Bersama Kami di Auliya Travel

Awas.. Hati-hati Pada Orang Yang Menyiasati dan Memisahkan Agama (Ulama) dan Umat


SELAKU orang yang peduli pada agama dan syariat ini, perlu menyadari dan memperhatikan orang-orang yang ingin memisahkan agama dari politik dan memisahkan ulama dari umatnya. Semoga saja tidak terpengaruh dan terjebak olehnya.

Baik sengaja atau tidak, mereka menyatakan dengan penuh pesona bahwa agama itu suci dan ulama itu mulia, sedang politik itu kotor, licik dan penuh intrik, karenanya jangan nodai agama dengan membawanya ke kancah politik, dan jangan nistakan ulama dengan menjerumuskannya ke pergulatan politik. Begitulah kira-kira gaya mereka yang seakan mengajari lawan bicaranya.

Mereka itu bisa dikategorikan masuk kedalam kelompok orientalis, liberalis, sekularis adalah hasil buah pikiran dari Barat yang sengaja diciptakan dan dikembangkan kepada orang-orang islam untuk menghancurkan agama islam ini.

Hal tersebut terbukti seperti dahulu di abad 17 dikenal ada beberapa pakar orientalis dari Barat datang mempengaruhi umat islam dengan ajarannya. Seperti dari Belanda Mr Snouck Hughronye yang datang ke Aceh dan juga dari Inggris Mr. Hempher di Arab. Bahkan di Dinasty Turki Usmani pun juga ternyata turut dipengaruhkan ajaran Barat tersebut melalui pencucian otak yang tak disadarinya. 

Cara pencucian otak, salah satunya dengan menjauhkan umat dari agama dan ulamanya sehingga Turki yang dikenal sebagai pusat islam, akhirnya menjadi sekuler. Sementara di Arab pun juga terjadi pencucian otak oleh orientalis Inggris sehingga di negeri Nejd, Arab, umat islam pun tidak lagi percaya kepada ulama bahkan ada di antara mereka sampai membunuh ulama karena disiasati oleh pemikiran orientalisme Barat.

Itulah sepintas efek buruk dari bahaya menjauhkan umat dari ulama dan agamanya dengan dunia dan perpolitikan atau melarang mengikutinya.

Mereka beranggapan biarlah agama tetap dengan kesuciannya dan ulama tetap dengan kemuliaannya dalam lingkungan yang bersih dari permainan kotor politik seperti di masjid, mushalla, pesantren, madrasah, majelis ta'lim, halaqah zikir, dan sebagainya.
Lalu mereka menyintir pula beberapa ayat dan hadits tentang kesucian agama dan kemuliaan ulama, seperti Aali 'Imraan ayat 19, Al-Maaidah ayat 3, Faathir ayat 28 dan Al-Mujaadilah ayat 11. 

Semuanya Kalimat Haq, tapi sayang disalah-gunakan untuk memisahkan agama dari politik dan menjauhkan ulama dari peran politiknya. Padahal Islam itu agama yang syamil (lengkap) dan kamil (sempurna), yang telah meletakkan "dasar-dasar" ilmu hukum, sosial, politik, ekonomi, dan lain sebagainya. 

Justru kotornya politik karena dijauhkan dari agama dan dimainkan oleh manusia-manusia busuk yang jauh dari agama, bahkan anti agama. Karenanya, untuk menciptakan politik yang bersih, maka menjadi keniscayaan harus didirikan atas dasar kesucian agama dan dijalankan oleh kemuliaan ulama.

Begitulah kira-kira anggapannya yang sangat bodoh dalam melihat agama dan penuh kelicikan, politik atas dasar agama mau dilenyapkan dan peran ulama mau disingkirkan, agar politik kotor dan politisi busuk mendapat keleluasaan dalam meraih kekuasaan, sehingga mereka bisa sewenang-wenang membuat aturan dan undang-undang sesuai hawa nafsunya. 

Penulis & editor : yanda mahyalil aceh

Baca juga : 

Powered by Blogger.