Bersama Kami di Auliya Travel

Raja Meureuhom Daya dan Tradisi di Aceh Jaya


Mudhiatulfata.com - Aceh memiliki beragam suku dan budaya, mulai dari suku melayu di Aceh Tamiang atau Teumieng (perbatasan paling timur Aceh), suku Gayo dan Alas di pertengahan Aceh, suku Aceh di daratan, pesisir dan pedalaman Aceh, suku Aneuk Kluet di selatan dan barat Aceh dan lain sebagainya berbeda tapi dahulu pernah disatukan di bawah kerajaan Aceh Darussalam. Namun kali ini kita tidak membicarakan Aceh Darussalam secara umum melainkan sekedar melihat tradisi yang ada di kabupaten Aceh Jaya, sebuah kabupaten yang dimekarkan dari induknya yakni Aceh Barat.

Tersebutlah dahulu di masa kerajaan-kerajaan kecil di Aceh sebuah nama kerajaan Meureuhom Daya, merupakan sebuah wilayah yang kini berada di kabupaten Aceh Jaya. Dan di masa konflik Aceh kemarin juga sangat dikenal luas oleh masyarakat Aceh.
Itulah salah satu wilayah yang dipakai Geurakan Atjeh Meurdehka (GAM) dalam operasional kerjanya. Ketenaran Meureuhom Daya ini juga tetap segar selalu dengan berbagai tradisi dan kultur budayanya hingga ke penabalan raja atau penguasa negerinya.

Beginilah aksi upacara pada saat penabalan raja di wilayah Meurehom Daya, Aceh Jaya. Sejarah itu sangat penting. Tak heran, endatu (nenek moyang) Aceh pun mewariskan peribahasa “mate aneuk meupat jeurat, gadeh seujarah binasa bangsa”, anak mati bisa dicari kuburnya, sejarah musnah binasalah bangsa. Di tengah kelupaan penguasa akan sejarah, warga Daya Lamno, Aceh Jaya, tetap setia mempertahankan ritual bersejarah peninggalan leluhur mereka.

Tujuan ritual ini sesungguhnya untuk mengenang jasa-jasa Po Teumerehom (sebutan untuk pendiri Negeri Daya), Sulthan Alaiddin Ri’ayatsyah, yang memerintah Negeri Daya antara tahun 1480-1508. Digelar setiap hari Idul Adha atau 2 hari setelahnya. Sebelum kehadiran raja asal Kerajaan Aceh Darussalam (berpusat di sekitar Banda aceh) itu, Negeri Daya terbagi dalam empat wilayah otonom, yakni Keuluang, Kuala Unga, Lamno, dan Daya.

Sulthan Alaiddin Ri’ayasyah menyatukan kerajaan-kerajaan kecil itu dan menanamkan solidaritas beragama yang saat itu masih beragam, demikian kisah menurut sebuah sumber. Sulthan Ri’ayatsyah mangkat tahun 1508, lalu ia digantikan dengan putranya, Raja Uzir.
Tiga tahun kemudian, Portugis datang dan menguasai Selat Malaka. Raja Aceh Darussalam meminta Uzir ikut berperang melawan Portugis di Selat Malaka. Tampuk kekuasaan Negeri Daya pun dialihkan ke Putri Nurul Huda, adik Uzir. Nurul Huda memerintah selama 23 tahun sebelum akhirnya meninggal tahun 1534.

Sepeninggal Nurul Huda, Kerajaan Daya mengalami kemunduran. Kerajaan pecah. Dua abad kemudian, datanglah Sulthan Jamalul Alam Badrul Munir (1711-1735), Raja Kerajaan Aceh Darussalam. Sulthan Jamalul menyatukan kembali Negeri Daya.
Semua raja, pemimpin adat, dan unsur-unsur elit di Daya dikumpulkan. Hakim kerajaan, yaitu Hakim Setialila ditunjuk sebagai koordinator pemerintahan di Negeri Daya untuk mendamaikan sengketa. Sejak saat itulah, ritual seumuleng tiap Lebaran Haji digelar untuk mengenang jasa Raja.

