Bersama Kami di Auliya Travel

Luar Biasa, Pengunjung Ceramah Habib Riziq (Sosok Pahlawan Islam) Tenggelam Dalam Lautan Massa Di Banda Aceh


Mudhiatulfata.net, Banda Aceh - Layaknya lautan manusia areal Pelabuhan Samudera Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, malam itu berubah bagaikan laut dan pengunjung yang hadir tenggelam dalam lautan massa yang mengikuti ceramah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1438 H oleh Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab.
  
Lautan manusia yang memadati arena pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh warga Lampulo, Banda Aceh, Senin (26/12) malam dengan menghadirkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) DR Habib Muhammad Rizieq Shihab, Lc, MA, tersentak membuat kagum karena warga yang datang luar biasa ramai oleh sosok idamannya sang pahlawan islam ini.

Sama halnya seperti yang diberitakan aceh.tribunnews.com, massa yang hadir kebanyakan kaum lelaki dari berbagai tingkatan usia menghadiri kegiatan tersebut, demikian juga kaum perempuan ternyata telah disediakan tempat khusus agar terpisah dari lawan jenis.

Ummat Islam dalam jumlah besar tersebut khusyuk mengikuti rangkaian acara sejak dari ba’da Isya hingga menjelang pukul 00.00 WIB. Ummat terlihat tak henti-hentinya meneriakkan takbir, terutama sepanjang ceramah Habib Rizieq.
Aparat keamanan tampak siaga mengamankan kegiatan bertema “Aceh yang bersyariat merupakan modal penyelamat NKRI dari bahaya komunisme.”

Habib dalam ceramahnya antara lain menyampaikan tentang kondisi negara yang terjadi saat ini yang tidak menentu, dan ia juga sempat membangkitkan semangat juang rakyat Aceh sebagai masyarakat penerima islam terdahulu di nusantara. Diingatkannya juga Aceh dalam sejarah yang merupakan daerah modal dan model dan Indonesia patutnya dipimpin oleh Aceh.

“Saya ingatkan kepada umat Islam, terkhusus kepada pemuda, sebelum Anda tampil sebagai pemimpin, masukkan ke dalam hati Anda bahwa hukum Allah di atas segalanya. Tidak ada yang paling adil dan bagus daripada hukum Allah,” kata Habib.

Di hadapan ummat yang memadati areal Pelabuhan Samudera Lampulo,  Habib secara lantang melalui sound system berkekuatan ribuan watt menyerukan umat Islam untuk memilih pemimpin muslim.

Ditegaskannya, haram bagi umat muslim memilih pemimpin kafir. Apabila ada umat muslim yang menuruti hawa napsunya dengan mendukung kafir menjadi pemimpin, maka orang tersebut bagian dari golongan yang didukungnya.

“Dalam surat Almaidah ayat 50, Allah menegur keras orang-orang yang tidak menegakkan hukum Islam. Dalam ayat ini Allah memberikan peringatan keras. Allah sindir, hai umat Islam jangan sekali-kali kamu mengikuti hawa nafsu. Apakah ada yang lebih baik daripada hukum Allah? teriak Habib disambut kata “tidak” oleh hadirin secara bergemuruh.

Habib mengatakan, jangan pernah samakan ayat suci (Alquran) dengan ayat konstitusi atau undang-undang. Apabila ayat konstitusi tidak berjalan seiring dengan ayat suci, maka Habib mengajak umat Islam untuk melawan peraturan tersebut, karena peraturan itu dibuat oleh manusia.

“Ayat suci selalu ada di atas ayat konstitusi. Sebab ayat suci adalah wahyu Ilahi yang tidak boleh direvisi dan harga mati yang harus ditaati. Sedangkan ayat konstitusi hasil pemikiran manusia.
Manakala ayat konstitusi sejalan dengan ayat suci maka kita sebagai warga negara patuh kepada konstitusi. Tapi manakala ayat konstitusi bertentangan dengan hukum Allah maka haram untuk kita taati,” katanya.

Sebelumnya, pada pembuka ceramah, Habib Rizieq mengenang tsunami Aceh 12 tahun silam. Ia mengatakan sempat menetap di Aceh selama empat bulan untuk menolong korban tsunami. Kejadian itu, katanya, mengambarkan betapa lemahnya manusia dan besarnya kekuasaan Allah sehingga tidak ada satu manusian pun yang bisa menantang.

“Empat bulan saya tinggal di Aceh pascatsunami. Saya tidur tidak pakai selimut. Saya turut mencari korban-korban tsunami. Itu sekadar kenangan saya tentang tsunami. Kenangan tersebut tidak pernah saya lupakan, akan saya bawa seumur hidup saya. Tidak ada satupun yang bisa menantang kekuasaan Allah,” kata Habib.

Menurutnya, ada tiga makna yang bisa diambil dari setiap musibah. Pertama, ketika musibah tersebut mengenai orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka musibah itu merupakan ujian bagi yang menerima.

“Itulah musibah yang menimpa para Rasul, semakin tinggi ketaqwaan kepada Allah, maka ujiannya semakin besar,” ujar Imam Besar FPI ini.

Lalu, kedua, apabila musibah tersebut menimpa seorang muslim yang baik tapi masih terjebak dalam dosa, maka musibah itu merupakan peringatan baginya. Peringatan itu, kata Habib, diberikan agar ia segera bertaubat kepada Allah.

“Ternyata musibah itu bisa menghapus dosa,” ujar Habib dengan suara agak serak.

Terakhir, katanya, apabila musibah itu menimpa orang yang tidak ada kebaikan dalam dirinya, maka musibah itu menjadi siksaan. Ia mengharapkan mudah-mudahan musibah besar seperti tsunami tidak lagi terjadi di Aceh. Biarlah cukup sekali terjadi dan mudah-mudahan kita masuk golongan pertama. [admin]


No comments

Powered by Blogger.