Video, Darussalam Labuhan Haji, Dayah Tua & Senior di Aceh, Tempat Lahirnya Ribuan Ulama


Besar dengan label tarekat Naqsyabandiyah, Darussalam menjadi pusat kajian ilmu tauhid dan tasawuf tertua di daerah berjuluk Serambi Mekah. Adalah Syekh Muhammad Muda Waly al Khalidy, seorang alumnus Al-Azhar Kairo, Mesir yang menjadi pendiri Darussalam.

Silih berganti, anak-anak Syekh Muda Waly menjadi pimpinan pondok. Dan untuk saat ini, Darussalam ada di bawah asuhan Abuya Jamaluddin Waly (almarhum).

Sejak berdiri tahun 1942, ribuan teungku atau ulama telah lahir dari pondok ini dan menyebar ke berbagai wilayah di Aceh. Bahkan sampai ke Negeri Jiran. Memang santri-santri Darussalam datang dari banyak wilayah.

Sepintas Darussalam tak jauh berbeda dalam hal pengajaran ilmu balaghah, ma'ani, bayan, dan badi'. Demikian juga dalam ilmu ushul fiqih dari berbagai kitab Islam dan ilmu mustahalah hadis, tafsir, mantiq, a'rudh serta tasawuf.

Dayah ini juga dayah yang mengusung tarekat Naqsyabandiyah yang dulu dikenalkan oleh Syeh Bahauddin Annaqsyabandy dari Uzbekistan dan beliau mempunyai silsilah ijazah tersambung dari Shahabat Nabi Salman Al-Farisi lalu beliau dari baginda Nabi Shallahu Alaihi Wasallam.
Tareqat Naqsyabandiyah tersebut adalah salah satu tarekat yang penyebarannya begitu luas. Tarekat yang mengutamakan pada pemahaman hakikat dan tasawuf.

Semua berawal dari Bukhara, daerah di Transoxiana, wilayah purba di kawasan Asia Tengah areal kekuasaan Persia. Di tanah yang kini masuk ke wilayah Uzbekistan itu, Bahauddin Naqshband Bukhari mulai menyebarkan tarekat Nasyabandiyah di akhir abad ke-14. Titik-titik di Asia seperti Bosnia, Herzegovina dan wilayah Dagestan, Rusia tercakup di dalamnya.

Dan dayah Darussalam merupakan pesantren yang menggenggam pahaman Ahlussunnah Waljamaah berfikihkan Assyafiiyah,berakidah Asy'irah Walmaturiddiah. Dayah dengan konsep tareqat Naqsyabandiyah pada akhirnya menjadi satu di antara pondok yang menerapkan suluk sebagai cara menggapai rida Ilahi, jalan untuk penyucian diri. Di dalam suluk, manusia digembleng menjauhkan diri sebagai budak duniawi meski tak sepenuhnya melepas rutinitas hari-hari.

Ketika Bulan Suci tiba, Darussalam pun sesak dengan mereka yang ingin mencari rida Allah Ta'ala. Keikhlasan menjadi kata kunci untuk menjalani suluk. Pagi selepas subuh pun, peserta suluk ini pergi ke tepian pantai untuk mengangkut pasir. Sedianya pasir ini akan digunakan untuk pembangunan pesantren sebagai amal turut menderma tenaga demi pembangunan fisik dayahnya.

Selama bersuluk, mereka tinggal di bilik-bilik atau kelambu. Bekal mereka adalah kitab suci dan tasbih. Berzikir dan beramal soleh lainnya pun menjadi santapan sehari-hari. Mereka melakukannya dengan tawajjuh (memfokuskan diri), menempatkan Allah yang maha indah di titik hati terdalam.

Perhatikan video dokumenter ini :


Beginilah sekilas adanya dayah agama yang sangat bermanfaat bagi umat sebagai jalan mencari keharibaan kepada sang Ilahi Rabbi. (yma)

sumber : fb khairul

Baca juga :


Powered by Blogger.