Islam Melarang Pemberontakan


Mudhiatulfata.com - Sebahagian orang-orang merasa merasakan ingin berjuang dan berjihad membela kebenaran menurutnya padahal apa yang mereka lakukan adalah menumpah darahkan sesama umat manusia, baik dalam suatu negara yang mayoritas ataupun minoritasnya islam.

Dalam urusan berjihad untuk membrontak (bughot) hendaknya sebagai umat islam harus memiliki ilmu lebih dahulu, karena urusan jihad sama dengan urusan amal, sesuatu amal jika dilakukan tiada berilmu maka akan tertolak. Sedangkan bila mau mencari ilmu maka ulama tempatnya, maka apa-apa yang diajarkan oleh ulama wajib kiranya untuk dipatuhi dan diikuti, jangan malah menyudutkan ulama dengan tuduhan yang buruk seperti ulama suuk, ulama pemerintah, ulama mata duitan, dan sebagainya.

Ketahuilah dalam beramal tanpa ilmu maka sia-sia dan kelak akan ditempatkan di neraka bukannya masuk surga. Kita harus paham Hukum tentang pembrontakan bughot, membunuh Muslim, mengkafirkan Muslim, bersekutu dengan Kafir membunuh Muslim, dan sebagainya.

Sebagai umat islam Ahlissunnah waljamaah, permasalahan pemberontakan itu penting untuk diketahui karena hukumnya adalah haram, jangankan kepada Muslim bahkan terhadap orang-orang kafir sekalipun. Seperti yang tersebut dalam Alquran surat Thaahaa 43-44, hukuman bughot adalah mati.
Arfajah Ibnu Syuraih Ra berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa datang kepadamu ketika keadaanmu bersatu, sedang ia ingin memecah belah persatuanmu, maka bunuhlah ia.” Riwayat Muslim.
Dari Abu Said al Khudriy bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila ada baiat kepada dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Ahmad).

Terhadap seorang rakyat yang menghina dirinya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata:
“Aku tidak seburuk Fir’aun dan Kamu tidak sebaik Musa”.
Apa firman Allah kepada Musa:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [Thaahaa 43-44].

Ibrahim, Musa, Muhammad, dan Pemuda Ashabul Kahfi tidak bughot terhadap Raja Namrudz, Fir’aun, dan penguasa Kafir Mekkah saat itu. Saat Nabi terluka akibat dilempari penduduk Thaif yang menolak dakwah Nabi, Malaikat menawarkan kepada Nabi untuk menghancurkan penduduk Thaif dengan gunung-gunung di sekelilingnya.
Namun Nabi menolak dan mengatakan siapa tahu nanti kelak dari keturunan mereka akan menjadi Muslim, dan ini memang benar dan dibuktikan. Lihat saja sekarang negeri-negeri yang dilalui para Nabi dan pengikutnya dahulu seperti Jazirah Arab, Persia, benua Afrika, Eropa dan Asia dan sebagainya saat ini telah menjadi negeri-negeri Muslim. Bayangkan jika para Nabi bughot, tentu sebagian besar rakyat di negeri-negeri tersebut juga hancur walaupun tidak hancur maka tentulah generasi-generasi mereka akan mencela para pembela islam ini sebagai kaum yang barbar dan penghancur.

Membunuh sesama Muslim tempatnya neraka:
Jika terjadi saling membunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Itu untuk si pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?” Nabi Saw menjawab, “Yang terbunuh juga berusaha membunuh kawannya.” (HR. Bukhari).

Mengkafirkan orang yang mengucapkan Salam itu haram:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia…” [An Nisaa’ 94].
Dan haram pula bersekutu dengan Yahudi dan Nasrani untuk bughot membunuh sesama Muslim;
“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani),..” [Al Maa-idah 52].

Hindari Da’i-da’i yang malah menyeru ke neraka, karena mereka mengajak kita mengkafirkan, membunuh Muslim bahkan kepada ulama, bughot dan bersekutu dengan Yahudi dan Nasrani memerangi Muslim.

Hadits Hudzaifah: Nabi bersabda:
“Ya, para da’i yang mengajak ke pintu neraka Jahanam. Barang siapa yang mengikutinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda: “Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita”. Aku bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya?
Beliau bersabda: “Berpegang teguhlah pada jama’ah Muslimin dan imamnya”. Aku bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?” Beliau bersabda: “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”.
(Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399).

Bughot itu artinya memberontak terhadap pemerintah yang sah dengan senjata. Mengenai Bughot ini ada ulama yang membolehkan. Ada pula ulama yang mengharamkannya. Mari kita kaji Al Qur’an dan Hadits soal ini.

