Bermazhab Bagi Umat Islam Wajib & Dianjurkan, Bukan Menafikannya

TULISAN ini adalah saduran dan rangkuman dari artikel yang berjudul “Otentik Ibadah Rasulullah Terjabarkan dalam Mazhab” yang ditulis oleh seorang ulama MPU Aceh yaitu Tgk H Faisal Ali atau juga dikenal dengan sebutan Lem Faisal atau Abu Sibreh. Tulisannya yang pernah dilansir harian serambi setahun yang lalu, namun terasa perlu diangkat kembali mengingat selama ini ada sebagian kelompok yang mengaku bermazhab tapi pada praktik pengamalannya justru menafikan bahkan mencemoohkan ulama-ulama mazhab tersebut pula. 

Dalam tulisannya Abu Sibreh banyak menjelaskan penjabaran yang luas, di antaranya mulai dari pengertian detail tentang hal ibadah. Menurutnya ibadah secara etimologi yakni berasal dari kata bahasa Arab yaitu abida-ya’budu-‘abdan-‘ibaadatan yang berarti taat, tunduk, patuh dan merendahkan diri. Semua pengertian itu mempunyai makna yang berdekatan. Seseorang yang tunduk, patuh dan merendahkan diri dihadapan yang disembah disebut abid (yang beribadah).
Menurut ahli fiqih ibadah adalah:
“Segala bentuk ketaatan yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharapkan pahala-Nya di akhirat.”

Dari pengertian yang dikemukakan oleh ahli fiqih di atas ibadah adalah semua yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang-terangan maupun tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah dan mengharapkan pahala-Nya.”

Setiap muslim tidak hanya dituntut untuk beriman, tetapi juga dituntut untuk beribadah. Karena Islam adalah agama ibadah, bukan hanya keyakinan. Ia tidak hanya terpaku pada keimanan semata, melainkan juga pada amal ibadah nyata. Islam adalah agama yang dinamis dan menyeluruh. Dalam Islam, keimanan harus diwujudkan dalam bentuk ibadah nyata, yaitu amal kebaikan yang dilakukan karena Allah.

Ibadah dalam Islam tidak hanya bertujuan untuk mewujudkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga untuk mewujudkan hubungan antar sesama manusia. Islam mendorong manusia untuk beribadah kepada Allah Swt dalam semua aspek kehidupan dan aktivitas. Baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat. Allah berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).


Mengikuti Nabi Muhammad 

Dalam beribadah kita harus mengikuti tata cara ibadah Nabi Muhammad saw secara kaffah dalam arti sebuah ibadah baru sesuai dengan ibadah Nabi seutuhnya apabila ada perpaduan antara syarat dan rukun serta sunatnya seutuhnya. Karena sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kita semua untuk senantiasa mengikuti tuntunan Nabi Muhammad dalam segala hal, dengan firman-Nya:
“Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7).

Dan Rasulullah saw juga telah memperingatkan agar meninggalkan segala perkara ibadah yang tidak ada contoh atau tuntunannya dari beliau, sebagaimana sabda beliau:
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka amal itu tertolak.” (HR. Muslim).

Ibadah shalat misalnya, Rasul telah meninggalkan begitu banyak hadis yang satu dengan lainnya kadang saling berbeda tentang syarat-syaratnya dan hadis tentang model shalatnya juga begitu banyak dan berbeda-beda. Pada saat Rasulullah megambil wudhuk dengan membasuh sebagian kepala, maka shalat yang beliau kerjakan dengan membaca bismillah pada surah al-Fatihah.

Perpaduan antara wudhuk dan shalat model ini adalah hasil dari kajian (ijtihad) mendalam yang dilakukan oleh Imam Syafie pada hadis-hadis tentang syarat wudhuk dan shalat (mazhab Syafie) dan pada waktu Rasulullah berwudhuk membasuh seluruh kepala, maka dalam shalatnya beliau tidak membaca bismillah pada surah al-Fatihah dan model ini merupaka hasil kajian (ijtihad) oleh Imam Ahmad bin Hambal (mazhab Hambali).

Banyak hadis yang menceritakan tentang beragam model wudhuk yang dicontohi oleh Rasul dan juga lebih banyak lagi hadis yang menjelaskan berbagai model ibadah shalat yang dikerjakan oleh Rasulullah saw. Karena banyak model wudhuk dan shalat Rasulullah, maka perlu ditelusuri bagaimana yang sebenarnya perpaduan antara syarat yang tersebut dalam hadis dengan model A dengan shalat yang tersebut dalam hadis dengan model A juga, sehinggga bersatu antara syarat shalat dan ibadah shalat itu sendiri.

Beribadah dengan perpaduan antara syarat dan rukun yang telah dijabarkan oleh Imam mazhablah yang sebenarnya otentik dengan ibadah yang dikerjakan oleh Rasulullah saw sebagaimana sabda beliau:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini adalah perintah Rasulullah kepada umatnya agar meneladani tata cara shalat sesuai dengan apa yang beliau tuntunkan dan secara implisit dari hadist di atas beliau juga menuntun umatnya untuk berwudhuk dengan meneladaninya sekaligus pada perpaduan antara wudhuk dan shalatnya.
Ibadah yang hanya mengikuti hadis Nabi secara parsial, yaitu tidak memadukan antara syarat dan rukun ibadah secara utuh dan menyeluruh maka sangat jauh dari otentik ibadah Rasulullah saw. Semoga kita semuanya benar-benar menjadi hamba Allah yang mengikuti tata cara ibadah Rasulullah secara kaffah.

Dari uraian di atas maka bermazhab itu merupakan perkara Wajib untuk diikuti oleh semua umat lslam, dengan berbagai pertimbangan selaku orang yang masih menganggap diri kurang dalam kapasitasnya sebagai pencari ilmu agama ini. (yma)

No comments

Powered by Blogger.