Gantikan Abon Seulimuem, Mulai Malam Senin Ini Abana Asuh Pengajian Di Balai Babussalam Gampong Jawa


KETIKA hari Minggu tiba, silih berganti dengan malamnya (malam Senin), maka siap-siaplah masing-masing jamaah yang lazimnya menyempatkan diri pada malam tersebut dengan pengajian di Gampong (kampung) Jawa. 

Namun alangkah sayangnya, setiba di tempat, mereka melihat keadaan suasana balai pengajiannya hampa. Iya memang, balai yang dikunjunginya seakan sunyi senyap di malam itu, mati tiada lagi keramaian pengunjung pengajian yang biasanya meluap dipenuhi ratusan orang. 


Pasca meninggalnya yang mulia guru kita Abon Seulimuem, aktifitas di Balai Pengajian Babussalam Gampong Jawa memang sunyi daripada orang-orang yang berdatangan. Itu disebabkan sementara telah diliburkan berhubung keluarga dan dayah besarnya masih berada dalam suasana berkabung.

Sementara itu ada pula warga atau jamaah-jamaah di Banda Aceh dan sekitarnya bertanya-tanya “kapan pengajian akan dibuka lagi?”

Balai Pengajian Babussalam Gampong Jawa yang dipimpin oleh Abi Januar adalah sebuah tempat pengajian untuk umum. Aktifitas pengajiannya yang dimulai dari kelas anak-anak, diasuh oleh guru-guru dari sejumlah santri alumni dayah di Aceh hingga ke kelas orang dewasa yang diasuh oleh Abon Seulimuem pada tiap malam Senin.


Terbukti maju balai pengajian tersebut sejak mulai Abon mengajar (mengasuh) atau memberi ilmunya. Kian hari kian banyak dan ramai saja jamaahnya bahkan hingga berkembang terus baik pengunjung maupun bentuk fisik balainya. Semula hanya sebatas beberapa belas meternya saja tapi kini balai tersebut makin luas membesar dan bangunannya pun makin permanen, ditambah lagi dengan kelengkapan peralatan media gambar kamera dan televisi.

Hal tersebut mungkin terjadi berkat adanya kelebihan sang guru mulia Abon Seulimuem (Tgk H Mukhtar Luthfi) yang mengajarkan ilmu dan hikmah kepada murid atau jamaahnya di tempat ini. Alhamdulillah, dengan keberkatan ilmu dan doa darinya sehingga mengangkat nama dan citra Gampong Jawa di Banda Aceh (tempat ia mengajar) menjadi harum dan bersinar.

Tapi kini ia telah tiada dan meninggalkan kita semua, namun semua apa-apa yang ditinggalkannya kini telah menjadi hidup dan bersinar. Terima kasih wahai guru kami, sungguh besar jasa-jasamu yang tiada tara. Semoga Allah mengangkat derajatmu dan selalu memberikanmu akan tempat yang layak di sisi Nya.

Sebagai pengganti Abon Seulimuem yang selama ini telah mengasuh dan memberikan pengajian di malam senin, sesuai dengan hasil musyawarah antar pimpinan balai pengajian (panitia) dengan jamaah maka ditunjuklah Abana (Tgk Atsykuri) pimpinan Dayah Madinatul Fata di Lampueoet, Mibo, kecamatan Banda Raya, Banda Aceh.

Sesuai hasil kesepakatan panitia mengumumkan bahwa kepada seluruh Jama`ah Babussalam Gampong Jawa, mulai malam Senin, tanggal 25 September 2016, sudah dimulai kembali pengajian seperti biasa dengan asuhan Abana. Dan panitia meminta agar diberitahukan kepada semua jamaah atau warga yang ada di Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitanya .


Mengenal sosok Abana (Tgk Atasykuri)

Mengenai siapa Abana, oleh sebagian masyarakat memanggilnya Abana Lam Ara atau ada pula orang yang menyebutnya sebagai Abana Mibo, itu disebabkan masyarakat tidak mengetahui pasti nama gampongnya karena berbatasan gampong di wliayah Aceh Besar - Banda Aceh.


Ia sosok ulama muda yang sangat tawadhu’, merupakan murid daripada Abon Seulimuem di Dayah Ruhul Fata Seulimuem, Aceh Besar.  Dan ia seorang pendidik yang kini telah meniti karir dalam mengajar dan sukses membangun dayahnya (pondok pesantren) yang bernama Dayah Madinatul Fata di desa Lampeuoet, Banda Aceh.

Dayahnya kian lama kian membesar dan maju berkat dari managemen yang teratur rapi, itu juga berkat doa keberkatan guru-guru beliau dan partisipasi warga sehinga ia mampu dalam mengajar dan memimpin dayahnya dan mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Dayah Madinatul Fata merupakan cabang dari Ruhul Fata Seulimuem juga di samping banyak dayah-dayah lainnya yang telah berkembang dan bercabang dengan nama belakangnya yang disebut dengan “Fata.”
Maka mudah dikenali, kebanyakan dari dayah-dayah yang di Aceh yang merupakan anak cabang atau perwakilan dari Ruhul Fata sebahagian besar memakai nama belakangnya dengan sebutan Fata.


Sekilas biografi Abana

Beliua lahir pada tanggal 15 Februari 1973 di gampong (desa) Lambheu Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar.  Ayahnya bernama Tgk. Muhammad Hasyim Musthafa yang berasal dari Aceh Selatan. Sedangkan ibundanya, yakni Siti Hawa adalah orang asli Aceh Besar.  Beliau merupakan anak ke - 9 dari 11 bersaudara.

Sejak kecil, Tgk. Atasykuri, telah sering dibawa oleh ayahandanya untuk menimba ilmu agama di beberapa tempat pengajian. Karena memang tekatnya yang kuat, pada tahun 1989 beliau setelah tamat menjalani pendidikan di MTsN Keutapang dua Aceh Besar, memutuskan untuk menimba ilmu agama di Dayah Ruhul Fata Seulimeum Aceh Besar.


Setelah sekian lama menimba ilmu agama di sana, akhirnya pada pertengahan tahun 2001 Beliau mendapat izin dari gurunya (Abon Seulimuem) untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan agama yakni dayah sekarang (Dayah Madinatul Fata).

Di samping mengemban tugas yang mulia mengajar di dayahnya, Abana mendapat kepercayaan untuk menjabat ketua organisasi PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyyah) kota Banda Aceh serta kini juga menjabat sebagai ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) kota Banda Aceh. 



Penulis & Editor :
Yanda Mahyalil Aceh


No comments

Powered by Blogger.