VIDEO, Syeikh As-Sudais Tak Bisa Menghargai Ikhtilaf, Mencemoohkan Pelaku Maulid Sebagai Kafir Musyrik

Mudhiatulfata.com - Sebagai petugas untuk mengimami shalat bagi umat muslimin di Mesjidil Haram, Mekah Almunawwarah, dan dengan alunan suara qari Syeikh Abdur Rahman Abdul Aziz As-Sudais yang sering kita dengar pembacaan Alqurannya, namun siapa yang menyangka dibalik kelembutan suaranya itu ternyata tidak sebagus sikap dan akhlaknya yang telah membuat muslimin yang berbeda dengan kelompoknya merasa tersakiti dan terhinakan. Demikian pernyataan beliau tersebut yang diungkapkan dalam khutbah jum'at beberapa tahun yang lalu.
Gambar ini saat memberi khutbah Jum’at di Mesjid Haram, Mekah
Diperparah lagi ada yang menganggap ia sangat hebat dengan segala tindakannya yang tidak patut dikritik atau dilawan. Padahal ia hanyalah seorang ia biasa dan ia bukanlah seorang nabi maupun rasul yang ma'sum untuk tidak boleh ditegur ataupun dikritik.

Herannya di kalangan orang-orang yang mengkultuskannya tersebut seolah-olah sudah menyembah As-Sudais dengan mendakwa syarat sah haji dan umrah mesti shalat di belakang As-Sudais ini, memang ternyata ini sangat fanatik bagi orang-orang demikian.

Sekarang tahukah anda, apa sebabnya? Itu disebabkan karena :

- Syeikh Abdur Rahman As-Sudais menghukum umat Islam yang menyambut Maulid Nabi sebagai pelaku sesat dan musyrik.
- Syeikh Abdur Rahman As-Sudais menghukum umat Islam yang menyambut Maulid Nabi serupa dengan kafir yang tidak sah imannya.

Dalam video ini adalah saat ia memberi khutbah Jum’at di Mesjid Haram, dan yang amat disayangkan, beliau sebagai orang yang berpendidikan tapi tidak mencorakkannya sebagai seorang yang bijaksana. 

Mungkin memang pantas demikian, mengingat keilmuan dia beliaum cukup karena ia hanyalah seorang imam shalat yang hanya pandai menghafal Quran atau hadis, akan tetapi ia tidak bisa mensyarahkan secara ilmiah apa-apa yang tertulis dalam ayat dan hadis tersebut.

Bagi orang-orang di kalangan Wahabi Salafi, pemvonisan semacam itu mungkin sudah terbiasa hingga dengan lancan berani menganggap dan menuduh muslimin selainnya sebagai sesat, syirik, kuburiyun dan murtad, namun harusnya Syeikh As-Sudais sebagai seorang yang telah diituakan dituntut wajib menjaga ikhtilaf demi persatuan umat ini dan bukan justru merusaknya.

Kalau mau membicarakan secara ilmiah, dari hadis Nabi saja jelas telah menyatakan bahwa bagaimana kriteria kaum Khawarij yakni orang-orang yang membaca Al Qur’an atau Hadits, namun tidak diamalkannya. 
Ucapannya tidak melampaui kerongkongan dan hanya di mulut saja. Apa yang dibacakannya tak sampai ke otak mereka dan tidak dipahami secara benar dan tepat, dan penafsirannya pun bertentangan dengan Jumhur Ulama di seluruh dunia.

Akibatnya selain menghina sesama Muslim dengan kata-kata yang menyakitkan seperti Ahli Bid’ah, Kuburiyyun (Penyembah Kuburan), Musyrik, Sesat, Kafir, dan sebagainya. 
Sabda Nabi Saw :

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya sebagai musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”. (HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr).

Pemvonisan tersebut sudah terlalu melampaui batas karena itu sama saja telah menghukumi KAFIR (takfir) kepada jutaan umat Islam pelaku maulid Nabi. Juga termasuk seluruh kepala-kepala negara, raja-raja, para menteri  dan umat Islam. 
Terlebih buruk lagi menghukum kafir ke atas ulama-ulama Islam. Padahal apabila ia seorang muslim yang baik maka harusnya ia menghormati dan menghargai perbedaan pandangan ini dan bukannya malah menghina muslim lain sebagai kaum musyrikin.

Jika Syeikh As-Sudais tidak ingin melakukan maulid silahkan saja dan tidak mengapa, akan tetapi janganlah lalu ghuluw melampaui batas menghukumi umat Islam yang melakukannya sehingga jadilah umat Islam di seluruh dunia itu terkafirkan.

Sayangnya lagi, beliau menyangka apa-apa yang dibawakannya adalah sangat benar dan paling nyunnah, padahal beliau tidak pernah menyadari bahwa di atas langit ada langit, bermaksud bahwa kepintaran ahli ilmu jangan disangka hanya ada pada diri mereka saja tapi ilmu itu juga ada pada semua orang, dan itu tergantung pula pada keahlian masing-masing dalam mencerna dan menyikapinya. Hal ini bermakna, dibutuhkannya sebuah nilai penghargaan kepada ahli-ahli ilmu lain yang ada di seluruh muslim dunia dan bukan hanya di Arab Saudi saja. 

Permasalahannya sekarang adalah:
- Mengapa Syeikh As-Sudais terlalu berlebihan dalam menghukum amalan umat Islam yang mempunyai dalil?
- Tidakkah boleh As-Sudais bersangka baik ke atas amalan umat Islam?
- Apa yang As-Sudais sakit hati sangat dengan Maulid Nabi ini?
- Adakah orang jahil menganggap As-Sudais nabi atau rasul yang ma'sum tidak boleh ditegur dan dikritik secara ilmiah?
- Apa hebatnya pula Syeikh Abdur Rahman As-Sudais yang berani menghina, mengutuk dan merendahkan Sahabat Nabi Muhammad?  
- Dan apa derajatnya dibanding dengan para Sahabat Nabi?
- Dan apa hak As-Sudais untuk mengkritik & hina Sahabat Nabi pula?


Berikut videonya :

Semoga saja Allah Swt memberikan petunjuk hidayah khusus kepada Syeikh As-Sudais dan kelompok Salafi Wahabinya, bagi saudara-saudara muslim yang telah menyimpang lainnya dan juga kepada kita semua agar dapat terhindar dari segala bentuk fitnah dan sifat-sifat yang  bisa membuat persatuan umat lslam ini pecah. Amin.  (yma)

No comments

Powered by Blogger.