Wujudkan Aceh Kembali Memakai Huruf Jawi (Arab-Melayu) Sebagai Identitas Tamaddun Bangsa


Mudhiatulfata.com - Aceh yang dulu dikenal sebagai bangsa yang besar di Asia Tenggara kiranya patutlah jika semua yang ada pada masanya dikembalikan lagi sebagai bentuk kesadaran diri terhadap negeri yang dicintai dan tamaddun bangsa. Sebagai bangsa yang besar, kepedulian terhadap sejarah tidak hanya sekedar untuk diingat saja melainkan juga dapat diupayakan kembali apabila memang itu sesuai, sanggup dan mungkin dengan kondisi suatu negeri.

Dahulu di masa kerajaan Aceh, huruf Jawi atau tulisan Arab-Melayu merupakan suatu alat dalam berkomunikasi dan berinteraksi dalam segala hal. Baik dalam hal yang bersifat kenegaraan, urusan keduniaan hingga ke urusan agama. Sehingga pada masa itu tulisan Jawi tersebut dikenal luas oleh seluruh penduduk di negeri Aceh dan sampai pula ke seluruh pelosok nusantara.

Walau saat itu di beberapa negeri / daerah di nusantara telah ada yang memakai huruf Sangsekerta dan huruf-huruf lainnya, namun huruf Jawi ternyata dapat terus berkembang pesat melalui penyebaran agama islam. Itu terjadi karena sebahagian besar kitab-kitab yang dibawa oleh ulama-ulama adalah berbahasa Arab dan juga berbahasa Jawi (tulisan Arab berhasa Melayu).
Bahkan hingga sampai saat sekarang pun masih ada beberapa orang tua yang tidak bisa membaca huruf latin berbahasa Indonesia, tapi yang bisa dibacanya hanyalah bahasa Jawi saja.

Pada dasarnya yang dikatakan berbahasa Jawi itu bukan saja dari bahasa melayu, tapi oleh sebab di Asia Tenggara ini seringnya pemakaian bahasa melayu yang dikembangkan melalui kitab-kitab maka dikenallah istilah Jawi yakni huruf yang bertuliskan huruf Arab dan berbahasa Melayu. Padahal dari tempat dan negeri lain juga ada pemakaian huruf Arab dengan bahasa selain daripada bahasa Arab, tergantung tempat atau negerinya, misalnya bahasa Aceh, bahasa Urdu, bahasa Farisi dan sebagainya.

Khususnya dalam perkembangan agama islam di Aceh, maka tulisan Jawi inilah menjadi sebuah bukti eksistensinya Aceh secara empirik sejak dari masa kerajaan Samudra Pasai berlanjut kepada kerajaan Aceh Darussalam hingga sampai sekarang. Bukti bukti tersebut masih dapat kita saksikan sekarang seperti halnya peninggalan naskah kuno (manuskrip).

Karya-karya intelektual Aceh terdahulu telah memberikan suatu fakta tentang keberadaan dan peranan bahasa melayu (jawi) di negeri bawah angin, seperti Hamzah fansuri yang sangat berperan aktif dalam mempoplerkan bahasa jawi sehingga di kenal luas karya-karya nya hingga di Jawa, Kalimantan, Sulaweisi bahkan ke Malasyia, Pattani, Brunei Darussalam. Juga sama halnya seperti Syekh Abdurrauf Al Jawi Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Faqih Jalaluddin Al Asyi, Muhammad Zain yang dalam karya mereka telah menyinggung banyak tentang peranan bahasa Jawi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta persatuan dan kesatuan.

Dinamika tulisan Arab-Jawi sebagaimana tergambar dalam periodisasi kesejarahan telah memberikan kesadaran tentang eksistensinya dalam kultur masyarakat Aceh. Selanjutnya juga perlu kita ingat dan lihat bagaimana eksistensinya dalam kesadaran masyarakat, termasuk kita sekarang. Oleh karena itu, secara ontologis, tulisan Arab-Jawi sebagai objek kajian bisa dilihat dari aspek historisitas yang terus mengalami perubahan, kedua aspek kesadaran yang bersifat tetap.

Namun pengetahuan tentang eksistensinya saja tidak cukup untuk dijadikan dasar pertimbangan bagi penentuan sikap ke depan. Sebab nilai pentingnya berkaitan erat dengan lingkungan akademik yang umumnya terbiasa dengan huruf latin. Dari itu sangat diperlukan ada nya suatu kajian komprehensif terhadap dinamika tulisan Arab-Jawi, 

Tepat rasanya jika memang pemerintah Aceh telah menerapkan sistem hukum Syariat Islam dan sebagai media komunikasi bagi masyarakatnya. Maka pemakaian kembali huruf Jawi ini di Aceh sangat sesuai dengan keadaan negeri.

Sangat dibutuhkan adanya kepedulian para pemerhati serta unsur-unsur terkait agar pemakaian huruf Jawi dapat terwujud kembali di tanah Aceh sebagai bagian daripada otonomi daerah yang memiliki ciri khas lokal kedaerahannya di samping pemakaian huruf latin dan bahasa Indonesia sebagai tulisan dan bahasa resmi negara kesatuan Republik Indonesia. (ynd)


Disadur dari artikel pedirmuseum.blogspot

Baca juga :
  


No comments

Powered by Blogger.