Khutbah Dalam Markas Polisi, Ketua Aswaja Banda Aceh Kembali Menohok Kepolisian Untuk Bersikap Adil


Mudhiatulfata.net, Banda Aceh - Mungkin sebuah sikap yang berani bagi sang ketua ormas Aswaja Kota Banda Aceh, Tgk Ismail M Husen. Setelah sebelumnya ia juga menantang Polda Aceh yang menghimbau agar tidak ikutan akis 212. Dan kini ketua Aswaja Banda Aceh kembali mengingatkan kepolisian agar bersikap adil.

(Berita terkait : Tolak Himbauan Kapolda Aceh, Aswaja Kota Banda Aceh : Pak Polisi, Kami Tidak Takut Pada Anda)

Dalam mau'idhahnya saat mengisi khutbah shalat Jum’at di mesjid markas kepolisian, Tgk Ismail mengatakan aparat TNI /POLRI agar dapat bersikap okjektif dalam menjalankan tugas sebagai penegak hukum. 

Menurutnya, baik TNI maupun POLRI sebenarnya termasuk dalam kategori Umara yang harus bersikap adil dan arif terhadap seluruh msyarakatnya, yang tidak mengenal adanya derajat baik itu kalangan bawah, menengah maupun atas. Dalam khutbah tersebut, ia menjelaskan panjang lebar dengan bersumber dan referensi yang lengkap. 

Keakraban Tgk Ismail bersama salah seorang pejabat Polresta
Berikut ini rangkuman dari khutbah Tgk Ismail M Husen yang berhasil dihimpun Mudhiatulfata.net, disampaikannya dalam khutbah Shalat Jum’at di mesjid Mapolresta Banda Aceh di Jl. Cut Mutia, Banda Aceh, (25/11/2016).

Tegaknya peradaban manusia dan masyarakat dunia dengan empat pilar. Dalam sebuah kitab Durro-tun Nasihin" (Mutiara Nasihat) yang ditulis oleh Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir al-Khaubury, halaman 17 dijelaskan :
"Bahwasannya peradaban umat manusia di dunia ini akan tegak, kuat nan abadi, manakala di dalamnya ditopang dengan 4 (empat) pilar, yang satu sama lainnya saling menguatkan." 

Pertama, dengan ilmunya para ulama. Para ulama bagaikan lentera penerang dalam kegelapan dan menara kebaikan, juga pemimpin yang membawa petunjuk dengan ilmunya, mereka mencapai kedudukan al-Akhyar (orang-orang yang penuh dengan kebaikan) serta derajat orang-orang yang bertakwa.
Dengan ilmunya, para ulama menjadi tinggi kedudukan dan martabatnya, menjadi agung dan mulia kehormatannya. Abu al-Aswad al-Duwaly melukiskan, "Jika para raja adalah penguasa bagi sekalian manusia, para ulama adalah penguasa yang mengatur raja." 

Oleh karena itu, tidaklah aneh kalau Allah memposisikan ulama di atas rata-rata manusia pada umumnya. Allah SWT. berfirman : 

"Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya ? Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ? Sesunggubnya orang yang berakhlaklah yang dapat menerima pelajaran." (QS.Az-Zumar : 9).

Imam Al-Ghozali, pemikir besar Islam memberikan wejangan menarik untuk para ulama. 
"Ulama seharusnya mampu menjaga jarak dengan penguasa (umara). Ulama yang baik dan lurus tidak berminat mendatangi umara / birokrat selama ada celah untuk menghindarinya. 
Di sisi lain, ulama yang baik adalah mereka yang dekat dan selalu hadir di tengah-tengah umatnya, memberikan wejangan dan siraman rohani yang sejuk dan menyejukkan, juga menjadi teladan dan panutan bagi umatnya serta komitmen dengan nilai-nilai kemartabatan yang diajarkan Rasulullah SAW."

Syekh Ahmad Musthafa al-Marogi di dalam tafsirnya yang sangat fenomenal, tafsir al-Marogi jilid 2, halaman 166-167 menjelaskan yang dimaksud dengan umara. Para hakim, jaksa, penasihat hukum, dan pengacara, hendaklah mereka berlaku adil dan amanah. Sekali mereka memperjualbelikan perkara, umatlah yang menjadi korbannya, dan keberkahan hidup tidak akan tampak di muka bumi. 

Para ilmuwan dan cendekiawan, hendaklah mereka mengamalkan ilmunya untuk kemajuan dan kebaikan umatnya. Pihak keamanan (TNI dan Polri), hendaklah mereka menjadi pelindung, pelayan, dan pengayom masyarakat atau umatnya. Pimpinan partai dan pimpinan organisasi kemasyarakatan, hendaklah mereka berjuang untuk kesejahteraan dan kemakmuran umatnya. Zuama, orang-orang yang senantiasa membantu kesulitan umatnya dan memberi nasihat manakala umat ada dalam kesusahan. 

Kedua, dengan adilnya para umara (penguasa). Nabiyullah Musa AS. pernah bertanya kepada Allah SWT. "Ya Tuhan, siapakah di antara hamba-Mu orang yang paling adil ?" Allah SWT. menjawab, "Wahai Musa, di antara hamba-Ku orang yang paling adil adalah pemimpin yang memperlakukan umatnya (rakyat)-nya persis seperti memperlakukan kepada keluarganya sendiri."

Ketiga, dengan dermawannya kaum aghniya. Umat ini akan damai, makmur, dan sejahtera, manakala kaum aghniya-nya dermawan, mau membantu saudaranya yang membutuhkan. Allah SWT. berfirman, "Kai laayakuuna duulata bainal aghnia." Artinya, "... agar kekayaan tidak hanya beredar di antara orang kaya di antaramu." (QS. Al-Hasyr : 7)

Keempat, dengan doanya kaum duafa. Mereka akan berdoa kepada Tuhannya demi kemajuan pemimpinnya. Syekh Ja'far al-Barzanji dalam buku sastranya (kitab Barzanji) melukiskan dengan jelas, tegas, dan lugas, Rasulullah SAW, sangat mencintai kaum duafa (orang fakir).
Apabila di antara mereka mendapatkan musibah, beliaulah yang pertama menjenguk dan berdoa untuk kesembuhannya. Rasulullah SAW. bersabda, "Tidaklah termasuk orang beriman, yakni orang yang setiap hari perutnya kenyang sementara tetangganya kelaparan." (H.R. Imam Buchari). 

Mukhtarol Hadis, halaman 144, dan hadis riwayat at-Thobroni dari Dhomiroh, bahwasannya Rasulullah SAW, bersabda "Bukanlah terhasuk umatku orang yang tidak peduli (tidak sayang) kepada saudaranya yang kecil, dan tidak hormat kepada yang besar, tidaklah dia termasuk orang beriman sehingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri." 

Empat belas abad lalu, Rasulullah SAW. telah mengingatkan kita bahwa keempat pilar itu harus bersatu, yaitu ulama, umara, aghniya, dan fuqara.    
  • Dunia ini akan hancur kalau tidak ada ulama. Rasulullah SAW. Bersabda "Apabila kehidupan ini tidak ada ulama, manusia akan binasa seperti binatang, bahkan akan lebih kejam daripada binatang.  
  • Manusia akan hancur kalau tidak ada umara. Satu sama lain akan saling membunuh, yang kuat membunuh yang lemah seperti serigala membunuh domba.
  • Kaum aghniya, kalau orang-orang kaya tidak berlaku dermawan, maka kaum duafa akan sengsara, karena hak-hak mereka dirampas.
  • Kaum duafa, kalau tidak ada doanya kaum duafa maka kaum aghniya (orang kaya) akan bangkrut." Dengan demikian, rumus membangun umat, kuncinya, dengan ilmunya ulama, dengan adilnya umara (penguasa), dermawannya kaum aghniya (orang kaya), dan doanya kaum duafa (orang miskin nan lemah)." 
Rasulullah SAW, pemimpin yang arif dan bijaksana. 
Ketika seorang sahabat bernama Abdur Rachman bin 'Auf (muhajirin) sudah tidak punya apa-apa lagi karena harta kekayaannya ditinggalkan di Mekah, beliau mempertemukannya dengan Sa'ad bin Robi (Ansor), seorang konglomerat. 

Sa'ad menawarkan jasa kepada Abdur Rachman agar hartanya yang banyak itu dibagi dua dengan dia. Abdur Rachman menolak. Dalam pikirannya, dia tidak mau menyusahkan orang lain.

Lalu, dia berkata kepada Sa'ad, "Wahai Sa'ad, tolong saya beri pinjam modal buat usaha. Saya mau jualan (bisnis) kecil-kecilan." Akhirnya hanya selang beberapa tahun, Abdur Rachman sudah hidup mandiri bisa membeli rumah, ladang bahkan sudah sejahtera, bisa menghidupi anak istri dan keluarganya.

Untuk menjaga persatuan negara Republik Indonesia, maka penegak hukum harus bersikap adil. Hakikat hukum tidak pernah memilih dan memilah dan hukum tidak pernah memihak. Ia bersifat objektif siapa yang bersalah maka dia yang kena.

Menanti keadilan dari Penegak Hukum siang berganti malam, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, waktu terus berputar tiada henti, selalu muncul dalam bayang-bayang yang tiada pasti. 
Suatu keadilan yang kami menanti, teringin hati melihat nyata. Hukum berjalan di atas garis kebenaran, tiada yang dikerdilkan dan tiada yang dirugikan.

Saya sebagai masyarakat sipil prihatin terhadap situasi negara ini. Negera seperti tak ada yang mengatur, seperti zaman purbakala. Hukum yang pada prinsipnya objektif dan netral, kini terasa berubah rasa menjadi nasi busuk. 
Penistaan agama sudah nyata, walau pelaku sendiri mengatakan tak sengaja. Rakyat tak percaya sama omongan yang berusaha membalik fakta. 

Tak ada maling yang ngaku maling, Basuki Tjahaya Purnama sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kami harap proses hukum terus dilanjutkan. 
Kami tidak menuntut uang dari bapak, tapi yang kami harapkan adalah keadilan di mata hukum. 
Hukum jangan seperti pisau, yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah. 
Hukum dibuat untuk menjaga kesejahteraan rakyat, bukan untuk menjerat rakyat sesuka hati, dan hukum harus ditegak secara adil, tanpa pandang bulu. 

Kami cinta NKRI, kami cinta persatuan, kami terima kebhinekaan. Akan tetapi kami tidak terima penistaan dan penodaan. Bapak Polri, jabatanmu diberi Allah untuk menegak keadilan di muka bumi. 
Kami sangat bangga punya polisi seperti bapak, semoga jabatan bapak tidak salah dipergunakan. Salam NKRI, saya mendoakan para pemmpin semoga diberi kekuatan untuk dapat menegakkan hukum secara berkeadilan 

Demikian rangkuman mau’idhah Tgk Ismail yang kemudian dilanjutkan dengan pambacaan dua rukun khutbah secara mualat dan tertib. [admin]


No comments

Powered by Blogger.