Pusat Kerajaan Daya berada di Lamkuta atau Kuta Dalam, sebuah tempat yang kini berada di Kawasan Desa Gle Jong, Kuala Daya, Aceh Jaya. Namun, seperti halnya kraton kerajaan-kerajaan Aceh lainnya, tak ada lagi bekas istana kerajaan yang masih masih tersisa saat ini.
Kemungkinan dulu dihancurkan Belanda karena sejak kedatangan Belanda, sistem kerajaan diintervensi dan dimasukkan para uleebalang (saudagar) kepercayaan mereka, sejak itu kerajaan pun menjadi surut dan musnah.

Sesekali warga menemukan batu bekas pondasi di salah satu sudut desa itu. Sayangnya, belum ada kepedulian dari pemerintah untuk menetapkan kawasan bekas puing-puing istana itu sebagai cagar budaya. Dalam setiap ritual, keturunan Hakim Setialila-lah yang duduk sebagai raja.
Raja Saifullah yang dalam ritual selalu didapuk sebagai raja, adalah turunan ke-13. Dalam kehidupan sehari-hari, turunan raja-raja tersebut tak ubahnya masyarakat biasa. Demikian pula dengan turunan punggawa dan kerabat kerajaan.

Berbeda dengan para keturunan dan punggawa kerajaan di Kraton Solo dan Yogyakarta yang hingga saat ini diberi wewenang pemangku adat oleh pemerintah daerah setempat, turunan raja dan punggawa Negeri Daya tak diberikan hal serupa. Mereka justru dibiarkan. Kini, praktis urusan kerajaan yang tersisa dan masih ditangani kerabat kerajaan hanyalah menjaga dan merawat makam raja-raja Negeri Daya. Makam tersebut terletak di puncak bukit Gunung Gle. Di kaki bukit yang menghadap ke Pantai Daya itulah setiap tahunnya ritual Seumeleng digelar.

Selama beratus tahun, ritual ini tetap dijalankan secara rutin setiap tahunnya. Bahkan, pada masa konflik, dalam segala keterbatasan, ritual ini tetap digelar. Setelah tsunami tahun 2004, ritual ini sempat terhenti setahun. Pasalnya, bencana maha dahsyat itu meluluhlantakkan Desa Daya. Dari 550 keluarga yang ada di desa tersebut, hanya tersisa 93 orang, hampir sebagian besar meninggal diterjang tsunami.

Seumuleng (menyuap makanan) satu-satunya ritual sejarah masa keemasan Aceh tempo dulu yang tersisa saat ini. Ritual seperti ini tak ditemukan lagi di tempat lain, bahkah di dua bekas kerajaan terbesar di Aceh, yaitu Darussalam dan Samudera Pasai sekalipun.

Bukan pemerintah atau dinas terkait yang rutin menggelarnya. Namun, warga dan pemuda setempatlah yang penuh suka-cita selalu menyelenggarakannya walau penuh kesederhanaan dan jauh dari kemegahan. Mereka hanya tak rela sejarah mereka musnah.

“Kami hanya ingin adat dan sejarah kami lestari. Jika itu semua hilang, kemana lagi kami akan mencari,” ucap warga.

Penyuapan makanan tersebut mengandung doa dan makna simbolik penerimaan rakyat Negeri Daya terhadap sang raja selaku penyatu Negeri Daya.

Mudah-mudahan budaya ini terus berlanjut sepanjang masa dan menjadikan Aceh benar-benar sebagai negeri yang terkhusus dan terwujud “hukom ngoen adat lagee zat ngoen sifeut,” sebagaimana dahulu masa kejayaan kesultanan Aceh Darussalam. (yma)


sumber fb khairul - burhanjayadattry.wordpress

baca juga :



No comments

Powered by Blogger.