Bagaimanakah Akidah lslam Erdogan dan Negara Turki?



Mudhiatulfata.net - Menarik jika mengutip sebuah artikel di status Facebook yang berbicara tentang eksistensi seorang pemimpin Turki yang bernama Thayib Erdogan kini tengah sangat mendapat hati pada rakyatnya atas keberhasilan membawa dan menghidupkan kembali lslam di Turki.

Erdogan pun kini dielu-elukan sebagai pemimpin dengan sejuta prestasi lainnya, tentu saja tak pula menafikan segala kekurangannya selaku manusia.

Uniknya lagi, sosok Erdogan yang ternyata berakidah Aswaja (bertauhid Imam Asy’ari) tapi menjadi idola bagi sebagian kelompok Wahabi. Lalu apakah memang memang ada kaitannya ia dengan Wahabi atau sedang menjalankan tipu muslihat ala taqiyahnya Wahabi, sehingga ada yang mencurigai dan menuduhnya sebagai Wahabi?

Jawabannya tentu tidak, tidaklah demikian karena yang mengatakan demikian hanyalah sebagian orang yang takut akan eksistensi Erdogan dalam perpolitikan kekinian tentunya banyak mendapatka lawan politik yang siap saling menjatuhkan.

Di samping itu ada pula kekhawatiran negara-negara di Teluk Persia (Iran) dan juga Israel. Namun Iran menganggap Turki yang kini berada di bawah Erdogan adalah sekutunya Barat.

Kekhawatiran Iran pun semakin kuat kepada Turki hingga ingin membendungnya. Dan menurutnya, Turki adalah bagian dari Sekutu Barat daan dekat dengan Arab Saudi maka patut dijuluki sebagai pembela Wahabi. 
Kalau mau dirunut ke sejarah perkembangan Islam dan timbulnya Syi'ah (dengan wilayah Persia) maka ada kisah miring dan terkoneksikan dengan kebesaran kekhalifahan Turki Usmani.

Sementara di sisi lain ada juga kekhawatiran Israel pada Turki, karena melihat Turki kian tampil eksis dengan keislamannya dan mengalahkan sekulerisasi di negerinya dan itu dapat mengancam ekisistensi peran Zionisme Israel. Apalagi bila Turki rekon benar-benar kembali pada kejayaan lslam seperti masa Khilafah Turky Utsmani dahulu.

Maka dari sini emej negatif kepada Turki kian dikembangkan oleh para pembenci-pembencinya terutama kepada Erdogan sendiri.

Akan tetapi ketakutan yang menuduh Erdogan tersebut meski berdasar, namun tetap tidak tepat karena Erdogan adalah seorang penganut Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja Sufiah dengan konsep tauhid Asy'irah). Dan salah seorang beliau guru adalah Syeikh DR. Wahbah Zuahaily (almarhum).
Lebih khusus, Erdogan juga diketahui sebagai pengikut Tareqat Naqsyabandiah yaitu suatu ajaran Sunni Shufi yang banyak dipraktekkan oleh penduduk lndonesia seperti NU dan lain-lain.

Ternyata Turki itu didominasi oleh kultur Naqsabadiyah, sebuah aliran dari kaum Shufi pengikut mazhab Hanafi, dan secara umum rakyat Turki yang beragama islam adalah berakidah mengikuti Asy'ariyah dan Maturidiyah. Sama dengan aliran Aswaja yg di Indonesia diwakili salah satunya oleh NU dan Muhammadiyah.
Sedangkan awal Erbakan dengan Partai Refah-nya, dilanjutkan kemudian oleh Erdogan dengan AKP-nya berafiliasi dan di back-up utamanya oleh komunitas Naqsabandi.

Saat Erdogan menjadi Perdana Menteri, Presiden Turki adalah teman separtainya yaitu Abdullah Gul. Nah, Abdullah Gul ini adalah cucu seorang Mursyid Naqsabandi. Secara gerakan politik dan manajemen gerakan, mereka berafiliasi ke Ikhwanul Muslimin (IM).
Namun secara tradisi keagamaan mereka Aswaja tulen, dan kemungkinan keaswajaan Erdogan akan dibantah oleh orang-orang NU yang pro liberal dan sekuler.

