Konsekwensi Menganggap Orang Tua Rasulullah Sebagai Kafir Maka Neraka Tempatnya


KELOMPOK Wahabi / Salafi tidak akan berhenti untuk menjelekkan keluarga Rasulullah, sebenarnya apa yang mereka malakukan penghinaan besar-besaran ini kepada keluarga Rasulullah dengan tujuan untuk mengurangi kehormatan Rasulullah dan pengaruh Beliau.
Dan mereka senantiasa akan selalu mencari dalil-dalil yang bisa memperkuat usaha mereka dalam menjelekkan Rasulullah dan keluarganya (kakek, paman, ayah dan ibu Rasulullah), sehingga terjadi adu dalil antara kaum Wahabi yang tidak beretika dengan kaum yang santun.

Jika hubungan Anak dianggap datang dari Orangtua yang Kafir maka pengikutnya termasuk seluruh pengikut Salafi / Wahabi adalah anak haram yang tidak mempunyai turunan Ayah dan Ibu yang memiliki hubungan keluarga yang sah.

Sekte Salafi Wahabi yang terus menyebarkan Syubhat-syubhat di tengah-tengah umat Islam mengatakan kedua Orangtua Nabi Muhammad Kafir dan masuk neraka. Bginilah ajaran Salafi Wahabi sebenarnya  yang suka menyelisih dan menganggap ajarannya saja yang menjadi penghuni Surga.

Bahkan seluruh umat Islampun dihukumi kafir olehnya, merekapun menghalalkan darah umat islam untuk ditumpahkan, pertama mereka menuduh ummat Islam melakukan Bid'ah tercela, Musyrik, Syi'ah, dan terakir menuduh Kafir adalah ketika setiap orang yang menentang kebiadapan Ajaran Salafi Wahabi dan mereka bebas melakukan pembantaian muslimin seperti yang terjadi di Arab Saudi dahulu masa berdirinya dan penghancuran negeri-negeri muslim di masa ini dengan bantuan Amerika Serikat serta Pasukan Salibis lainnya seperti yang terjadi di Libya, Yaman, Suriah, Afganistan, Pakistan dan lain-lain.

Kaum Salafi dalam hal ini ternyata suka mengambil dalil-dalil diluar bab dan ditabrakan kedalam bab lain pula, maksudnya bab penjelasan tentang orang-orang kafir diambil dibawa dan disimpulkan kedalam bab orang-orang islam, inilah sebuah kebodohannya.

Mempermasalahkan status keimanan kakek, paman (Abu Thalib), ayah dan ibu Rasulullah sebenarnya merupakan prilaku yang tidak sopan. Kebiasaan mudah menuduh kafir pada orang lain, membuat mereka berprilaku kelewat batas hingga dengan mudah menuduh kafir mereka.

Memang semua telah Rasulullah SAW isyarahkan dalam hadis mulianya, mengatakan bahwa umatnya tak akan bersepakat dengan perselisihan dan perpecahan, maka ia akan kembali kepada Alquran dan Assunnah serta bersatu dalam Aswadul A'dzham (jamaah mayoritas) atau dikenal dengan kaum Sunni (Ahlisunnah Waljamaah) merupakan jamaah islam terbesar di dunia. 

Perselisihan yang terjadi sebelummya ada beberapa kelompok yang minoritas melakukan perselisihan bahkan mereka telah keluar dari barisan jamaah islam, tapi semenjak lahir kelompok minoritas baru ini mereka bagai bertaring panjang akan menggigit siapa saja yang berselisih dengannya. Salah satu perselisihan yang mereka lakukan adalah mengatakan Orangtua Rasul sebagai Kafir. 
Penuduhan Orangtua Rasul sebagai Kafir membuat mayoritas umat islam yang ada sejak kedatangan kelompok itu saling berkonfrontasi dan menjadi terpecah-belah atau menyelisih dengan yang lainnya. Walau di awal telah ada kelompok lain yang membuat perpecahan umat islam yang juga menganggap Kafir para Sahabat dan Istri Nabi, tapi kini bertambah satu lagi kelompok yang juga sama mengkafirkan Orangtua Nabi.

Kedua kelompok itu sama-sama salah  dan berdosa karena sama-sama mengafirkan orang-orang terkasih Nabi, namun mengafirkan Orantua Nabi maka adalah lebih berat lagi bila ditambah dengan tindakan mereka yang mengharamkan hari lahirnya Nabi. Maka hal inilah yang lebih parah ternyata kelompok yang mengkafirkan Orangtua Nabi ini inbasnya besar sekali bagi umat bahkan bisa memurtadkan muslimin lainnya.