Allah Ta’ala berfirman: “Hai sekalian orang yang beriman, taatlah engkau semua kepada Allah dan taat pulalah kepada Rasulullah, juga kepada orang-orang yang memegang pemerintahan dari kalanganmu sendiri.” (an- Nisa’: 59).

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w, sabdanya: “Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dengan patuh serta mentaati, baik dalam hal yang ia senangi dan yang ia benci, melainkan jikalau ia diperintah untuk sesuatu kemaksiatan. Maka apabila ia diperintah oleh penguasa pemerintahan dengan sesuatu kemaksiatan, tidak bolehlah ia mendengarkan perintahnya itu dan tidak boleh pula mentaatinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Ibnu Umar r.a. pula, katanya: “Kita semua itu apabila berbai’at kepada Rasulullah s.a.w. untuk mendengar dengan patuh dan mentaati apa-apa yang diperintahkan olehnya, Beliau selalu bersabda: “Dalam apa yang engkau semua kuasa melaksanakannya yakni dengan sekuat tenaga yang ada padamu semua-.” (Muttafaq ‘alaih).

Dari Ibnu Umar r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Barangsiapa yang melepaskan tangan ketaatan yakni keluar dari ketaatan terhadap penguasa pemerintah, maka orang itu akan menemui Allah pada hari kiamat, sedang ia tidak mempunyai hujjah alasan lagi untuk membela diri dari kesalahannya itu.
 Adapun yang meninggal dunia sedang di lehernya tidak ada pembai’atan untuk mentaati pada pemerintahan yang benar, maka matilah ia dalam keadaan mati jahiliyah.”(Riwayat Muslim).
Dalam riwayat Imam Muslim yang lain disebutkan: “Dan barangsiapa yang mati dan ia menjadi orang yang memecah belah persatuan umat -kaum Muslimin, maka sesungguhnya ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”

Dari Anas r.a : “Rasulullah bersabda:
“Dengarlah olehmu semua dengan patuh dan taatlah pula, sekalipun yang digunakan yakni yang diangkat sebagai pemegang pemerintaha atasmu semua itu seorang hamba sahaya keturunan Habsyi orang berkulit hitam, yang di kepalanya itu seolah-olah ada bintik-bintik hitam kecil-kecil.” (Riwayat Bukhari).

Dari Abu Hurairah r.a, katanya: “Rasulullah bersabda:
“Wajiblah atasmu itu mendengar dengan patuh serta mentaati baik engkau dalam keadaan sukar ataupun lapang, juga baik engkau dalam keadaan rela menerima perintah itu ataupun dalam keadaan membencinya dan juga dalam hal yang mengalahkan kepentingan dirimu sendiri.” (Riwayat Muslim).

Dari Abu Hunaidah yaitu Wail bin Hujr r.a. katanya:
“Salamah bin Yazid al-Ju’fi bertanya kepada Rasulullah s.a.w. lalu ia berkata:
“Ya Nabiyullah, bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau kita semua diperintah oleh beberapa orang penguasa, mereka selalu meminta hak mereka dan menghalang-halangi apa yang menjadi hak kita. Apakah yang Tuan perintahkan itu terjadi? ” Beliau s.a.w. memalingkan diri dari pertanyaan itu seolah-olah tidak mendengarnya.
Kemudian Salamah bertanya sekali lagi, kemudian Rasulullah bersabda:
“Dengarlah olehmu semua -apa yang diperintahkan dan taatilah, sebab sesungguhnya atas tanggungan mereka sendirilah apa-apa yang dibebankan pada mereka -yakni bahwa mereka berdosa jikalau mereka menghalang-halangi hak orang-orang yang di bawah kekuasaannya dan atas tanggunganmu sendiri pulalah apa yang dibebankan padamu semua yakni engkau semua juga berdosa jikalau tidak mentaati pimpinan orang yang sudah sah dibai’at.” (Riwayat Muslim).

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a, katanya: “Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya saja akan datanglah sesudahku nanti suatu cara mementingkan diri sendiri dari golongan penguasa negara sehingga tidak memperdulikan hak kaum Muslimin yang diperintah serta beberapa perkara-perkara yang engkau semua mengingkarinya tidak menyetujui karena menyalahi ketentuan-ketentuan syariat.”
Para sahabat lalu berkata: “Ya Rasulullah, kalau sudah demikian, maka apakah yang Tuan perintahkan kepada yang orang menemui keadaan semacam itu dari kita -kaum Muslimin-?” Beliau S.a.w. menjawab: “Engkau semua harus menunaikan hak orang yang harus menjadi tanggunganmu dan meminta kepada Allah hak yang harus engkau semua peroleh.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Hurairah r.a, katanya; “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia telah mentaati Allah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat pula kepada Allah dan barangsiapa yang mentaati amir -pemegang pemerintahan, maka ia benar-benar mentaatiku dan barangsiapa yang bermaksiat kepada amir, maka ia benar-benar bermaksiat kepadaku.” (Muttafaq ‘alaih).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang membenci sesuatu tindakan dari amirnya yang memegang pemerintahannya, maka hendaklah ia bersabar, sebab sesungguhnya barangsiapa yang keluar -yakni membangkang- dari seorang sultan -penguasa negara- dalam jarak sejengkal, maka matilah ia dalam keadaan mati jahiliyah.” (Muttafaq ‘alaih).
Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang kalian mengetahui mereka namun kalian mengingkarinya. Maka barang siapa yang membencinya ia telah bebas dan dan barang siapa yang mengingkarinya ia telah selamat, akan tetapi orang yang rela dan mengikuti.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah tidak kita perangi mereka?” Beliau menjawab:”Tidak, selama mereka masih sholat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

