Aceh Gelap, Abon & Abuya, Dua Lampu Penerang Bumi Aceh Kini Telah Padam Bersahut-Sahutan



Mudhiatulfata.com - Ada apa dengan bumi Aceh? Aceh yang memiliki banyak alim ulama dan auliya Allah kini mulai hilang satu persatu. Bumi Aceh Serambi Mekah pun perlahan mulai redup atas musibah padamnya lampu ini. Belum habis duka yang lalu tapi kini sudah silih berganti datang lagi duka musibah baru bahkan bersahut-sahutan.

Bila pagi hari tadi yang telah pergi meninggalkan dunia ini adalah guru kita ulama kita yang mulia Abon Seulimum atau wafat (Kamis, 21/7/2016) tapi kini malam tadi, lagi-lagi demikian juga guru kita ulama kita, Abuya Djamaluddin Waly Alkhalidy, tadi malam (Kamis, 21/7/2016) pun telah wafat dan pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.

Ini merupakan suatu alamat kiamat kian dekat. Dengan diambilnya ulama-ulama ini dari dunia adalah suatu pertanda kiamat tidak lama lagi. Inilah pula musibah bagi muslimin Aceh yang Allah padamkan lampu penerangnya di bumi Serambi Mekah ini.

Keberadaan ulama bagaikan lampu penerang dalam kehidupan, jika suatu negeri memiliki banyak ulama, maka dipastikan negeri tersebut akan terang benderang. Hadis mulia nabi Saw, mengatakan: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, sungguhlah para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham kepada mereka. Sesungguhnya mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi).

Unjung tombak pewaris nabi saw dalam menyampaikan agama islam di muka bumi dan menjaga kemurniannya islam adalah ulama. Ulama bagaikan lampu penerang bagi umat islam, sebagai unjung tombak pewaris nabi. Ulama yang berjuang dan berperang dalam menyiarkan agama islam takkan pernah ada kata lelah dan mengalah, sebagaimana halnya Rasulullah Saw dalam memperjangkan agama islam dulu. 

Dengan ilmu-ilmu yang dimiliki, ulama akan membagikannya kepada (masyarakat), sehingga nantinya akan tercegahnya dari hal-hal kesesatan, kekufuran dan kemungkaran. Juga dapat tercegah dari pengaruh-pengaruh sesat seperti liberalisme, sekularisme dan komunisme yang akan menjauhkan umat dari tuhan serta agamanya. Dengan adanya ulama pun dapat berperan aktif dalam menjalankan misi risalah para nabi di saat perputaran globalnya dunia yang semakin tersisihnya agama hilang ditelan masa. 

Maka kini semua hanya bisa berucap “innalillahi wa inna ilaihi raji'un, sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kita semua akan kembali." Setiap musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah milik Allah, kita yang berasal dari-Nya, baik suka maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti pun akan kembali kepada-Nya pula, ujian apapun itu datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. 

Dengan meninggalnya kedua ulama besar ini maka rakyat Aceh telah kehilangan dua orang besar yang sangat berjasa bagi rakyat Aceh. Atas kehilangnya dua orang ulama ini maka telah hilang pula dua mursyid tareqat di Aceh (tareqat Syattariyah dan Naqsyabandiyah), di mana kedua tareqat ini sangat masyhur dan bersemi di bumi Seuramoe Mekah.

Dua orang Ulama kharismatik Aceh ini Abon Seulimuem (Tgk Mukhtar Luthfi) adalah ulama yang berasal dari Seulimum, Aceh Besar, sedangkan Abuya Djamaluddin Waly berasal dari Labuhan Haji, Aceh Selatan. Selain sebagai sosok-sosok ulama yang disegani masyarakat, kedua ulama ini juga merupakan pemimpin dua dayah (pondok pesantren besar) di bumi Serambi Mekah.

Selamat jalan guru kami ulama kami, jasa-jasamu sungguh tiada tara bagi kami semua. Semoga Allah membalas segala jasa dan amal ibadahmu dengan sebesar-besarnya timpalan. Mendapatkan kelapangan kubur yang luas seluasnya dengan nikmat di dalamnya, serta jadilah istana yang indah hingga kelak sampai di dalam Jannatun Na’im.

Dan jadikan kami yang ditinggalkannya menjadi orang-orang yang mau mengamalkan dan istiqamah dalam mematuhi segala nasehat dan ilmu-ilmu yang telah diajarkannya.
Amin ya Rabbal ‘alamin. (yma)


Baca juga :
  

No comments

Powered by Blogger.