Sementara tentang Ikhwanul Muslim (IM), pada awalmya mengadopsi thoriqoh juga, karena IM didirikan oleh orang-orang pengamal thariqoh. Semisal : Hasan Al-Banna (pengamal Syadziliyah Hasofiyah), Dr. Abdul Halim Mahmud (pengamal Syadziliyah hasofiyah), Said Hawwa (pengamal Rivaiyah), dan lain-lain.

Ternyata di Turki telah terjadi "perkawinan langgeng" antara komunitas islam tradisional pengamal Naqsabandi dan IM.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa IM di Indonesia dan di belahan dunia lainnya tidak sama lagi dengan IM awal berdirinya dan cenderung kemasukan faham takfir (suka mengkafirkan)?

Jawabannya adalah Karena di IM itu sendiri, secara prinsip juga terbuka, jika suatu gerakan bisa menyetujui atau memenuhi "20 Prinsip Ikhwan", maka dia bisa mengadopsi konsep IM tersebut.

Dan memang jika dicermati, dari 20 prinsip ikhwan tersebut, tidak ada yang bertentangan dengan prinsip Aswaja. Bahkan di salah satu prinsip tentang tawasul.

Hasan Albanna sebagai pendiri pernah menyatakan bahwa tawasul dengan orang yang sudah wafat itu adalah " khilafiyah dalam fiqh cara berdoa", bukan masalah aqidah, karena itu harus dapat menghormati dan terus menggali dasar-dasarnya".

Masalah khilafiah dikesampingkan dalam IM, mereka menampung semua aliran. Ruh IM ini khas sekali terasa penganut Shufism yg memang tidak menyoalkan permasalahan Khilafiyah tersebut.

Sehingga tidak tertutup kemungkinan IM pun kemasukan aliran yg berbeda jauh dr faham pendirinya. Mungkin, bisa jadi mereka yg berfaham baru dan merasuk di tubuh IM belakangan inipun banyak pula yg tidak menyadari bahwa tools-tools yg dipakai dalam materi-materi tarbiyah-nya adalah tools tasawuf.

Nah, kembali ke Erdogan. Erdogan dan partai AKP kenapa begitu kuat di Turki? Sebab dibelakangnya di back-up oleh para syaikh-syaikh dan mursyid thoriqoh yang secara tradisional mendominasi wajah keagamaan di Turki.

Jangan harap sebuah partai bisa besar tanpa didukung oleh dominasi kaum tradisional di negaranya. Makanya, NU dan Muhammadiyah amatlah seksi diperebutkan ketika pemilu. Bahkan kalau nggak bisa dikuasai, para politisi itu berharap mereka pecah berkeping-keping.

Jadi, Wajar saja wibawa pemerintahan Erdogan benar-benar terang meski diterpa berbagai isu yg tidak ringan yg berupaya menggoyang kekuasaannya. Apalagi ditambah dgn manajemen gerakan yg rapi ala IM.

Ini salah satu video kedekatan hubungan komunitas mereka dengan pengamal Thoriqot Naqsabandiyah :
https://m.youtube.com/watch?v=VhfnHKgF-yw

Sekarang bisa dimengerti ternyata Erdogan juga memiliki pemujanya dari kubu Aswaja di samping juga ada pemujanya dari kubu Wahabi.

Persoalannya adalah, rata-rata pengagum Erdogan di Indonesia berdasarkan pengamatan merupakan orang-orang yang anti Thoriqoh atau disebut juga dengan kaum Wahabi, karena mereka menganggap pengamal Thoriqoh itu pelaku bid'ah, tahayyul, syirik, khurofat, kuburiyyun dan sejenisnya.

Lalu, akankah para pemuja Erdogan dari kubu Wahabi kelak akan kecewa bila menyadari bahwa Erdogan benar-benar Aswaja tulen?

Semoga kepemimpinan Erdogan dan keislaman Aswaja akan benar-benar tercapai dan jaya. Amin.

Penulis : YMA

No comments

Powered by Blogger.