Dari Abu Bakrah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang merendahkan seorang sultan (penguasa negara), maka ia akan direndahkan oleh Allah.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

Dari Abu Ruqayyah Tamim ad-Dari, bahwa Nabi telah bersabda, “Agama (Islam) itu adalah nasehat.” (beliau mengulanginya tiga kali), Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para Imamnya kaum Muslimin, dan kaum muslimin umumnya.” [HR Bukhari, Muslim, Ahmad].

Penjelasan hadits di atas di antaranya dilarang memberontak terhadap para pemimpin dan menasehati dengan cara yang baik terhadap sesama Muslim:

“Nasehat bagi para imam/pemimpin kaum muslimin”.
Artinya, membantu dan mentaati mereka di atas kebenaran, memerintahkan dan mengingatkan mereka untuk berdiri di atas kebenaran dengan cara yang halus dan lembut.
Mengabarkan kepada mereka ketika lalai dari menunaikan hak-hak kaum muslimin yang mungkin belum mereka ketahui, tidak memberontak terhadap mereka, dan melunakkan hati manusia agar mentaati mereka.

Imam al-Khaththabi menambahkan, “Dan termasuk dalam makna nasehat bagi mereka adalah shalat di belakang mereka, berjihad bersama mereka, menyerahkan shadaqah-shadaqah kepada mereka, tidak memberontak dan mengangkat pedang (senjata) terhadap mereka –baik ketika mereka berlaku zhalim maupun adil-, tidak terpedaya dengan pujian dusta terhadap mereka, dan mendoakan kebaikan untuk mereka.
Semua itu dilakukan bila yang dimaksud dengan para imam adalah para khalifah atau para penguasa yang menangani urusan kaum muslimin, dan inilah yang masyhur”. Lalu beliau melanjutkan, “Dan bisa juga ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan para imam adalah para ulama, dan nasehat bagi mereka berarti menerima periwayatan mereka, mengikuti ketetapan hukum mereka (tentu selama mengikuti dalil), serta berbaik sangka (husnu zh-zhan) kepada mereka”. (Syarah Shahih Muslim (2/33-34), I’lam al-Hadits (1/192-193)).

“Nasehat bagi kaum muslimin umumnya”.
Artinya, membimbing mereka menuju kemaslahatan dunia dan akhirat, tidak menyakiti mereka, mengajarkan kepada mereka urusan agama yang belum mereka ketahui dan membantu mereka dalam hal itu baik dengan perkataan maupun perbuatan, menutup aib dan kekurangan mereka, menolak segala bahaya yang dapat mencelakakan mereka, mendatangkan manfaat bagi mereka, memerintahkan mereka melakukan perkara yang ma’ruf dan melarang mereka berbuat mungkar dengan penuh kelembutan dan ketulusan.
Mengasihi mereka, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda dari mereka, diselingi dengan memberi peringatan yang baik (mau‘izhah hasanah), tidak menipu dan berlaku hasad (iri) kepada mereka, mencintai kebaikan dan membenci perkara yang tidak disukai untuk mereka sebagaimana untuk diri sendiri, membela (hak) harta, harga diri, dan hak-hak mereka yang lainnya baik dengan perkataan maupun perbuatan, menganjurkan mereka untuk berperilaku dengan semua macam nasehat di atas, mendorong mereka untuk melaksanakan ketaatan dan sebagainya (Syarh Shahih Muslim (II/34), I’lamul-Hadits (I/193)).

