Astagfirullah.. Lihatlah Muadzin Ditangkap Polisi Bagaikan Penjahat, Apa Sebabnya?


Mudhiatulfata.com, Rantauprapat - Eka Ramadhana ialah seorang muadzin di Masjid Muhsinin Labuhan Baru Sumatera Utara. Saat itu ia meminta panitia perayaan HUT ke-71 Kabupaten Labuhan Baru mengecilkan suara musik saat memasuki waktu adzan Dzuhur.

Perayaan HUT Kabupaten Labuhanbatu ke-71 digelar Senin (17/10) di Lapangan Ikabina, Rantauprapat. Sebagaimana dikutip dari Medansatu.com, lokasi acara yang berlangsung dari pagi hingga sore hari tersebut berdekatan dengan Masjid Muhsinin.

Namun, seperti dilansir medansatu.com, panitia tetap melangsungkan kegiatan yang telah masuk persembahan tarian berbagai etnis. Padahal suara adzan dari Masjid Muhsinin yang hanya berjarak sekitar 20 meter berkumandang.

Karena musik yang berasal dari acara HUT Kabupaten itu sangat keras, Ramadhana mendatangi protokol di atas pentas dan meminta agar acara dihentikan sementara. Namun protokol menyarankannya agar menemui panitia di bagian podium.

Karena sarannya tidak didengarkan pihak panitia, Ramadhana kembali ke Masjid untuk menunaikan Sholat Dhuhur. Saat melangkah menuju arah masjid Muhsinin, Ramadhana malah dikejar puluhan panitia, sejumlah petugas dari Satpol PP serta aparat dari Mapolres Labuhanbatu. Petugas membawanya dengan cara mengapit lehernya.

Aksi pengamanan Ramadhana akhirnya menghebohkan masyarakat. Puluhan warga akhirnya mendatangi Mapolres Labuhanbatu, meminta agar Ramadhana dilepaskan. 


Saat ditemui wartawan di rumahnya, Ramadhana mengaku, awalnya ia meminta kepada panitia di pentas agar suara musik dikecilkan, karena adzan sedang berkumandang. Namun dia disarankan menemui panitia di tribun utama, tempat di mana undangan duduk.

Setelah ditemui minta suara Soundsystemnya agar dikecilkan karena masuk waktu adzan.
Setelah ditemuinya dan kembali menyarankan agar suara sound system dikecilkan, oknum petugas Satpol PP malah memarahinya. Di sanalah terjadi argumen, hingga akhirnya dia dikejar puluhan panitia maupun aparat polisi.

“Saya hanya minta suara loudspekernya dikecilkan, karena pas adzan, tapi malah dimarahi. Tidak ada saya memaki, cuma pas mau shalat saya dikejar, ya larilah saya dan ditangkap ramai-ramai,” ujar Ramadhana seperti dikutip islamedia.

Sejumlah warga pun menyesalkan sikap panitia. Mereka beranggapan panitia yang dipercayakan menggelar acara tidak mempertimbangkan waktu adzan shalat Dzuhur.

“Bikin malu saja panitianya, apa pun ceritanya itu kesalahan panitia. Seharusnya panitia tahu itu jam shalat. Masak tak dipikirkan suara adzan dari dua masjid tadi, saya saja mendengarnya, jelas kalipun. Selaku PNS sayapun malu,” kata seorang PNS.

Sementara Bupati Pemkab Labuhanbatu, H Pangonal Harahap dimintai tanggapan sesaat akan memasuki mobil usai acara mengatakan itu merupakan bukan insiden. “Itu bukan insiden, cuma hanya kekhilafan. Sudah saya panggil tadi panitianya,” kata Pangonal. (yma) 


Baca juga :
Berdasarkan Buku Ensiklopedia, Ternyata Wahabi Pecahan Dari Beberapa Sekte Yahudi
Negara-Negara Eropa Inginkan Kehancuran Islam dengan Kontrak Politik Tiga Serangkai

No comments

Powered by Blogger.