Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   
Home » » Sifat Dua Macam Bentuk Ulama Menurut Imam Al-Ghazali

Sifat Dua Macam Bentuk Ulama Menurut Imam Al-Ghazali


RASULULLAH shallallahu alaihi wasallam bersabda "ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama." (HR ad-Darimi).

Berikut adalah tentang ulama busuk/ buruk (al-ulama al su') Imam Ghazali membahasnya dalam kitab Ihya' Ulumiddin, yang membagi ulama dalam dua bentuk kategori, Ulama Akherat dan Ulama Dunia. Yang pertama adalah ulama pewaris Nabi, warasat al-anbiya. Sedangkan yang kedua adalah Ulama su' (jahat).

Mereka inilah yang mempergunakan ilmunya untuk mendapatkan kepuasan duniawi, termasuk menjadikannya tangga untuk meraih pangkat dan kedudukan. Sementara itu, ulama akherat adalah ulama yang sadar betul akan ilmu yang dimilikinya.


Ciri-ciri Ulama' Akhirat

Inilah dia ulama yang haq, ulama pewaris Nabi, yakni ulama yang benar-benar beramal dengan Al-Quran dan Sunnah, disebut juga ulama ul 'amilin. Umumnya mereka ini banyak di zaman salafussoleh. Karana itu kita sebutkan mereka ulama salafussoleh. Yang mana selepas generasi mereka, cukup sulit untuk dapatkan ulama yang haq ini.

Ada juga tetapi tidak banyak, boleh dihitung dengan jari, mereka juga dinamakan 'ulama Akhirat' (karena mereka dapat menggunakan kesempatan dunia untuk Akhirat). Sekaligus dunia tidak dapat menipu mereka. Di akhirat mereka akan jadi orang yang menang yakni jadi orang besar dan orang kaya Akhirat, insya Allah. Merekalah yang Rasulullah SAW maksudkan:

Para ulama itu pewaris para nabi (riwayat Abu Daud dan At Tarmizi), merekalah yang mengambil tugas nabi-nabi di zaman tidak ada nabi. Mereka bagaikan obor di zamannya dan pribadi mereka adalah bayangan dari pribadi Rasulullah SAW.

Dalam Al-Quran disebutkan :
"Istiqomah aqidah, ibadah, akhlak dan dakwahnya, takutnya hanya pada Allah" (QS Al Anbiya 28).

"Senangnya berjamaah ke masjid, lembut tutur katanya, bicaranya hikmah yang mengajak hijrah menuju Allah, tegas menyampaikan yang haq, tampak sekali kerendahan hatinya, wajahnya murah senyum bercahaya, ikhlasnya mengajar tanpa minta upah apalagi bertarif. Ikutilah mereka yang berdakwah yang tidak minta upah, merekalah hamba-hamba Allah yang mendapat hidayah Allah” (QS Yasin 21).

Menerima upah dari berdakwah juga tidak apa-apa asalkan tidak meminta-minta bayaran (pasang tarif). Rasulullah bersabda : Dari Ibnu as Sa’idy al Maliki, bahwasanya ia berkata:

“Umar bin Khattab ra mempekerjakanku untuk mengumpulkan sedekah. Tatkala selesai dan telah aku serahkan kepadanya, ia memerintahkan aku untuk mengambil upah.” Lalu aku berkata: ”Aku bekerja hanya karena Allah, dan imbalanku dari Allah.” 
Lalu ia berkata: “Ambillah yang telah aku berikan kepadamu. Sesungguhnya aku bekerja di masa Rasulullah saw dan mengatakan seperti apa yang engkau katakan. Lalu Rasulullah saw bersabda kepadaku: “Jika aku memberikan sesuatu yang tidak engkau pinta, makanlah dan sedekahkanlah.” (HR. Muslim).

Hadits di atas juga menunjukkan bolehnya menerima upah yang tidak dimintanya, karena upah ini memang sudah menjadi hak bagi seorang da’i.
“Tsiqqoh” kuat menjaga janji, “wara” sangat takut dan berhati-hati dengan Hukum Allah.

Siang malam memikirkan umatnya, umatnyapun selalu ia sertakan dalam doanya terutama setiap tahajjudnya di penghujung malamnya, iapun sibuk berikhtiar untuk keberkahan keluarga dan dakwahnya, keluarganyapun sakinah dan uswah hasanah, kuatnya silaturrahmi.