Diterangkan oleh Syaikh Abdul Qadir Audah dalam al-Tasyri’ al-Jina’

ومع ان العدالة شرط من شروط الامامة الا ان الرأي الراجح في المذاهب الاربعة ومذهب الشيعة الزيدية هو تحريم الخروج على الامام الفاسق الفاجر ولو كان الخروج للامر بالمعروف والنهي عن المنكر لان الخروج على الامام يؤدي عادة الى ماهو انكر مما فيه وبهذا يمتنع النهي عن المنكر لان مشروطه لايؤدي الانكار الى ماهو انكر من ذلك الى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد واضلال العباد وتوهين الامن وهدم النظام

“Memang sikap adil merupakan salah satu syarat-syarat menjadi imam / pemimpin, hanya saja pendapat yang  kuat dalam kalangan madzhab empat dan madzhab Syi’ah Zaidiyyah mengharamkan bertindak  bughot/berontak terhadap imam yang fasik lagi curang walaupun  bughot itu dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar. Karena  egar kepada imam biasanya akan mendatangkan suatu keadaan yang lebih munkar dari pada keadaan sekarang. Dan sebab alasan ini maka tidak diperbolehkan mencegah kemungkaran, karena persyaratan mencegah kemungkaran harus tidak mendatangkan fitnah, pembunuhan, meluasnya kerusakan, kekacauan  negara, tersesatnya rakyat, lemah keamanan dan rusaknya stabilitas”.

Bagaimana bughot terhadap pemimpin yang kafir dan zholim, boleh tidak?

Sesungguhnya sunnah dari Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Muhammad, dan Pemuda Ashabul Kahfi menunjukkan bahwa bughot terhadap pemimpin kafir dan zhalim pun dilarang. Khawatirnya membawa kerusakan.
Fir’aun itu adalah manusia yang paling kafir dan paling zalim. Fir’aun mengaku Tuhan dan membunuh bayi-bayi yang tak berdosa. Meski demikian, Nabi Musa tidak bughot terhadap Fir’aun.
Firman Allah:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [Thaahaa 43-44].
Nabi Muhammad pun saat ditindas penguasa kafir Mekkah bahkan hendak dibunuh tidak bughot. Khawatirnya menimbulkan kerusakan. Padahal dengan pertolongan Allah, niscaya kedua Nabi itu pasti menang. Namun beliau diperintahkan hijrah ke Madinah. Begitu pula para pemuda Ashabul Kahfi yang melarikan diri ke gua.
Kenapa Bughot dilarang/diharamkan? Karena menimbulkan kerusakan yang besar, baik di pihak penguasa, mau pun di pihak pemberontak.

Para penguasa memiliki tentara dan senjata yang kuat serta sejumlah pengikut. Sementara pemberontak memiliki sedikit senjata, walaupun pemberontak bisa meningkatkan kemampuannya, namun waktunya bisa lama. Peperangan pun jadi lama dan menimbulkan banyak korban.
Rakyat pun menderita, karena mereka terjebak di medan perang.

Sedangkan dalam kaidah Fiqih adalah “menghindari kerusakan lebih utama daripada mencari kebaikan”.

Di sini kita bisa melihat contoh perang saudara di Libya, Irak, Yaman, Suriah dan sebagaianya adalah contoh hal yang dimkasud dalam penjelasan ini karena meninggalkan kerusakan dan juga korban yang tidak sedikit.
Karena itulah banyak ulama menentang bughot karena kerusakan yang ditimbulkannya itu pasti. Sementara kebaikan berupa mendapat pemimpin yang adil, belum tentu didapat.
Contohnya simple seperti apa ayang terjadi di Libya dan Irak bukannya mendapat khalifah yg adil dan menjalankan Syari’ah, malah didapat pemimpin boneka Amerika Serikat atau Kafir lainnya. 

Padahal islam telah mengingatkan umatnya seperti Alquran berikut ini;
“Dan bila dikatakan kepada mereka, janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab, sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” [Al Baqoroh 11-12].


Sekarang lihatlah apa yang telah terjadi pada negara-negara korban Perang Saudara seperti di negara-negara yang tersebut tadi. Lihat pula di Suriah, jelas sekali seperti maksud hadis Nabi ini mengatakan demikian. Meski ada orang-orang yang mengaku diri Mujahidin telah berjaya, namun lihatlah lebih dari 70 ribu rakyat Suriah tewas, 5 juta orang terusir dari rumahnya karena kena bom dan 1 juta orang terpaksa mengungsi ke luar negeri (Al Jazeera).
Dari 70 ribu korban yang tewas, 15 ribu dari pihak pemerintah, 14 ribu dari pemberontak, dan 41 ribu warga Sipil yang tewas akibat aksi pihak pemerintah dan pemberontak. Ini terjadi dari Maret 2011-April 2013. Padahal penduduk Suriah hanya 21 juta jiwa.

Jangan suka menyebutkan jihad bila hanya menumpahkan darah umat islam, sungguhlah perbuatan yang telah menyelisihkan islam. (yma)


Sumber: riyadhush shalihin

No comments

Powered by Blogger.