(Video) Kisah Nabi Khidir, Keberkahan Ibadah sampai 7 Turunan & Baluqiya Menuju Tepi Bumi


Mudhiatulfata.net - Banyak sudah kisah-kisah yang menjadi teladan bagi umat untuk diterapkan dalam kehidupannya. Termasuk pula kisah tentang Nabi Musa 'alaihissalam yang berkeinginan untuk belajar kepada Nabi Khidir ' alaihissalam sangat sering disampaikan oleh para guru, ustadz dan kiai di berbagai forum ilmu pengetahuan. 

Sesuai isi dari kitab tafsir Al-Qur'anul 'Adhim, Imam Ibnu Katsir, Hadiqatul Auliya', Syaikh Tajudin Naufal. Adapun mengenai kisah ini, dikisahkan dalam sebuah perjalanan Nabi Musa sampai tiga kali mempertanyakan perbuatan Nabi Khidir yang dinilainya melanggar syariat Allah. Pada akhir perjalanannya, Nabi Khidir menjelaskan perihal perbuatannya tersebut. 

Salah satu perbuatan yang dipertanyakan itu adalah mana kala Nabi Khidir membangun sebuah rumah yang hampir roboh di sebuah desa. Nabi Musa hadapi Nabi Khidir untuk meminta upah kepada penduduk desa atas kesediaannya menegakkan kembali dinding rumah yang hampir roboh itu. Lepas dahulu saat kedua nabi itu ada desa tersebut dan meminta makanan kepada penduduknya mereka menolak memberi makanan tersebut. 

Dalam hal ini Nabi Khidir menjelaskan pembinaan oleh Al-Qur'an dalam Surat al-Kahfi ayat 82 yang artinya sebagai berikut :

"Seperti tembok rumah yang hampir roboh itu adalah milik dua anak yatim di desa itu di mana di bawahnya ada simpanan harta bagiandum. Orang tua kedua anak itu adalah orang yang saleh. Maka Tuhanmu berkehendak nanti untuk mencapai dewasa dan akan mengeluarkan harta simpananya."

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya tersebut menjelaskan kedua anak yatim itu dijaga karena kesalehan orang tuanya dan tidak ada kesalehan kedua anak itu. Antara kedua anak yatim dan orang tua yang saleh itu ada selisih tujuh generasi leluhur. Jadi yang dimaksud "orang tua yang saleh" pada ayat tersebut adalah kakek pada generasi urutan ketujuh dari anak yatim tersebut, bukan orang tua yang sedang melahirkan.

Ayat tersebut juga menunjukkan seorang yang saleh akan dijaga keturunannya dan keberkahan ibadahnya akan masuk mereka di dunia dan akhirat. Dengan syafaatnya di akherat kelak akan turun derajatnya di surga sampai derajat tertinggi sehingga bisa menjadi kebanggaan bagi orang yang saleh tersebut.

Dalam hal ini Tajudin Naufal dalam Hadiqatul Auliya ' -nya mengatakan, kapan ketakwaan kakek yang ketujuh saja bisa memberikan kemanfaatan bagi keturunannya yang ke tujuh, lalu bagaimana pendapat kita dengan ketakwaan orang tua kandung? Tak bisa disangkal, pohon yang baik pasti berbuah baik. Orang yang tidak akan berhenti dan tetap kekal dengan permohonan Allah Ta'ala.

Dari inilah banyak para ulama yang menganjurkan kepada para orang tua untuk terus giat dan istiqamah dalam beribadah. Karena keberkahan ibadah itu tidak hanya akan dinikmati oleh diri sendiri tapi juga oleh anak-anak keturunannya baik di dunia maupun di akherat kelak. 

Adapun mengenai kisah Baluqiya akan kita saksikan seperti yang tersebut dalam video di bawah ini. Akan diketahui bagaimana ia menemukan pinggiran bumi dan penduduk selain umat manusia. 


Luangkan waktu Anda sejenak dan cerita ini seperti dongeng sebelum tidur, dan besar kemungkinannya bahwa kisah ini adalah Israiliyat. 

Namun begitu, ini telah diriwayatkan di dalam kitab “Bada’izhuhur” yang banyak menceritakan mengenai kisah para nabi, dari Adam alaissalam  hingga nabi Muhammad SAW. Dan dalam kitab tersebut juga sangat lengkap membahas mengenai seluruh hal yang diluar batas pikiran kita. []
Powered by Blogger.