Penghormatan pada perbedaan pendapat, memaafkan pada mereka yang menyakitinya, jauh dari sifat dengki bahkan ia senang untuk selalu belajar, mengaji dan berguru lagi (QS Ali Imran 79).

Dakwahnya selalu berisi seruan untuk meraih kehidupan akhirat, tidak membicarakan bagaimana mendapatkan kesejahteraan dunia, sederhana dan menjaga jarak dengan penguasa.

Tidak menganggap majelis yang beliau pimpin paling baik, tidak menjelek-jelekkan majelis yang dipimpin ulama' lain dan tidak memusuhi umat Islam yang berbeda pendapat karena mengingat Firman Allah Ta'ala.

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara." (QS. Al Hujuraat: 10)


Ciri-ciri Ulama' Dunia (Ulama' Su')

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistilahkan mereka ulama su’ dengan sebutan “para dai yang berada di tepi pintu-pintu neraka”. Beliau peringatkan kita dari keberadaan mereka sebagaimana dalam sabdanya, “… Dan sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku ialah para ulama-ulama yang menyesatkan.” (H.R. Abu Daud dari sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu).

Berikut ciri-ciri ulama' jahat :

Sebaliknya, ulama dunia atau ulama su' selalu menginginkan kekayaan (hidupnya bermewah-mewah) dan kehormatan duniawi. Celakanya, mereka tidak segan-segan berkhianat pada hati nurani, asalkan tujuan mereka tercapai.

Dalam kenyataannya, ulama tersebut bergaul bebas dengan raja-raja dan pegawai pemerintah, penguasa, serta memberikan sokongan moral terhadap tindakan mereka, tak peduli baik atau buruk.

Terkait dengan ulama su', ada ilustrasi menarik yang dipaparkan Ibnu Mas'ud : 
"Kelak akan datang suatu masa tatkala hati manusia asin ; ilmu tidak bermanfaat lagi. Saat itu, hati ulama laksana tanah gundul dan berlapiskan garam. Meski disiram hujan, namun tidak setets pun air tawar nan segar dapat diminum dari tanah itu."

Dalam dakwahnya mereka membicarakan tentang meraih kesejahteraan dan kebahagiaan dunia bukan bagaimana caranya meraih kesejahteraan di akhirat. Berdakwah jika hanya ada upahnya. Kalau tidak ada upah enggan untuk berdakwah. Agar terhindar dari hasutan ulama' Su' hendaknya kita senantiasa berdoa dan belajar Islam kepada para Ulama' Akhirat dengan ciri-ciri di atas.

Kitab ternama "Ihya Ulumuddin" (menghidupkan ilmu-ilmu agama) ditulis Ghazali di antaranya sebagai counter terhadap upaya ulama su' yang memadamkan ilmu-ilmu agama.

Di awal kitab Ihya' Al-Ghazali memprihatinkan situasi saat ilmu-ilmu agama terancam padam. Penyebabnya banyak ulama yang mestinya menjadi pewaris Nabi justru gagal mengemban misi mulianya tersebut.

Menurut Al-Ghazali, umat dibikin untuk percaya bahwa fatwa yang absah hanyalah "fatwa al hukumah" fatwa resmi ulama dari pemerintah sedangkan yang lain bukan. Sehingga umat pun juga dibikin terperdaya oleh ulama yang berdebat bukan demi ilmu, tapi demi keelokan pada publik dan pangkat.

Umat juga dikelabui oleh mereka yang mahir berpetuah agama padahal hanya demi mengejar publisitas, harta atau pangkat. Hal-hal di ataslah yang menyebabkan ilmu-ilmu keislaman justru meredup. Atas dasar itulah Ghazalu menulis kitab Ihya Ulumiddin tersebut.

Imam Ghazali mengkontraskan antara ulama su' dengan ulama akhirat, yang terakhir itulah ulama sejati. Sebelum membahas pandangan Ghazali ttg ulama su', ada baiknya kita bahas dulu tentang posisi ulama dlm Islam.

Ulama, bentuk plural dari 'alim, sejatinya punya posisi sangat mulia, karena perannya sebagai pewaris dari misi kenabian. Posisinya jauh lebih tinggi di mata Allah dibanding 'abid (ahli ibadah). Ibadahnya Ulama lebih bermutu.

Ada hadist masyhur, barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan menjadikannya betul-betul faham akan agama. Al-Qur'an bahkan menyebut bahwa yang punya khasyah (takut) pada Allah hanyalah ulama.

