GMPQ-MA Sesalkan Pengajian Menyimpang di Mesjid RSUD-ZA yang Masih Berlanjut Cemarkan Nama Baik Aceh

Aktiviats pengajian yang meresahkan di mesjid RSUD-ZA

Mudhiatulfata.net, Banda Aceh - Aktivitas pengajian di Mesjid Raudhatul Jannah RSUD-ZA yang meresahkan warga dan sempat diprotes jamaah, ternyata hingga detik ini masih tetap berlanjut. Hal tersebut disesalkan tim Gerakan Masyarakat Pengawal Qanun Meukuta Alam (GPMQ-MA) Aceh, karena dianggap sebagai sebuah kesengajaan atau pembiaran oleh para pejabat RSUD-ZA selaku pihak yang bertanggungjawab.

Tim GMPQ-MA selaku organisasi yang mewakili masyarakat peduli akidah bangsa Aceh mengatakan bahwa pengajian itu sangat meresahkan masyarakat dan dianggap telah mencemarkan nama baik Aceh yang notebennya penganut  akidah Ahlussunnah Waljamaah Asy’irah Asyyafi’iyah sejak masa Kesultanan Aceh dulu, tapi kini ada pihak-pihak yang dengan sengaja mencoba menggantikan dan mendangkalkannya.

Tgk Muzailin dengan lambang GMPQ-MA Aceh
“Sebenarnya kami sudah beberapa kali berupaya berkomunikasi mencari solusi dan ingin mengklarifikasikannya kepada pihak RSUD-ZA, namun sikap dari RSUD-ZA yang terkesan menunda-nunda kami anggap tidak transparan dan kooperatif.” Demikian beber Tgk Muzailin, ketua seksi pendidikan dan dakwah Tim GMPQ-MA kepada Mudhiatulfata.net  (Kamis, 4/10/2018).

Lebih lanjut Tgk Muzailin menjelaskan, upaya yang telah ditempuh pihaknya baik via Whatsapp maupun dalam bentuk surat resmi dilayangkan khusus kepada Direktur RSUD-ZA namun jawaban yang ditunggu justru mengecewakan dan tidak memuaskannya. Bahkan pihak RSUD-ZA berdalih meminta keakuratan data yang dituduhkan masyarakat, sebagaimana yang disebutkan dalam surat dibawah ini.


Sementara berdasarkan sumber dari sejumlah warga yang berdomisili di sekitar komplek RSUD-ZA mengakui mesjid dimaksudkan itu telah terjadi aktivitas pengajian yang suka mempertentangkan khilafiah oleh para Asatidz Wahabi, dan sengaja menyebarkan pahaman akidah yang bertentangan dengan ushuludin agama Islam Ahlussunnah Waljamaah yakni akidah yang dianut mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia.
  
Bila merujuk pada aturan fatwa dan qanun di Bumi Serambi Mekkah ini maka bentuk pengajian yang disebarkan di RSUD-ZA itu adalah salah satu contoh dari ajaran sesat yang dimaksudkan dalam Fatwa MPU Aceh Nomor 09 Tahun 2014 dan Qanun Pemerintahan Aceh nomor 11 tahun 2002. Atas dasar itulah tim GMPQ-MA siap membantu dan menfasilitasi masyarakat umat islam Aceh yang telah dirugikan.

Baca juga :


Rujukan kepada aturan Fatwa MPU dan qanun pemerintah Aceh

Sebagaimana telah termaktub dalam fatwa MPU Aceh Nomor 09 Tahun 2014 di antaranya : 
-Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 Poin ke 7: Aqidah adalah Aqidah Islamiah menurut Ahlussunnah Waljamaah. 
-Bab II Fungsi dan TujuanPasal ke 2 Poin a: Membina dan memelihara keimanan dan ketaqwaan individu dan masyarakat dari pengaruh ajaran sesat.
-Bab III Pemeliharaan Akidah,
Pasal 4 (1) Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota dan institusi masyarakat berkewajiban membimbing dan membina aqidah umat serta mengawasinya dari pengaruh paham dan atau aliran sesat. (2) Setiap keluarga/ orang tua bertanggung jawab menanamkan aqidah kepada anak-anak dan anggota keluarga yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Pasal 5
(1) Setiap orang berkewajiban memelihara aqidah dari pengaruh 
paham atau aliran sesat.
(2) Setiap orang dilarang menyebarkan paham atau aliran sesat.
(3) Setiap orang dilarang dengan sengaja keluar dari aqidah dan atau menghina atau melecehkan agama Islam. 
Fatwa MPU Aceh tersebut jelas telah menerangkan bahwa ada 4 poin di aqidah dan lima poin di ibadah yang ajarannya bertentangan dengan ajaran agama Islam.
Empat poin di aqidah yang sesat yakni mengimani zat Allah hanya di atas langit (Arasy), mengimani zat Allah terikat dengan waktu, tempat dan arah, mengimani kalamullah itu berhuruf dan bersuara dan mengimani Nabi Adam AS dan Nabi Idris AS bukan Rasulullah.

Sedang mengenai ibadah yang tidak sesuai yaitu membolehkan niat salat di luar takbiratul ihram, mengharamkan baca qunut pada shalat Subuh, mengharamkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, haram berzikir dan berdoa berjama’ah, serta wajib mengikuti hanya Alquran dan hadist dalam bidang aqidah, syariah dan akhlak.

Sebegaimana yang dikabarkan situs laduni.id Agustus lalu, kronologis konflik awal terjadi penyimpangan saat shalat Subuh sang Imam sengaja tidak memakai Basmallah padahal jamaah mayoritas bermazhab Syafi'i. Setelah shalat lalu dipertanyakan jamaah kenapa tidak menghargai perbedaan dalam jamaah.

Hingga kemudian suasana menjadi tak kondusif ketika salah seorang ustadz dari Wahabi mempertanyakan “ikut nabi atau ulama?” 
Kemudian jamaah merebut microphone dan mematikannya sebagai upaya meredam kondisi yang semakin memanas dan gaduh lalu beberapa tokoh agama setempat dalam jamaah mengajak berdiskusi. 
Namun yang terjadi ternyata sang ustadz dimaksud bukannya duduk menjawab baik-baik ajakan berdiskusi tapi malah kabur dari pintu belakang. Hingga waktu berganti hari dan bulan ternyata aktivitas pengajian yang diprotes masyarakat Aceh itu masih tetap berjalan hingga sekarang. [yma]

No comments

Powered by Blogger.