelaskan bahwa bila ada warga yang tidak serupa dengan konsep akidah tersebut maka yang bersangkutan bukanlah termasuk bagian daripada akidah Ahlussunnah Waljamaah, maka dengan begitu akidah Syi'ah, Wahabi dan sejenisnya dilarang dan tertolak berada di Aceh.

Berikut ini sekilas aturan dari kanun tersebut di antaranya;

Bab I Ketentuan Umum
Pasal 1 Poin ke 7:
Aqidah adalah Aqidah Islamiah menurut Ahlussunnah Waljamaah. 

Bab II Fungsi dan Tujuan
Pasal ke 2 Poin a:
Membina dan memelihara keimanan dan ketaqwaan individu dan masyarakat dari pengaruh ajaran sesat.

Bab III Pemeliharaan Akidah
Pasal 4
(1) Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota dan institusi masyarakat berkewajiban membimbing dan membina aqidah umat serta mengawasinya dari pengaruh paham dan atau aliran sesat.
(2) Setiap keluarga/ orang tua bertanggung jawab menanamkan aqidah kepada anak-anak dan anggota keluarga yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Pasal 5
(1) Setiap orang berkewajiban memelihara aqidah dari pengaruh 
paham atau aliran sesat.
(2) Setiap orang dilarang menyebarkan paham atau aliran sesat.
(3) Setiap orang dilarang dengan sengaja keluar dari aqidah dan atau menghina atau melecehkan agama Islam. 

Pasal 6
Bentuk-bentuk paham dan atau aliran yang sesat di tetapkan melalui fatwa MPU.
....dan seterusnya.

Kemudian untuk fatwa ulama MPU Aceh tersebut jelas telah menerangkan bahwa ada 4 poin di aqidah dan lima poin di ibadah yang ajarannya bertentangan dengan ajaran agama Islam.
Empat poin di aqidah yang sesat yakni mengimani zat Allah hanya di atas langit (Arasy), mengimani zat Allah terikat dengan waktu, tempat dan arah, mengimani kalamullah itu berhuruf dan bersuara dan mengimani Nabi Adam AS dan Nabi Idris AS bukan Rasulullah.

Sedangkan mengenai masalah ibadahnya yang tidak sesuai yaitu membolehkan niat salat di luar takbiratul ihram, mengharamkan baca qunut pada shalat Subuh, mengharamkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, haram berzikir dan berdoa berjama’ah, serta wajib mengikuti hanya Alquran dan hadist dalam bidang aqidah, syariah dan akhlak.

Dengan mematuhi aturan qanun dan fatwa ulama tersebut sama dengan mematuhi perintah agama sebagaimana yang tersebut dalam Alquran yakni 'Ulil Amri Minkum".

Semoga kita dapat mematuhi aturan dan fatwa tersebut di atas, dan juga harus dapat membentengi diri dan keluarga daripada ajaran sesat menyesatkan di luar Ahlussunnah Waljamaah.  (yma)

Sumber : fb Khairul


Powered by Blogger.