Dengan kata lain, ulama, karena ilmunya, adalah golongan yang punya posisi amat mulia di mata Allah. Tapi siapa menentukan seseorang sebagai ulama? Inilah soalnya.

Dalam islam (khususnya sunni), tidak ada otoritas religius tunggal resmi. Tidak ada otoritas religius tunggal resmi yg memutuskan status keulamaan seseorang. Ini beda dengan doktor/ profesor yang diotorisasi universitas atau hakim yang diangkat negara. dan

Ulama itupun tidak harus disyaratkan dengan jenjangan diploma, sarjana atau SK (surat keputusan). Siapapun yang punya kualifikasi keilmuan Islam, dan mendapat pengakuan masyarakat secara nominal bisa disebut ulama. Masalahnya, mereka yang disebut atau menyebut diri 'ulama' bisa saja tak benar-benar ulama. Di sini bahasan Ghazali tentang ulama su' jadi penting. 

Menurutnya ada beberapa ciri pokok yang menandai ulama su', ada 3 ciri menonjol :

Pertama, ulama yang menjadikan keulamaannya sebagai komoditas untuk mendapatkan harta duniawi. Al-Ghazali mengutip, misalnya, Imam Hasan: siksaan buat ulama adalah matinya hati mereka jadikan amalan akhirat demi memburu dunia.

Kedua, ulama yang dengan keulamaannya merapat ke pemimpin yang zalim dan melegitimasinnya. Menurrt Ghazali, orang beragama harusnya menentng kezaliman si pemimpin. Kalau tak mampu, menyingkir dari mereka.
Tapi oleh ulama su' tersebut mendekat ke penguasa zalim, demi harta dan jabatan. Dengan melegitimasi mereka, ulama justru bersekutu dengan kezaliman.

Kata Ghazali, si ulama bisa saja merasa dengan mendekat ke sang penguasa dengan niat menjadikannya orang saleh. Si ulama mengkhayalkan bahwa upayanya untjuk 'nempel' penguasa zalim itu demi perjuangan agama.
Namun begitu sudah jadi bagian dari sistem si penguasa lalim, sang ulama jadi melunak dan menyokongnya. Dalam situasi demikian, kata Ghazali, "wa fihi halak al din". disitulah letak hancurnya agama.

Ketiga, begitu mudahnya mereka mengeluarkan fatwa, demi kepentingan materi atau politik duniawi. Ulama akhirat, menurut Ghazali, akan sangat berhati-hatu untuk berfatwa.Tapi ulama su' justru mengumbarnya, demi motif duniawi.

Nah, tiga hal diatas ini mengejar dunia, pemberi legitimasi pemimpin lalim, dan obral fatwa, itulah ciri ulama busuk. Sebagai pelajaran apa yang bisa kita petik dari pandangan Ghazali tentang al ulama' al su'?

Menurut Imam Ghazali, keulamaan bukan semata-mata soal kemahiran ilmu agama, tapi terutama integritas moral dan kemurnian hati. Kecaman Ghazali thd ulama su' menegaskan, tak semua yang berlabel 'ulama' benar-benar punya kualifikasi keulamaan.

Secara teoritis. ulama memang amat mulia di sisi Alla. Tapi kenyataannya, yang bergelar ulama bisa saja sama sekali tak mulia, tapi busuk. Ulams su' di mata publik bisa saja tetap dianggap ulama, tapi sejatinya mereka palsu, itulah yg dikecam keras Ghazali.

Dari sini umat belajar untuk bersikap kritis dan tidak mudah terkecoh dengan penampilan luar suatu lembaga agama. Kalau mengkritik lalu mereka yang disebut ulama, tak lantas itu melecehkan ulama yang menafikan keadaban bahkan hingga menghina Islam.
Al-Ghazali mengecam keras banyak ulama pada zamannya yang mnrtnya su'. Tak lantas Ghazali menghina Islam. Justru dengan begitu Al-Ghazali menyelamatkan ulama dari diri mereka sendiri. 

Pada saat yang sama, kita mengharap ulama betul-betul jadi ulama akhirat yang mampu menampilkan diri sebagai waratsatul anbiya'. Ulama akhirat, mereka yang bukan hanya punya kualifikasi keilmuan, tapi jg moral dan spiritual, itulah ulama yang harus kita hormati. [admin]

Saduran :
Berbagai sumber & referensi

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2014 MudhiatulFata. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger