Yanda Mahyalil Aceh Tanggapi Phobianya Ahokers Pada Aksi Bela Islam Berkat Liberalisasi & Sekularisasi Kuasai Negara Ini


Assalamu'alaikum.. 
Kenalkan saya Yanda Mahyalil Aceh, mungkin bisa disebut seorang pemerhati islam dan akidah di negeri ini. Mohon maaf sebelumnya jika nantinya ada kata-kata yang tidak berkenan karena saya bukan siapa-siapa tapi saya hanya saya sendiri dan bukan orang lain..hehe.

Sedikit saya ingin menanggapi sekelumit tentang polemik Aksi Bela Islam di Jakarta yang telah menjadi isu nasional di negara ini. 

Di sini saya terpaksa harus menunjukkan sikap tegas sebagai seorang muslim dan ingin mengutarakan semua uneg-uneg saya kepada para Ahokers atau pengikutnya. 
Dan saya pun juga harus tegas kepada mereka pengikut Syi'ah, Wahabi atau orang-orang selain Ahlussunnah Waljamaah. 

Tapi dalam rangka aksi pembelaan terhadap agama kali ini, saya harus mengutamakan kepentingan bersama yakni umat islam bersama mayoritas di atas kepentingan kelompok-kelompok, lembaga dan ormas-ormas baik milik pemerintah maupun swasta (MUI, NU, Muhmmadiah, dll).

Bagi saya persatuan islam adalah segala-galanya, sebagaimana Rasulullah pernah mengatakan bahwa kelak umatnya akan bersatu dalam Aswadul A'zham (jamaah mayoritas), umat mayoritas inilah yang dijamin Rasulullah akan kebenarannya dunia akherat.

Dalam hal ini kita harus melupakan perbedaan tapi harus mengutamakan persamaan sebagai persaudaraan sesama muslim demi dapat tegaknya kesucian agama yang haq ini.
Apapun mazhab dan akidahnya baik Ahlussunnah Waljamaah (Aswj), Salafi Wahabi, Syi'ah, dll, bagi saya adalah mereka semua saudara muslim saya selama memang mereka masih bertuhan Allah dan bernabi Muhammad SAW.

Saya simpati kepada para pembela umat islam yang sedang berjuang saat ini di Jakarta karena saya tahu bahwa mereka adalah saudara-saudara saya yang mayoritas di negara ini. Oleh karenanya saya pun juga mengikuti semua saudara saya yang mayoritas ini.

Saya melihat parah benar sudah tingkat sakit orang-orang yang anti demo, mereka telah naik menjadi "akut" hingga membentuk dirinya orang-orang yang phobia atau berlebihan kepada orang-orang yang ingin membela agamanya. 

Mengapa orang-orang itu anti pada pembela agama?
Padahal apa yang dilakukan umat islam ini hanyalah membela agamanya dari para penista agama dan dari pengkhianatan saudaranya sendiri yang mengaku muslim tapi berakidah gado-gado. 

Apa yang dilakukan umat islam dalam aksi tersebut juga sebagai bentuk Amar ma'ruf Nahi Mungkar. Tapi bisa-bisanya mereka itu menuduh para pembela agama sebagai gerakan radikal yang siap menghancurkan negara. Masya Allah benar-benar mereka telah berpenyakit yang sudah akut.

Mereka mencoba menipu umat dengan mengatakan tidak boleh atau jangan ikut demo, padahal di antara mereka seperti Pemuda Anshor dulu juga pernah juga berdemo dan membuat aksi massa untuk menentang orang-orang yang telah menghina tokoh-tokoh mereka, tapi kenapa sekarang mereka tidak menyadari bahwa agama ini lebih suci daripada tokoh mereka yang dihina?

Bahkan dahulu juga umat islam bersatu membuat gerakan massa menunjukkan diri umat islam kepada komunis PKI lalu sekarang mengapa para kaum liberal ini malah melarang umat islam untuk hal demikian? Sungguh aneh.

Hasrat mereka yang ingin menggagalkan demonstrasi sangat besar, bahkan sampai ada yang berani menjual nama ulama atau para Habaib seperti Habib Umar dan Habib Munzir, Habib Syaikhon, dll. Padahal ulama-ulama tersebut sungguh berlepas diri dari pada mereka kaum Liberalis lewat media-media mereka.

Sayangnya setelah diteiliti, ternyata mereka itu adalah orang-orang yang termasuk dalam barisan Islam Nusantara (IN) yang sangat kental telah tertanam virus liberalisme. Dan mereka itu sebelumnya juga sempat mempermasalahkan kebiasaan para habaib atau ulama yang tidak setuju dengan IN. 
Maaf, sebenarnya tulisan ini tidak bermaksud menjustifikasi IN tapi untuk persoalan ini saya terpaksa mengatakannya..hehe.

Ulama atau habaib dimaksud adalah seperti Habib Syeh Abdul Qadir Assegaf, Habib Taufiq Abdullah Assegaf, Habib Reziq, Buya Yahya, dll.

Tidak hanya itu, oleh pendukung IN juga menganggap para Habaib dan ulama diatas rugi memelihara jenggot, surban dan gamis, karena menolak dan mengkritisi IN. 
Sedangkan menurut para habaib dan ulama itu menganggap bahwa IN berbahaya dan memiliki misi penghalalan liberalisme dan sekularisme yang bisa menghilangkan tradisi sunnah (bagian dari syariat) terhadap umat islam.

Oleh karena itulah sehingga para pengikut IN, kerap sekali mengisukan dan menghembuskan kebencian kepada para habai dan ulama dimaksud. Sehingga mereka mengistilahkan dengan sebutan Arabisasi seperti jenggotan, gamisan, surbanan, burkaan, dll, sebagaimana yang diamalkan oleh habaib dan ulama itu.

Sebagai contoh lagi, hasrat mereka (pengikut IN) menjual nama ulama agar bisa mempengaruhi umat. Tapi sayang, upaya mereka gagal lagi. Terbukti semua itu dengan terjawabnhya sudah permasalahan Demo dengan adanya tausiah Habib Umar secara langsung di Istiqlal, Jakarta.
Dan ternyata gembar-gembor atau berita mereka yang mengatasnamakan Habaib itu hanya bagian ingin menggagalkan Aksi Bela Islam.

Padahal justru kalau ditunjukkin ulama atau habaib tersebut dengan ajarannya maka orang-orang phobia yang akut itu akan lari terkencing-kencing karena kaget dengan ketegasan para habaib itu dalam agama ini.

Kaum Liberal dan sekuler takan pernah tinggal diam, sangat getol sekali ingin menggagalkan aksi bela islam hingga mereka menuduhnya sebagai bagian upaya dari kelompok-kelompok teroris atau radikal.

Beginilah dampak bentuk orang-orang islam di negara ini yang otaknya telah ditanamkan virus liberalism dan sekulerism. Ketika hal prinsipil agama dihina dan digembar-gemborkan di luar kapasitasnya tapi mereka buta. Bahkan sebaliknya seakan membela pula akan Si Penista.

Kenali ciri-ciri orang yang telah terjangkit penyakit liberalism dan sekulerism adalah mudah sekali menuduh dan memfitnah saudara muslim yang ingin menegakan agamanya dari pelecehan dan dianggap sebagai aksi atau gerakan radikalism.

Demikian, semoga menjadi perhatian kita bersama dan semoga kita umat islam dapat akur-akur kembali, amin. 

Oh iya, terima kasih sudah dimuat tulisan saya ini..hehe

Wassalamu 'alaikum..

Powered by Blogger.