Bagaimana Solusi Untuk Bughot (Memberontak)..?


Mudhiatulfata.com - Islam ini agama yang sangat sempurna diciptakan Allah, dari hal yang sepele hingga ke hal yang paling besar. Seperti hal peperangan yang berimbas pada kemanusiaan maka ini merupakan hal yang besar dan buruk bagi umat islam.

Rasulullah pernah mengatakan dalam hadisnya bahwa apabila umat berselisih maka akan kembali kepada Alquran dan Sunnah dan bersatu dalam Aswadul A'dham (jamaah umat islam mayoritas). Jika terjadi perselisihan dan peperangan maka umatnya diajarkan agar memakai cara-cara yang diajarkannya.

Merujuk pada Alquran di surat Al-Hujuraat ayat 9 menjelaskan bahwa apabila ada dua golongan dari golongan orang-orang Mukmin mengadakan peperangan, maka damaikanlah antara keduanya. Kalau salah satunya berbuat menentang perdamaian kepada lainnya, maka perangilah orang-orang (golongan) yang menentang itu sehingga mereka kembali ke jalan Allah. Kalau mereka kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan memang harus berbuat adillah kamu sekalian. Sesungguhnya Allah itu mencintai pada orang-orang yang berlaku adil.

Jika pemimpinnya zhalim, pemimpin tersebut dinasehati agar ia sadar dan tidak lagi berbuat zhalim dapat memperbaiki sikapnya. Jika ia tetap tidak sadar maka umat islam dianjurkan bersabar, dan berdoa agar dapat hidup dalam kondisi yang nyaman dan aman serta negara dapat dipimpin oleh orang-prang yang baik.
Namun sebaliknya apabila masih tetap dilakukan pemberontak apalagi hanya karena hawa nafsu untuk berkuasa menjadi pemimpin, maka pemberontak harus meletakkan senjata. Jika tidak mau, wajib diperangi pemberontakan apalagi sampai menumpahkan darah, maka hukumnya adalah mati, kecuali jika mereka menyerah.

Keterangan tentang persoalan ini dapat dijumpai dalam sepucuk surat yang dikirim oleh khalifah Saidina Ali r.a kepada kaum Bughot, dari Abdullah bin Syaddad ia berkata, berkata Saidina Ali r.a. kepada kaum khawarij:

“Kamu boleh berbuat sekehendak hatimu dan antara kami dan antara kamu hendaklah ada perjanjian, yaitu supaya kamu jangan menumpahkan darah yang diharamkan (membunuh).
Jangan merampok di jalan, jangan menganiaya seseorang. Jika kamu berbuat itu, penyerangan akan diteruskan terhadap kamu sekalian (HR. Ahmad dan Hakim).

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengangkat senjata melawan kita, bukanlah termasuk golongan kita.” Muttafaq Alaihi.

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa keluar dari kepatuhan dan berpisah dari jama’ah, lalu ia mati, maka kematiannya adalah kamatian jahiliyyah.” Riwayat Muslim.

Dari Ibnu Umar Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Apakah engkau tahu wahai anak Ummu Abd, bagaimana hukum Allah terhadap orang yang memberontak umat ini?”. Ia menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Tidak boleh dibunuh orang yang luka dan tawanannya, tidak boleh dikejar orang yang lari, dan tidak boleh dibagi hartanya yang dirampas.” Riwayat Al-Bazzar dan Hakim. Hakim menilainya hadits shahih.

Arfajah Ibnu Syuraih r.a, berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa datang kepadamu ketika keadaanmu bersatu, sedang ia ingin memecah belah persatuanmu, maka bunuhlah ia.” Riwayat Muslim.

Jadi seandainya 6 juta ummat Islam di AS kini memberontak terhadap pemerintah AS yang jumlah penduduknya 300 juta jiwa, itu adalah haram karena dapat menimbulkan banyak korban. Alih-alih untuk kebebasan bagi umat Islam di AS, malah justru umat islam akan bisa habis dibantai karena jumlah dan senjata tidak seimbang.

Peperangan hanya dibolehkan seperti dahulu, saat pemerintahan  Islam di Madinah sudah terbentuk maka begitu kafir dari Mekkah menyerang negara orang-orang Islam berhak membela diri.
Pertempuran hanya terjadi di medan perang, dan rakyat tetap aman di rumah mereka masing-masing, walaupun musuh yang mundur dari medan perang pun aman, sementara yang menyerah ditawan untuk kemudian dibebaskan setelah perang usai.
Pada perang Badar, hanya 84 orang yang tewas. Pada Perang Uhud, hanya 102 orang yang tewas, sementara pada Futuh Mekkah tidak ada korban yang tewas.

Begitulah contoh Islam yang sebenarnya, mengajak umat agar dapat menghindari Fitnah dan Pembunuhan, bukan malah berbangga diri mengaku sebagai “Mujahidin” apalagi sampai membunuh sesama Muslim yang telah ia kafirkan terlebih dahulu.

Pada perang antar negara , umumnya perang berlangsung di perbatasan atau di medan perang, sehingga rakyat punya banyak waktu untuk menyelamatkan diri. Namun perang pada Bughot (pemberontakan) adalah perang yang terjadi di dalam negeri sehingga di rumah-rumah rakyat. Sehingga rakyat jadi korban, maka itulah sebabnya bughot itu menjadi haram.

Seperti contoh kisah dahulu saat Futuh Mekkah, negara Islam memberi ultimatum /pilihan sehingga musuh bisa menyerah dengan selamat. Tak ada korban dalam Futuh Mekkah. Demikian juga pada saat mengepung Yerusalem pun sultan Shalahuddin Al Ayubi memberi ultimatum terlebih dahulu sehingga pihak musuh bisa menyerah dengan selamat. Itulah contoh bagusnya ajaran Islam.

Sebagaimana penjelasan Alquran dalam surat An-Nisa: 59, hendaknya kita taat kepada pemimpin. Sezalim apa pun selama mereka sholat, kita tidak boleh bughot. Meski demikian, kita harus melihat apa yang mereka perintahkan. Kalau perintahnya adalah maksiat kepada Allah, misalnya membunuh manusia, kita tidak boleh mentaati mereka, tidak ada ketaatan untuk bermaksiat kepada Allah meski pun kita tetap dilarang berbughot:
Tidak ada ketaatan kepada orang yang tidak taat kepada Allah. (Abu Ya’la). 
Ketaatan hanya untuk perbuatan makruf. (HR. Bukhari).
Tiada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Pencipta. (HR. Ahmad dan Al Hakim).

Sebaik-baik pemimpin adalah yang kamu cintai dan mereka mencintaimu. Kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakanmu. Sejahat-jahat pemimpin adalah yang kamu benci dan mereka membencimu. Kamu kutuk mereka dan mereka mengutukmu. Para sahabat bertanya, “Tidakkah kami mengangkat senjata terhadap mereka?” Nabi Saw menjawab, “Jangan, selama mereka mendirikan shalat. Jika kamu lihat perkara-perkara yang tidak kamu senangi maka bencimu terhadap amal perbuatannya dan jangan membatalkan ketaatanmu kepada mereka.” (HR. Muslim).

Di bawah kita saksikan berapa banyak korban tewas akibat Bughot dan Perang Saudara. Ratusan ribu nyawa dan harta ribuan trilyun rupiah tak sebanding dengan kekuasaan yang akan diraih :

-          Perang Saudara di AS (April 1861-May 1865 (4 years, 1 month)) 618.222: tewas dari 31.443.321 penduduk AS di tahun 1860 (hasil sensus terakhir sebelum perang).

-          Perang Saudara di Spanyol (July 1936-April 1939 (2 years, 9 months). 500,000: tewas dari 24.849.298 penduduk di tahun 1935 (menurut the National Statistics Institute of Spain).

-          Perang Saudara di Libya (February 2011-October 2011 (8 months). 30,000: tewas dari 6.461.454 penduduk Libya di tahun 2011 (Menurut CIA World Factbook).

Di sinilah jadi haram karena akibatnya berdampak sangat merugikan korban dan korban kemanusiaan yang luar biasa.

Seluruh negara saat ada pemberontak bersenjata, termasuk AS yang katanya menjunjung HAM, pasti membasmi pemberontak dengan tegas. Tak peduli nyaris 2% dari penduduknya tewas. Begitu pula pemerintahan negara Islam. Karena itu tak pantas para Ulama Bughot menuduh penguasa Muslim seperti Qaddafi sebagai zhalim karena memenjara dan menghukum mati para pelaku bughot.

Bahkan sebenarnya lebih baik menghukum mati 100 orang pelaku Bughot daripada 100.000 orang mati karena bughot. Bughot/Pemberontakan bersenjata itu jumhur ulama sepakat haram. Karena kerusakannya amat besar. Sementara kebaikan yg diharap tidak pasti.

Lalu cara menjatuhkan pemimpin yang zalim tanpa pemberontakan bersenjata yaitu hanya dengan melakukan Aksi Damai Raksasa, demikian menurut Syekh Al Azhar Dr Ahmad Tayyib.


Maka sebagai akhir tulisan ini, apa-apa yang telah terjadi pada pemberontakan terhadap negara-negara Muslim terutama seperti yang terjadi selama ini di Libya, Irak, Yaman, Suriah adalah sebuah kemungkaran dan bentuk ketidakpatuhan umat islam terhadap agamanya. Dan ini harus dapat segera dicegah dan dihindari karena akan berdampak sangat merugikan umat islam itu sendiri. (yma)


Sumber: riyadhush shalihin

No comments

Powered by Blogger.