Berkaitan dengan ini pernyataan Habib Luthfi Yahya di Pekalongan, baru-baru ini telah mengatakan bahwa :
"Anti Maulid lebih berbahaya daripada anti Sahabat"
Menurutnya walau anti sahabat juga harus diingatkan, namun yang anti maulid tidak boleh pula untuk dibiarkan. Nah, apalagi jika mereka juga orang yang mengkafirkan Orangtua Nabi.

Kalau melihat lintas dahulu di masa kekhalifahan dan kesultanan (kerajaan) islam, memang ada juga pemahaman dari segelintir orang yang salah memahami Orangtua Rasul sebagai Kafir tapi berkat pemimpin islam masa itu maka perselisihan tersebut sanggup diatasi oleh pemimpin islam masa itu.

Seperti masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau sampai-sampai memberi hukuman kepada orang-orang yang beranggapan Orangtua Nabi itu Kafir, demikian juga di masa kesultanan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi hingga masa kesultanan Turki Usmani. Bahkan saat itu pada di era kepemimpinan Sultan Salahuddin, beliau justru membuat momentum Maulid Nabi sebagai pemersatu umat yang kala itu lemah, demikian pula para sultan yang ada di kekhalifahan Turki tetap membuat umat bersatu padu dalam jamaah dan tidak menyelisih.

Tapi lihatlah semenjak masa kedatangan kelompok yang mengaku dirinya sebagai pemurni tauhid mengaku Sunni tapi ternyata malah ia pula menghidupkan perselisihan tersebut hingga berjalan ke masa sekarang. Beda dengan Syi'ah yang tidak mengaku diri sebagai Sunni tapi berani menunjukan jati dirinya bukan bagian Sunni, tetapi kelompok Wahabi (Salafi) cuma pengakuan doang sebagai Sunni tapi wujudnya malah mereka sangat menyelisih dari Sunni sebagai kelompok yang terbesar.

Di suatu forum, Wahabi / Salafi bahkan dengan bangga mengaku diri sebagai kelompok yang minoritas dan tidak mau mencontohi kaum mayoritas. Bahkan ia menyatakan diri sebagai islam periode dahulu yang minoritas. Tapi toh sayangnya, anggapan mereka salah dalam memahami tentang hadis Aswadul A'dzham (mayority) ini.

Pertanyaannya, mengapa mereka tidak mau bersatu dan bergabung kedalam jamaah yang dimaksudkan Rasul? Apakah memang mereka memang merasa diri paling benar? Kalau mereka merasa kelompok yang mengikuti Alquran dan Assunnah, lalu mengapa mengingkari hadis tersebut dan menyelisihnya?

Hadis riwayat Muslim menyebutkan bahwa Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa kedua orang tuanya ada di neraka. Pernyataan Rasul tersebut merespons pertanyaan perihal nasib kedua orang tua seorang sahabat. “Sesungguhnya, kedua Orangtuamu dan Orangtuaku ada di neraka,” ini hadisnya diungkapkan kepada kaum Kuffar, di sini salah dan mencampuradukan mana pernyataan Nabi ditujukan kepada umatnya dan mana yang bukan.
Kemudian ada satu fakta dan dalil menjelaskan bahwa kedua orang tua Nabi hidup pada masa kevakuman seorang nabi dan rasul. Pascameninggalnya Nabi Isa AS belum ada lagi sosok Rasul yang diutus untuk berdakwah dan membimbing segenap umat. Karena itu, mereka yang berada pada periode kekosongan risalah atau dengan nama masa Fatarah itu dinyatakan selamat dan tidak mendapat siksa. “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS al-Isra' [17]: 15).

Topik ini pun menuai cercaan oleh ulama kelompok tersebut yaitu Syekh Abdullah bin Baz yang berpandangan bahwa riwayat Muslim itu autentik dan valid, tidak mungkin Rasul berdusta atas ucapannya sendiri (QS an-Najm 1-4). Itu menurut Wahabi sekelompok kecil dalam islam tapi tidak bagi kaum mayoritas muslimin di seluruh dunia. Ahlisunnah Waljamaah (Aswj).
Menurutnya, kedua orang tua Rasul akan diminta pertanggungjawaban, apalagi telah terjadi penyimpangan atas ketulusan agama Ibrahim AS. Ini berlangsung ketika Amr bin Luhay al-Awza'i melakukan penodaan agama Ibrahim. Selama menguasai Makkah, Amr mengajak para penduduknya untuk menyembah berhala.

Karena itu, kedua orang tua Rasul, menurut Syekh Abdullah bin Baz, termasuk golongan kufur, merujuk pada hadis riwayat Muslim yang mengisahkan bahwa Allah SWT melarang Rasul mendoakan keselamatan keluarganya, tak terkecuali ayahandanya, Abdullah bin Abdul Muthalib, dan ibundanya, Aminah.

Namun Lembaga Fatwa Mesir, Dar al-Ifta, menyanggah keras pernyataan Syekh Abdullah bin Baz tersebut. Menurut lembaga yang pernah dipimpin oleh Mufti Agung Syekh Ali Juma'h itu, pernyataan bahwa kedua orang tua  Rasul termasuk kufur dan akan menghuni neraka merupakan bentuk arogansi dan ketidaksopanan.
Justru fakta kuat mengatakan, kedua orang Rasul akan selamat dan bukan termasuk penghuni neraka. Pendapat ini menjadi kesepakatan mayoritas ulama, dan tak sedikit ulama terdahulu yang secara khusus menulis risalah sederhana untuk menjawab kegamangan menyikapi topik ini.

Imam as-Suyuthi dalam dua kitab sekaligus untuk menguatkan fakta bahwa orang tua Muhammad SAW akan selamat. Kedua kitab itu bertajuk Masalik al-Hunafa fi Najat Waliday al-Musthafa dan at-Ta'dhim wa al-Minnah bi Anna Waliday al-Mushthafa fi al-Jannah.
Selain kedua kitab tersebut, ada deretan karya lain para ulama, seperti ad-Duraj al-Munifah fi al-Aba' as-Syarifah, Nasyr al-Alamain al-Munifain fi Ihya al-Abawain as-Syarifain, al-Maqamah as-Sundusiyyah fi an-Nisbah al-Musthafawiyyah, dan as-Subul al-Jaliyyah fi al-Aba' al-Jaliyyah. Masih banyak kitab lain yang membantah dugaan bahwa orang tua Rasul akan masuk neraka.

Dar al-Ifta memaparkan, mengacu ke deretan kitab tersebut, kedua orang tua Rasul hidup pada masa fatrah atau kekosongan risalah. Ketika itu, dakwah tidak sampai pada masyarakat Makkah. Ulama ahlussunnah sepakat, mereka yang hidup pada periode kevakuman risalah itu dinyatakan selamat, dan ini merujuk pada ayat ke-15 surah al-Isra' di atas.
Sekalipun keduanya akan melalui ujian melintasi jembatan shirath, seperti halnya umat lainnya maka keduanya termasuk golongan yang taat. “Berbaik sangkalah kedua orang tua Rasul merupakan golongan taat saat ujian melintasi jembatan,” kata Imam Ibn Hajar al-Asqalani, seperti dinukilkan oleh Dar al-Ifta'

Tuduhan bahwa keduanya termasuk kaum musyrik yang menyekutukan Allah dengan berhala, tidak benar. Abdullah dan Aminah tetap konsisten dalam keautentikan agama Ibrahim, yaitu tauhid. Fakta kesucian keyakinan kedua orang tua Rasul ini dikuatkan antara lain oleh Imam al-Fakhr ar-Razi dalam kitab tafsirnya Asrar at-Tanzil kala menafsirkan ayat ke 218-219 surah as-Syu'ara .

Imam as-Suyuthi menambahkan, dalil lain tentang fakta bahwa garis keturunan Rasul yang terdekat terjaga dari aktivitas penyimpangan akidah. Ini seperti ditegaskan hadis bahwa Rasululllah dilahirkan dari garis nasab yang istimewa dan terpilih yang konsisten terhadap tauhid.

Imam as-Suyuthi kembali menerangkan soal hadis Muslim pada paragraf pertama. Tambahan redaksional “dan ayahku di neraka” sangat kontroversial di kalangan pengkaji hadis. Para perawi tidak sepakat tambahan tersebut. Sebut saja al-Bazzar, at-Thabrani, dan al-Baihaqi yang lebih memilih tambahan redaksi “Jika engkau melintasi kuburan orang kafir maka sampaikan berita neraka” dibanding, imbuhan bermasalah tersebut.

Akhirnya mengikuti nasehat ulama-ulama, berbaik sangkalah kedua Orangtua Rasulullah merupakan golongan taat saat ujian melintasi jembatan dan mereka (Orangtua) Rasulullah adalah orang-orang yang baik dan ahliljannah.
Dahulu seorang Qadhi Abu Bakar Ibn al-Arabi pernah ditanya soal topik serupa, ulama dan tokoh bermazhab Maliki ini pun menjawab, bila penganggapan Orangtua Nabi masuk neraka maka terlaknatlah orang yang menjawab demikian. Menganggap kedua Orangtua Nabi sebagai ahli neraka adalah bentuk ungkapan yang melukai perasaan Rasul. 
“Tak ada penganiayan lebih besar ketimbang menyebut kedua orang tua Muhammad SAW penghuni neraka,” kata Ibn al-Arabi.
Ia pun mengutip ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS al-Ahzab [33]:57). 

Semoga semua kita menyadari kebenaran ini, (yma)

saduran dari berbagai sumber

 Baca juga :

No comments

Powered by Blogger.